Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 36 : Kamu Siapa?


__ADS_3

"Selamat atas pertunangannya..." Mayra menatap Zahra sambil menyunggingkan wajah bahagia, iku merasakan kebahagiaan Zahra.


"Terima kasih ya...maaf aku tak mengundang kamu, karena serba mendadak, dan memang hanya orang dekat saja kemarin itu, ah entahlah, maaf" Zahra merasa bersalah karena tak mengundang Mayra.


"Ini minumannya kak" seorang pelayan perempuan menginterupsi obrolan mereka berdua, pelayan itu meletakkan lemon tea hangat dan juga milkshake di atas meja mereka.


"Terima kasih" jawab Zahra dan Mayra hampir bersamaan. Zahra meraih lemon tea minumannya dan mengaduknya.


"Jadi kapan nih?" tanya Mayra penasaran.


"Apanya?"


"Hari H-nya dong...dan tolong kali ini aku diundang ya..." Mayra mengerlingkan matanya pada Zahra.


"Insyaallah secepatnya, iya nanti diundang kok" Zahra menyesap minumannya. "Oh ya bagaimana dengan keadaan kamu? sehat kan?" Zahra jadi teringat akan sakitnya Mayra tempo hari.


"Amaan...selama aku nggak main hujan, selama aku nggak kena yang berair-air aman" Mayra menyeringai. Zahra mengerutkan dahinya, tidak jelas dengan penjelasan Mayra.


"Kenapa papa selama ini banyak aturan, soalnya aku tuh ada masalah dengan paru-paru aku, yaah...dikiiit. Tapi ya gitu deh..." Mayra nampak cuek.


Zahra melongo mendengarnya, "Kamu nggak apa-apa kan?"


"Seperti yang kamu lihat" Mayra memainkan sedotan yang ada di gelasnya.


"Syukurlah, jangan sakit-sakit lagi" ujar Zahra tulus.


"Kamu juga...bahagia ya..." Mayra memegang tangan Zahra. Zahra mengangguk, dalam hatinya dia juga mendoakan agar Mayra juga mendapatkan kebahagiaan.


***


"Zahra...tadi Kawa nelpon ayah" ucap Pak Latif selesai makan malam.


"Iya yah" timpal Zahra.


"Jadi Kawa akan menjemputmu dan meminta kamu mempersiapkan acara pernikahan kalian"

__ADS_1


Zahra melihat ke arah Bu Latif, Zahra heran. Apakah dengan semudah itu ayahnya akan memberikan izin?.


"Kenapa? haruskah ayah yang mengantarkanmu?" Pak Latif nampak tertawa melihat kebingungan Zahra. "Berangkatlah, ayah mengizinkan kamu pergi bersama Kawa"


"Terima kasih yah"


Pak Latif menjadi salah satu orang yang menginginkan pernikahan itu segera terwujud, guna menghindari fitnah. Dan Pak Latif juga yang meminta agar Dira tinggal di sini saja, sedangkan Zahra dibebaskan untuk ikut suaminya kemanapun berada.


"Ayah juga tidak tahu bagaimana keluarga calon suamimu, bersiaplah dengan perjuangan membangun ekonomi nanti"


"Iya yah"


Zahra masuk ke dalam kamarnya, tak terasa air matanya menetes. Bukan karena dia bersedih, melainkan dia merasa bahagia karena di mana mimpinya seolah terwujud. Bagaimana hati ayahnya terbuka, mau melepaskan dia dari bayang-bayang mantan suaminya dulu.


Hari sudah malam, Zahra segera menutup mata untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum esok hari bertemu dengan Kawa.


Sesuai janjinya, Kawa menjemput Zahra di sela waktu sibuknya kerja. Karena sebagai pemimpin baru di salah satu perusahaan milik keluarga, Kawa super sibuk untuk merencanakan proyek baru. Tapi dia juga harus tetap memikirkan pernikahannya.


"Sepagi ini, berangkat dari rumah jam berapa?" tanya Zahra setelah memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Dia merasa agak aneh saat Kawa mengendarai salah satu mobil mewah yang dia tahu hanya dari internet itu, sungguh dia memang selugu itu.


"Nggak kerja?"


"Sudah izin" jawab Kawa enteng sambil tersenyum. "Ok, kita akan ke rumah dulu, Bunda sama Oma sudah menunggu kamu, selanjutnya kita akan rapat dengan para wanita, setelahnya baru kita ke WO" Kawa menerangkan.


"WO?" Zahra mengangkat kedua alisnya.


"Iya, WO" Kawa menegaskan.


"Pakai WO?" Zahra kaget.


"Iya lah, kan biar nggak ribet, pokoknya tinggal kita pilih, deal, udah gitu aja" jawab Kawa.


"Aku nggak mau memberatkan kamu dan keluarga kamu mas"


"No...no sama sekali" Kawa buru-buru menepis. Kawa menyadari jika Zahra belum tahu tentang keluarganya.

__ADS_1


"Alangkah baiknya jika sederhana saja mas, kalau perlu tanpa resepsi" Zahra menatap Kawa yang sedang menyetir mobil.


"Zahra....aku tahu kamu inginnya yang simple, yang sederhana, begitu juga dengan aku, tapi Oma dan Bundaku...."


Saat mendengar dua wanita itu disebut, Zahra luluh, bagaimanapun juga pernikahan itu bukan tentang dirinya saja, melainkan harus mendengar permintaan dari keluarga juga.


"Iya"


Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu kahirnya berakhir saat mobil memasuki sebuah rumah mewah dengan pagar besi yang menjulang. Zahra nampak terkejut, dan berdoa itu bukanlah rumahnya Kawa. Kawa mematikan mesin mobilnya dan membua pintu mobilnya, lalu dia ke arah pintu mobil Zahra dan membukanya. Zahra nampak masih bengong melihat Kawa.


"Sudah sampai" Kawa tersenyum. Zahra yang tersadar akhirnya turun dari mobil, dia yang berpenampilan biasa mendadak menjadi ingin pulang.


"Selamat datang mas" sambut seorang ART di rumah tersebut, Kawa tersenyum sambil mengangguk kecil.


"Bun....Bunda..." Kawa memanggil Ganis, dan tak lama Bundanya itu keluar dan menyambut kedatangan Zahra dengan senang hati. Zahra segera bersalaman dengan Ganis.


"Ayo masuk, pasti capek dengan perjalanannya" Ganis menggandeng calon mantunya itu dan mengajaknya duduk di ruang keluarga. Zahra yang masih berasa mimpi karena ternyata Kawa bukanlah orang sembarangan, lalu buat apa Kawa bekerja di sebuah toko yang ada di kota kecil itu? untuk apa?


Zahra belum bisa mencerna apa yang ada di hadapannya sekarang, berbagai macam pertanyaan benar-benar memenuhi otaknya, tapi dia berusaha untuk mengendalikannya.


"Mbak...mbak Marni..." Ganis memanggil mbak Marni.


"Iya buk..." Mbak Marni datang tergopoh-gopoh mendnegar panggilan dari Ganis.


"Tolong buatkan minum untuk Zahra ya...kasian jauh-jauh pasti dia haus"


"Iya Buk"


"Sekalian siapkan makan siang ya.."


"Baik Buk" jawab mbak Marni


Sesekali terdengar gurauan dari Ganis dan Zahra, sementara Kawa izin sebentar untuk melanjutkan pekerjaannya via daring.


Bantu like ya readers.....

__ADS_1


__ADS_2