Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 24 : Menimbang Keputusan


__ADS_3

Sebagai seorang laki-laki yang berprinsip, tidak seharusnya Kawa lemah. Dia harus bersikap, dia harus menyudahi sandiwara ini, tentang mengapa dia bersembunyi, untuk apa dia berada dalam persembunyiannya terus menerus tanpa kepastian seperti ini.


Dengan berada di tempat baru yang menenangkan ini, bukan berarti dia harus terus begini. Setidaknya dia harus tegas pada dirinya sendiri.


"Kalau kamu memang mencintainya, seharusnya kamu mengatakannya" ujar Rendra pada Kawa, jika biasanya Rendra yang penuh candaan dan ketidak seriusan, kini menampakkan jika dia sedang serius. Kawa terdiam dan mencoba mencerna apa yang diucapkan Rendra padanya.


"Sekarang sudah jelas bahwa Zahra tidak ada yang punya, namun aku pikir dia adalah gadis berprinsip, dia tidak akan seperti gadis pada umumnya yang hura-hura dan pacaran sana sini, bukan karena apa, kamu tahu sendiri kan bapaknya kayak gimana?" Rendra mendadak ingat akan seramnya Pak Latif yang sudah seperti bodyguard itu.


Kawa tersenyum mendengar ucapan Rendra, benar. Memang Zahra bukan gadis kebanyakan, dan terlebih lagi kungkungan Ayahnya yang membuat Zahra seolah menarik diri. Ingin rasanya dia duduk berdua, mengenal dia lebih jauh lagi, bertanya tentang misi hidupnya, bertanya tentang bagaimana laki-laki yang dia idamkan, dan banyak lagi.


Kawa mengusap wajahnya.


"Kamu pasti bisa, pastikan hatimu, kita sebagai laki-laki harus tegas, kalau iya iya, kalau tidak ya sudah lupakan, meskipun aku nggak tau perasaan cewek itu bagaimana, tapi aku punya keyakinan jika Zahra juga ada rasa sama kamu" Rendra menatap sahabatnya lekat.


"Sok tahu" Kawa mencebik.


"Eh...serius ini, aku akan jadi orang pertama yang mendukung hubungan ini"


Kawa melihat Rendra, sahabatnya ini benar-benar serius kali ini, terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Kalau perlu, temui kedua orang tuanya"


Ucapan Rendra benar-benar tegas.


"Gila" jawab Kawa.


"Loh enggak...gini lho....kalau memang semua oke, tinggal bilang sama orang tua kamu"


"Panjang....ceritanya panjang...."


"Apa lagi?" Rendra nampak gemas, mengapa Kawa mendadak melempem seperti krupuk yang berhari-hari keluar dari kalengnya.


"Bagaimana jika dia tahu aku yang sebenarnya, apakah dia akan menerima?"

__ADS_1


Rendra terdiam sejenak, jika dilihat dari kacamata normal, Kawa sempurna, punya segalanya, dia tampan dan juga mapan, siapa wanita yang akan menolak laki-laki macam Kawa? nggak ada dia rasa.


"Kenapa kamu jadi pesimis?"


"Karena memang banyak yang aku pikirkan"


"Majulah, setidaknya kamu sudah berjuang sebelum kita benar-benar pulang, iya kan? nggak mungkin kita berada di kota ini selamanya kan? kamu punya kehidupan selain di sini, dan aku yakin kamu juga sudah mulai memikirkan itu" ngomong bak peramal, tapi Kawa tidak menyangkal semua yang diucapkan oleh Rendra.


***


"Zahra....ayah mau bicara" ucap Pak Latif.


"Iya Ayah"


Mereka berada di ruang keluarga, begitu juga Bu Latif.


Pak Latif mengambil nafas panjang, "Sudah ayah putuskan, ayah harus menerima jika suamimu memang benar meninggal" ujarnya berat. Zahra girang dalam hati, bukan girang perihal Altaf meninggal, akan tetapi dia bersyukur akhirnya ayahnya menyadari itu. Bahwa dia memang perempuan tanpa suami sekarang.


"Iya ayah"


"Suami kamu sudah meninggal, dan kamu bukan istri orang....awalnya ayah juga berat memutuskan semua ini, akan tetapi ayah juga nggak mau egois, masa depan kamu masih panjang.


