
“Dia anak dari teman Ayah” ujar Ayah Zahra. Zahra mendongakkan kepalanya sesaat Ayahnya menyampaikan berita tersebut.
“Ayah tidak ingin kamu seperti kakakmu yang hidup tidak jelas, dia, calonmu mapan, dari keluarga yang jelas” imbuhnya lagi, Zahra tercekat. Belum ada gambaran dari dalam dirinya untuk menikah dalam waktu dekat, dia masih terlalu muda, masih ingin sendiri dan mengejar cita-cita menjadi seorang perawat.
Airin, Kakak Zahra yang sedang duduk di sana menelan ludahnya mendengar sindiran langsung dari Ayahnya, dia memang salah, tapi tidak berarti harus menjadi orang yang dibenci selamanya.
Ibu Zahra hanya terdiam, dia sudah lelah berdebat dengan Ayahnya tentang ini. Pada akhirnya dia menyerahkan semuanya pada suaminya, meskipun dalam hati dia merasa sangat iba dengan anak keduanya, Zahra. Begitu juga dengan Airin, karena sejak awal sudah menjadi orang pesakitan dalam keluarga, maka dia sudah merasa tak ada andil apapun dalam keluarga ini.
“Zahra….” Ayahnya memanggil.
“Ya Ayah?” jawab Zahra sambil melihat sorot mata Ayahnya, di mana dia sudah bisa menebak apa yang menjadi keinginan Ayahnya, harus diikuti dan tidak bisa ditolak.
“Bagaimana?”tanyanya lagi.
Sejenak Zahra terdiam, mengambil nafas, menolak pun tidak ada gunanya, dia sudah sangat hapal Ayahnya. Terlebih dengan masalah yang sudah merundung kakaknya, Airin, dia tidak ingin kecolongan lagi. Maka dialah yang akan menjadi harapan Ayahnya kini.
“Iya, Zahra….Zahra terserah bagaimana baiknya menurut Ayah” ucap Zahra akhirnya, Ibunya melihat putri keduanya dengan hembusan nafas agak berat.
Semua yang ada di sini merasa bersalah, terlebih Airin dan Ibunya. Ibunya yang selalu dituduh menjadi biang kerok penyebab masalah Airin terjadi, Ibunya yang selalu dituding menjadi benteng yang rapuh saat menghadapi Airin.
“Maafkan kakak” ucap Airin pelan, mereka sudah berada di kamar Zahra. Zahra menatap kakaknya, bibirnya mengulas senyum. Kedua tangannya memegang pundak kakaknya dengan lembut.
“Bukan salah kakak” ujar Zahra lembut. Airin menggeleng perlahan, dia tahu ini salahnya, andai dia tidak melakukan kesalahan sebelumnya, tak mungkin Ayahnya akan banyak mengatur seperti sekarang ini, bahkan terlalu ketat mengatur kehidupan adiknya.
“Masa depan kamu masih panjang” ucap Airin dengan nada penuh penyesalan.
“Bahkan setelah menikah nanti, Zahra masih bisa berjuang untuk masa depan kak” Zahra masih terus berusaha menenangkan kakaknya itu. Dia merasa tidak ingin menambah beban kehidupan kakaknya yang semakin hari semakin kurus itu.
“Kamu memang adik yang baik” puji Airin. “Sekali lagi kakak minta maaf”.
“Kakak istirahatlah, sudah malam, kakak jangan banyak pikiran lagi ya…” Zahra mengelus pundak kakaknya, Airin mengangguk dan mengulas senyum tipis.
*** *
Hari pernikahan yang ditetapkan pun tiba, hanya sekali Zahra dengan suaminya tersebut, yaitu saat lamaran minggu kemarin, dan hari ini dia harus menikah. Menikah dengan orang yang belum sama sekali dia kenal dengan baik dengannya.
“Apakah kamu sudah siap?” tanya Ibunya sesaat setelah membuka pintu kamar Zahra, nampak putrinya tersebut dalam balutan busana pengantin warna putih dengan hijab warna senada. Zahra yang berada di depan meja rias menoleh ke arah sumber suara, Ibunya mendekat dan memegang pundak putrinya tersebut.
__ADS_1
“Ibu….” Ujar Zahra.
Kembali Ibunya menenangkan Zahra, “Dia orang yang baik, Insyaallah kamu akan bahagia” hibur Ibunya menepis kekhawatiran Zahra yang nampak nyata di wajahnya.
“Iya Bu” jawab Zahra. Lelaki itu memang nampak baik, sosok prajurit yang terbiasa dengan medan yang keras, namun wajahnya meneduhkan, setidaknya itulah gambaran awal yang dia lihat dari calon suaminya.
“Altaf orang yang baik” imbuh Ibunya lagi, nama calon suami Zahra adalah Altaf. “Kamu juga harus siap mendampingi di manapun dia berada”
Menjadi istri seorang prajurit memang harus siap mental dengan keadaan apapun, saat harus ditinggal untuk bertugas di daerah peperangan atau daerah konflik.
“Dan nanti malam setelah akad, suamimu terpaksa harus segera berangkat bertugas, sudah siapkah kamu?” tanya Ibunya.
