
Mayra menatap nanar apa yang baru saja terjadi, di satu sisi dia bersyukur Zahra baik-baik saja, di satu sisi dia sudah mendapatkan jawaban atas kejadian semalam. Senyum kecutnya mengembang, Kawa bukan untuknya. Sudah jelas jika Zahra adalah gadis yang dipilih oleh Kawa. Mayra segera beranjak dari tepi danau, meninggalkan semua alat pancing yang tadi dia gunakan dan teman-temannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tania memastikan, raut wajahnya tak lagi secemas tadi, dia melihat Zahra sudah bisa meresponnya.
"Tidak apa-apa" Zahra nampak kedinginan.
"Mari aku bantu untuk berganti baju" Tania menawarkan.
"Tolong ambilkan bajuku di tas, aku bisa sendiri mengganti pakaianku" pinta Zahra. Dengan segera Tania mengambilkan baju ganti untuk Zahra.
Kawa juga sudah meninggalkan tenda Zahra selepas dia mengantar Zahra, dia juga berganti baju karena bajunya basah kuyup.
Mayra menyusul Zahra dan Tania.
"Kamu tidak apa-apa?" Mayra melihat Zahra yang sudah berganti baju. Zahra menggeleng.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, maaf ya mengacaukan acara kamu jadinya" Zahra meminta maaf pada Mayra, Mayra menggeleng, dia duduk di depan Zahra lalu memeluknya.
"Harusnya aku yang minta maaf, tak seharusnya mengajak memancing pagi-pagi"
"Nggak apa-apa, lagian aku baik-baik saja" Zahra mengusap punggung Mayra.
Tania mengulurkan segelas teh hangat untuk Zahra.
"Terima kasih" Zahra meneguk minuman yang diberikan Tania agar bisa menghangatkan dirinya.
Zahra memang tak pandai berenang, tapi kejadian tadi benar-benar membuatnya shock, tidak seharusnya dia tercebur ke danau, tidak seharusnya Kawa menolongnya tadi. Apakah kini Mayra baik-baik saja? tidak ingin dia melihat Mayra cemburu melihat Kaw menolongnya tadi.
***
"Maaf" ungkap Mayra dengan wajah cerianya, dia mampu menyembunyikan apa yang terjadi dalam hatinya. Seperti biasa, dia nampak ceria.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Kawa sesaat setelah mematikan mesin motornya, dia baru saja mengantar Mayra pulang. Kawa tak cukup pandai menebak isi hati seseorang, terlebih seorang perempuan. Dia melihat Mayra baik-baik saja dan seperti kemarin-kemarin yang ceria.
"Untuk tadi malam" Mayra masih tersenyum.
"Semalam?" Kawa nampak berpikir.
"Iya, lupakan kejadian semalam dan anggap saja nggak pernah terjadi" pinta Mayra, andai dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tidak ingin dia mengutarakan perasaannya pada Kawa, lebih baik dia memendamnya saja.
"Harusnya aku yang meminta maaf" Kawa akhirnya memberikan jawaban. "Terima kasih sudah menjadi teman yang baik" Kawa tersenyum, dia memegang tangan Mayra. "Tetaplah jadi adik, teman, dan sahabat yang baik". Itu adalah rangkaian kata terbaik yang bisa dia katakan, dia sendiri tidak begitu paham cara memahami perempuan. Sedikit banyak dia tahu arah pembicaraannya kini, Mayra sedang membahas tentang tadi malam saat Mayra mengungkapkan perasaan padanya.
"Mengapa kamu tidak pernah mengatakannya?" Mayra masih bisa tertawa kecil di hadapan Kawa meskipun hatinya terasa hancur berantakan. "Mengatakan jika kamu menyukainya?"
"Huhm?" Kawa mengangkat kedua alisnya.
"Iya, Zahra kan orangnya? jangan pura-pura dan jangan bohong padaku, paham?. aku akan membantumu setelah ini, tapi sekarang pulanglah, badanku terasa lelah, aku mau istirahat"
"Istirahatlah, jangan kau pikirkan itu" Kawa mengelus pundak Mayra. Kawa tak ingin memperpanjang pembahasan ini.
Mayra melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya, hatinya porak poranda, dia merebahkan badannya di atas sofa kamar. Pak Broto yang mendapati putrinya pulang segera menyusul ke kamar anaknya.
"Oh putri Papa sudah pulang, apa harimu menyenangkan?" Pak Broto melihat Mayra terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Dia mendekati Mayra, Mayra mengusap air matanya dan melihat ke arah Papanya.