Rasanya Zahra ingin sujud syukur sekarang juga. Matanya nampak berkaca-kaca menahan rasa  haru.


"Hanya saja, kamu harus tahu....harus tahu keluarga kita bagaimana, kita adalah keluarga sederhana, jadi ayah minta kamu ingat tentang kakakmu, jangan sampai terulang"


Zahra mengangguk, Ayahnya sangat keras pada Airin, mungkin sampai sekarang. Airin memiliki pacar orang kaya raya, Airin hamil dan ditinggalkan. Itulah yang melatar belakangi ayahnya menjadi sangat posesif terhadap anaknya, terlebih Zahra yang baginya masa depannya masih sangat panjang. Dengan latar belakang tersebut, Pak Latif seolah membenci orang kaya yang mendekati anaknya.


"Bagi ayah, orang kaya hanya suka mempermainkan orang-orang macam kita" ujarnya dengan suara parau, nampak rasa dendamnya masih membekas, khususnya untuk Ayah kandung Dira yang sampai sekarang tidak sekalipun datang menemui Dira.


"Jadi pesan Ayah, jika kamu ingin menjalin hubungan dengan laki-laki, maka Ayah akan menjadi barisan depan dalam menyeleksi, ingat pesan ayah, jangan menjalin hubungan dengan lelaki kaya yang akan mencampakkan kamu"


Zahra mengangguk.

__ADS_1


"Ayah tahu, kamu lebih bisa diatur, sekiranya kamu bisa belajar dari kakakmu"


"Iya ayah"


"Nanti jika suatu saat kamu menikah, Dira biar sama ayah dan ibumu"


"Tapi yah..."


"Sudahlah...sudah ayah pikirkan matang, kamu berhak mengejar apa yang seharusnya kamu dapatkan, tak apa"


Percakapan singkat namun berat ini membawa rasa senang tetapi juga gundah di hati Zahra, dia sekarang sedang berada di atas sajadah, Tuhan mengabulkan doa-doanya, salah satunya melunakkan hati ayahnya. Zahra mengusap air mata yang mengalir dari kedua matanya. Hanya saja dia juga bersedih jika nanti harus berpisah dari Dira.


"Mas Altaf, semoga kamu bahagia di sana, aku akan selalu mendoakanmu mas, meskipun kita hanya ditakdirkan bertemu sebentar saja, inilah takdir kita, aku tidak menyalahkan sang pencipta dengan takdir ini, aku yakin semua sudah menjadi jalan hidupku dan pasti ada hikmahnya" Zahra memandang ujung sajadahnya, matanya masih basah oleh air mata.


Kini dia belum tahu apa yang akan dia lakukan selepas ayahnya mempersilahkan Zahra "Hidup normal".


Zahra bangkit dari duduknya, dia masih mengenakan mukenanya. Dia melepas cincin yang ada di jari manisnya, lalu tangannya membuka laci dan menyimpan cincin itu di sana. Bibirnya merekah.


"Terima kasih ayah" ucapnya lirih, senyumnya mengembang.


Masih terbawa suasana lega, bahkan Zahra belum memutuskan apa yang akan dilakukannya nanti.


Jodoh, maut dan rejeki adalah rahasia Tuhan.


"Jika dia mencintaimu, apa yang akan kamu lakukan?" pertanyaan dari Tania itu berkelebat di ingatannya, membuatnya terhenyak. Zahra paham, yang dimaksud oleh Tania adalah Kawa. Bagaimana jika Kawa memang mencintainya?


"Aku rasa dia adalah laki-laki yang baik bukan?" kalimat Tania kembali terngiang. Iya, dia adalah laki-laki yang baik sejauh yang Zahra tahu, tapi terlalu dangkal juga dia menyimpulkan, karena dia tidak tahu Kawa lebih jauh, dia hanya sebatas mengenal dan berbicara secara umum.


Ponsel Zahra berbunyi, ada sebuah pesan. Tidak biasanya dini hari ada sebuah pesan yang masuk, jika biasanya Zahra tak pernah menyentuh ponselnya jika tidak pagi, dia penasaran dan membuka pesan tersebut.


Bisakah kita bertemu hari ini?


Isi pesan tersebut, Zahra menggenggam ponselnya tanpa membalasnya, hatinya masih bimbang. Dia hanya membacanya. Tak lama dia meletakkan kembali ponsel di atas meja yang tidak jauh dari ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2