“Iya kah Bu?” tanya Zahra agak sedikit terkejut, belum juga dia mengenal suaminya, setelah akad pun dia harus berpisah. Antara senang dan sedih, senangnya setidaknya dia bisa menghindar sebagai “istri” untuk sementara, agar dia beradaptasi dengan status barunya. Dan sedihnya, dia tidak bisa mengenal suaminya secepat mungkin agar dia bisa lebih memahami suaminya nanti.
“Sudah, ayo kita keluar, semua sudah berada di ruang tamu”
Pernikahan dilakukan dengan sederhana, hanya ada akad nikah yang dihadiri kerabat terdekat karena memang mendadak. Untuk pestanya akan digelar nanti setelah Altaf pulang dari tugasnya.
Nampak wajah Ayah Zahra bahagia setelah menjadi wali nikah dari anaknya, begitu juga dengan kedua orang tua Altaf. Nampak sangat lega menyaksikan putranya menikah.
Acara dilanjutkan dengan bercengkerama dengan dua keluarga baru yang menyatu itu, gelak tawa terdengar sesekali. Berbeda dengan Zahra, kini dia berada di kamarnya berganti baju. Setelah usai dia terduduk di pinggir ranjangnya. Terdengar pintu diketuk. Zahra segera memakai hijabnya.
Dibukanya pintu, terlihat Altaf berada di depan pintu dengan tubuh jangkungnya.
“Oh…” Zahra kikuk harus memanggil apa kepada orang asing yang kini menjadi suaminya tersebut.
“Sedang apa? Bisakah kita bicara?” tanya Altaf sambil menatap mata Zahra, Zahra menunduk lalu mengangguk pelan. “Di luar ramai” imbuh Altaf. Zahra beringsut agar Altaf bisa masuk ke dalam kamarnya.
“Si…silahkan duduk mas” Zahra menarik kursi riasnya, baju pengantin masih berserakan di atas ranjangnya belum sempat dia bereskan, bahkan riasan di wajahnya masih menempel.
Altaf duduk di kursi rias Zahra, matanya memperhatikan ruangan kamar Zahra yang sudah dihias dengan berbagai bunga, khas kamar pengantin.
Zahra meneguk ludahnya, apakah kedatangan Altaf ke kamar malam ini untuk meminta haknya sebagai suami? Begitulah isi pikirannya. Apalagi nanti dinihari suaminya akan pergi bertugas hingga kurang lebih satu tahun lamanya. Jantungnya semakin tidak karuan.
“Zahra….maafkan aku jika membuat kamu tidak nyaman” Altaf membuka percakapan. “Sejujurnya, aku tahu bahwa ini bukan kemauan kita, hanya saja aku tidak bisa menolak apa yang menjadi keinginan orang tua, aku yakin kamu juga begitu”
Zahra menatap Altaf, merasa senasib.
__ADS_1
“Semoga kita bisa bahagia” ujarnya berharap, Zahra mencoba tersenyum. “Mungkin tidak hari ini, entah suatu saat, kita akan bisa saling merindukan dan mencintai” harapnya sambil mengusap wajahnya.
“Iya Mas” sahut Zahra.
“Nanti setelah ini, aku akan bersiap berangkat bertugas, maaf jika tidak memberi waktu untuk kita saling mengenal lebih dalam” Altaf bangkit dari kursinya, bersiap meninggalkan kamar Zahra.
“Mas….” Panggil Zahra, Altaf menoleh ke arah Zahra. “Apa yang bisa aku siapkan untuk
Mas berangkat nanti?” tanya Zahra malu-malu.
Altaf tersenyum senang, lalu dia menggeleng “Tak perlu, sudah siap semua, terima kasih, tetaplah menunggu hingga aku pulang” ujarnya.
Lamunan Zahra seketika buyar saat Mak Irah menyerahkan segelas teh hangat di depannya, di sampingnya sudah ada Tania, teman mengajarnya di TK. Dia sedang menikmati sarapan nasi uduknya.
“Kamu yakin nggak makan?” tanya Tania sambil melihat Zahra. “Jangan melamun melulu”
imbuhnya.
Zahra menggeleng, dia sudah sarapan tadi di rumah. Dia kesini hanya mengantar Tania sarapan.
“Kenapa? Ada apa ?” tanya Tania.
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Tania yang ada di sampingnya, terdengar suara mesin motor yang baru saja berhenti di warung mak Irah.
“Iiiiissshhh memang berjodoh lah” teriak Rendra membuat Zahra dan Tania melihat ke arah mereka, Rendra menoyor bahu Kawa. Rendra mengedipkan matanya memberikan kode.
“Maaak nasi uduk 2 ya” teriak Rendra sambil menarik kursi, tidak jauh dari Zahra duduk. “Mak, aku senang karena….” Kawa menginjak kaki Rendra agar sahabatnya itu tidak melanjutkan kalimatnya.
“Aduuuuh” teriak Rendra.
Tania tertawa melihat tingkah kedua laki-laki yang baru datang itu.
“Ra…sudah saatnya kamu bicara, jangan diam saja, karena hidupmu lanjut bukan harus selalu melihat ke belakang” Tania tiba-tiba memberikan nasehat, dia tahu artinya. Dia tercekat.
“Tuh…” Tania melirik ke arah Rendra dan Kawa.
Zahra melotot melihat Tania, Tania tersenyum penuh arti.
__ADS_1