Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 31 : Keputusan


__ADS_3

"Bunda mau pulang" pamit Ganis pada Kawa.


"Secepat ini Bun?" Kawa melihat wajah Bundanya, di sampingnya ada Biru yang sedang memainkan ponsel.


"Kenapa? masih kangen sama Bunda?" tanya Ganis. Kawa tersenyum.


"Iya lah bun" jawab Kawa, dia senang ada Bundanya di sini.


"Pulanglah nak" pinta Ganis, "Sudah saatnya kamu membantu Papa kamu, Papa kamu membutuhkan kamu"


"O...jadi bunda kesini untuk merayuku?" Kawa melihat Bundanya dengan mimik serius.


"Ya salah satunya, lagian bunda rasa sudah cukuplah kamu di sini nak, Papa benar-benar membutuhkanmu"


Kawa terdiam, apa yang dikatakan oleh bundanya memang benar.


"Nah bener tuh bang, pulang bang, sudah saatnya abang memulai kembali hidupnya" imbuh Biru.


Kawa melihat wajah bundanya dan Biru bergantian, pikirannya masih memikirkan beberapa urusan, yang paling dia pikirkan adalah Zahra.


"Iya bun, nanti aku pertimbangkan" jawab Kawa akhirnya.


"Bunda tunggu, Papa benar-benar menunggumu pulang, hanya saja kamu tahu sendiri kan Papa kamu seperti apa, dia nggak akan secara langsung bilang ke kamu"


"Iya Bun"


        Pesan Bundanya sebelum pulang kembali terngiang di telinganya, dan harus dia pikirkan matang-matang. Karena memang perusahaan Papanya butuh dirinya. Kawa menghela nafas panjang sambil melihat langit-langit kamarnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


Kawa keluar dari kamarnya, melihat Rendra sedang ngopi di teras. Kawa ikut duduk di samping Rendra.


"Mau kopi?" Rendra menawarkan.


"Nggak" Kawa menggeleng.


"Kenapa? ada apa?" Rendra seolah tahu kegelisahan Kawa. "Galau mulu, kapan bahagiamu?" Rendra seolah sedang menertawakan Kawa.


"Ada baiknya aku pulang" ujar Kawa, Rendra meletakkan gelas kopinya saat mendengar Kawa mengatakan kalimat itu.


"Yakin?"


Kawa mengangguk. "Hanya saja aku harus memastikan sekarang"


"Apa?" Rendra memancing, dia merasa Kawa banyak berubah setelah putus dengan pacarnya dulu.


"Zahra" jawab Kawa. Rendra tersenyum tipis, akhirnya temannya itu sadar dengan apa yang harus dia perjuangankan.

__ADS_1


"Ok, siap membantu" Rendra menjawab enteng. "Dan kalaupun perlu juga, aku siap ngabisin si sok bos itu" Rendra menggeram, Kawa tahu siapa yang dimaksud.


"Dia sudah sangat keterlaluan menghina kamu"


"Sudah biarkan saja"


"Kamu jangan terlalu baik jadi orang, dia sudah keterlaluan" Rendra masih saja geram. Kawa tertawa kecil melihat temannya seperti itu. "Aku kehilangan kamu yang dulu"


"Maksudmu?" Kawa memicingkan mata. Akhir-akhir ini Rendra nampak sering berbicara serius, padahal dia biasanya suka bercanda.


"Iya, kamu seperti takut melangkah, padahal kamu sempurna, ayolah...patah hatimu sudah hilang kan kawan?" Rendra menepuk punggung Kawa.


"Iya lah, aku baik-baik saja"


"Hatimu yang nggak baik-baik saja" timpal Rendra.


"Siapa bilang? aku baik-baik saja"


"Besok kita resign, besok kita ke rumah Zahra" Rendra membuat keputusan. Kawa menatap kawannya itu.


"Nggak ada penolakan, sudah itu" Rendra memungkasi.


        Sejak Bundanya memintanya segera pulang, Kawa menjadi kepikiran. Sudah bukan waktunya dia kembali menolak, toh dia sudah merasa cukup banyak belajar di tempat ini. Bukan karena dia tidak memiliki pendirian maupun tidak berani menerima kenyataan, hanya saja dicukupkan saja dia berada di sini.


        Pagi ini, dia sudah mantap untuk menyelesaikan misi di tempat ini. Hal pertama yang akan dia temui adalah Mayra, dia akan berpamitan dengan gadis itu.


"Aku minta maaf jika banyak salah padamu" ungkap Kawa, dia melihat gadis itu cemas, bibirnya masih nampak pucat. "Kamu masih sakit?" Kawa mengkhawatirkan keadaan Mayra. Gadis itu menggeleng pelan.