"Aku bahagia Papa, terima kasih sudah mengizinkan aku merayakan ulang tahun di luar sama teman-teman" Mata Mayra masih basah.
"Kamu kenapa? apa ada yang menyakitimu? bilang Papa" Pak Broto gusar, tidak biasanya Mayra menangis, putrinya itu selalu tersenyum ceria dan hampir tidak pernah menangis. Mayra menggeleng, Papanya datang ke kamarnya di saat yan tidak tepat.
"Bilang ke Papa, siapa yang menyakitimu, Papa akan buat perhitungan" Pak Broto benar-benar sangat marah. "Siapa yang mengantar kamu pulang?"
Mayra masih terdiam, tidak ingin membuat Papanya bertambah marah.
"Siapa?" ujarnya dengan nada agak tinggi.
__ADS_1
"Kawa..." jawab Mayra lirih. Pak Broto menghela nafas panjang, bisa saja Kawa lah yang membuat Mayra menangis.
"Apa dia yang membuat kamu menangis?" Pak Broto mencecar, Mayra terdiam. Kedua tangannya mengepal.
"Bukan Pa...bukan dia, aku sendiri yang membuat luka ini" ujarnya, kini dia tak bisa lagi menghalangi air bening yang keluar dari pelupuk matanya. Pak Broto melihat putrinya dengan pandangan iba.
"Kenapa?" suara Pak Broto merendah, dia tidak ingin menambah luka di hati putinya itu. Tak ada jawaban dari Mayra. "Kenapa? apa kamu jatuh cinta padanya?" tebaknya. Mayra tidak menjawab, air matanya semakin deras, ini bukan masalah jatuh cintanya, dia merasa menyesal sudah mengutarakan perasaannya tadi malam.
"Sudah Papa katakan, jangan pernah jatuh cinta pada orang yang tida selevel dengan kita, jadinya begini kan? dia tidak akan bisa membuatmu bahagia" Pak Broto berbicara panjang lebar. "Carilah yang sepadan dan bisa membahagiakanmu putriku sayang" Pak Broto mengelus kepala Mayra. Mayra tak bisa mengatakan apapun, Papanya sungguh tak memahami apa yang dia rasakan.
***
Baru saja Kawa masuk ke dalam toko, Pak Broto dengan brutal memanggilnya. Wajahnya sedang tidak baik-baik saja, memperlihatkan kemarahan, mungkin kepalanya berasap jika bisa dilihat dengan mata telanjang.
Tak perlu lagi dia memanggil Kawa ke ruangannya, dia sudah meledak begitu saja di toko. Untung saja toko sedang sepi.
"Apa yang kamu lakukan pada putriku? hah?" teriaknya, Kawa melihat kemarahan bosnya tersebut, dia belum mengatakan apapun. Dan lebih memilih mempersilahkan bosnya mengeluarkan kemarahannya itu.
"Seumur-umur jarang aku melihatnya bersedih, kenapa kamu membuatnya menangis?" Pak Broto menunjuk Kawa dengan telunjuknya, dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Rendra yang berada di pojok toko sampai terdiam melihat Kawa dimarahi oleh Pak Broto.
"Kini dia sakit, dan kamu tahu....aku berjuang mati-matian untuk putriku agar sakitnya sembuh, kini kamu malah menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam!"
"Maaf bos? Mayra sakit?" Kawa cemas saat mendengar Mayra sakit.
"Tidak perlu kamu sok cemas menanyakan itu, yang jelas kamu yang menyakitinya bukan?"
Kawa tidak menjawab, apakah memang karena dia Mayra sakit? Apa Mayra sakit karena mendapat penolakan darinya? Kawa tidak menghiraukan seberapa Pak Broto marah, dia ingin bertemu dengan Mayra.
"Tidak perlu kau datang, dan setelah selesai kontrak, pergilah jauh, jangan bekerja lagi di sini" ancamnya. "Untung aku tidak memecatmu sekarang juga. Ingat..jangan coba-coba untuk mendekati putriku, dia bukan selevelmu!. Pak Broto pergi meninggalkan Kawa. Dia keluar dari toko, berpapasan dengan seorang wanita anggun di pintu masuk, wanita itu tersenyum pada Pak Broto, hanya saja dia tidak mendapat perlakukan yang ramah. Dia mendengar apa saja yang diucapkan laki-laki gemuk itu pada pegawainya.
"Kawa...." ujar wanita itu.
__ADS_1
Sontak Kawa menoleh ke arah sumber suara itu, begitu juga Rendra. Tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya itu.