"Aku baik-baik saja"


"Oh...syukurlah, berjanjilah kamu harus baik-baik saja, selalu"


"Kamu pergi karena papaku marah padamu?" Mayra memastikan. Karena dia merasa Papanya sudah keterlaluan marah-marah ke Kawa dan menghina Kawa. Kawa menggeleng sambil tersenyum. "Lalu kenapa?"


"Bukan apa-apa..aku hanya mendapatkan kerjaan yang dekat dengan rumah, dan Ibuku menghendaki aku pulang, sudah itu saja.


Bukan itu jawaban yang dia inginkan, lalu bagaimana dengan cintanya Kawa pada Zahra? Mayra ikut mencemaskan itu.


"Apa yang kamu pikirkan? aku banyak salah padamu ya? aku banyak-banyak minta maaf" ungkap Kawa.


"Bukan...bukan masalah itu...,ah sudahlah, ini sudah keputusanmu, semoga ini yang terbaik" Mayra tersenyum.


"Iya, terima kasih"


    Mayra adalah teman yang menyenangkan, yang selalu ceria dan memberikan banyak warna.

__ADS_1


"Jika suatu saat kamu ke kotaku, mainlah kesana"


"Ok akan aku lakukan"


        Kawa melambaikan tangan pada Mayra di balik pintu pagar yang masih terlihat itu, Rendra menunggu Kawa di luar tanpa ikut masuk ke dalam rumah Mayra. Dia setia menjadi sopir Kawa hari ini, karena kali ini mereka mengendarai mobil.


    Tujuan kedua mereka adalah toko, dan mereka akan bertemu dengan pak Broto secara langsung. Rendra keluar dari mobil dan segera berjalan ke arah ruang sebelah toko. Kawa mengikuti Rendra.


"Permisi" Rendra mengetuk pintu.


"Masuk" jawab suara dari dalam, Rendra dan Kawa masuk ke dalam ruanganan ber AC itu. Nampak Pak Broto sibuk di depan komputernya. Kemudian dia beralih melihat ke arah Kawa dan Rendra.


"Kamu nggak kerja?" Pak Broto sadar saat melihat Kawa dan Rendra tidak memakai seragam.


"Boleh kami duduk?" tanya Rendra.


"Hem" jawabnya.


Rendra menarik kursi, Kawa dipersilahkan duduk terlebih dahulu sebelum dia menarik kursi untuk dia duduki sendiri.


"Permisi big bos" ujar Kawa.


"Kenapa?" jawab Pak Broto ketus, bahkan dia tidak melihat ke wajah Kawa.


"Saya akan resign" jawab Kawa. Sejenak hening, tak ada kalimat yang keluar. Pak Broto meninggalkan pandangannya di komputer, lalu beralih melihat ke arah Kawa, kemudian Rendra.


"Secepat ini? bagus lah, semakin cepat kamu resign semakin baik" jawabnya sambil tersenyum.


"Iya bos, siap" Kawa masih menjawab dengan santai. Rendra menahan amarahnya, ingin rasanya dia menonjok Pak Broto, dia sungguh marah. Kenapa Kawa bisa sesabar itu. Andai saja Pak Broto siapa orang yang sedang dia hadapi, maka tak akan berani dia berbuat seperti itu.


"Ok, saya terima pengunduran diri kalian" jawabnya akhirnya. "Karena ini kemauan kalian, maka kalian tidak akan mendapatkan pesangon.


"Tak masalah" jawab Rendra menahan.


"Baik pak, kami pamit, mohon maaf jika ada salah-salah, semoga Bos dan keluarga sehat selalu" Kawa tersenyum.


"Kalian tahu pintu keluarnya, silahkan" Pak Broto memalingkan wajahnya dari Kawa dan Rendra, lalu kembali menatap layar komputernya.


Kawa berdiri dan membungkukkan badannya, lalu keluar terlebih dahulu. Rendra melihat dengan tegas wajah Pak Broto.


"Ada apa lagi?" tanya Pak Broto setelah tahu bahwa dia sedang diawasi.


"Anda arogan sekali, hanya gara-gara punya jabatan seperti ini" gertak Rendra, Pak Broto diam saja. "Andai anda tahu siapa yang anda hadapi, maka anda tak akan pernah lagi sanggup berbicara sombong"


"Maksudmu apa?"

__ADS_1


"Dia adalah petinggi dari perusahaan di mana anda kerja" Rendra mendekatkan wajahnya pada Pak Broto, suaranya ditekan, kemudian dia keluar ruangan. Nampak Pak Broto bengong.


"Hah....bualan sialan, mana mungkin aku akan percaya!" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2