Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 43 : Perempuanku


__ADS_3

"Maafkan kami Nona...yang harus melakukan fitting ulang guna benar-benar memastikan jika ukuran baju sesuai dengan tubuh anda" ucap seorang pegawai perempuan dengan sangat ramah.


Kawa yang mendapatkan informasi tersebut lantas meminta izin keluarga Zahra untuk membawa Zahra kesini.


"Iya tidak apa-apa mbak" jawab Zahra tak kalah ramah. Salah satu gaun terusan yang sangat cantik itu berada di depan Zahra, gaun yang sangat indah dengan warna krem, dengan tempelan manik dan juga batu kristal yang berkilauan.


"Nah ini sudah pas, apakah anda sudah nyaman Nona?" tanya pegawai tadi setelah sedikit mengecilkan ukuran baju yang lain yang sednag dikenakan oleh Zahra.


"Jangan terlalu press body ya mbak, nanti saya kurang nyaman"


"Oh baik, segini?" pegawai tersebut meralat. Dirasa sudah pas, Zahra pun mengangguk.


"Baik Nona"


Zahra melihat pantulan dirinya dengan balutan gaun pengantin di depan cermin, Zahra merasa seperti sedang bermimpi. Gaun ini terlalu cantik untuknya. Kawa yang melihat dari jarak yang tak jauh dari Zahra pun nampak terkesima dengan melihat kecantikan Zahra. Membuatnya hampir lupa untuk berkedip.


Setelah selesai dengan fittingnya, Zahra kembali mendekati Kawa yang kini sudah sibuk dengan membaca majalah, hingga tak menyadari Zahra sudah ada di dekatnya.


"Yuk" ajak Zahra. Seketika Kawa tersentak dan melihat Zahra dengan sudah berganti pakaian.


"Sedah selesai?" Kawa memastikan.


"Sudah" jawab Zahra sambil mengangguk kecil.


"Sudah Tuan, maafkan kami jika harus meminta waktu dari Tuan dan Nona guna mem fix-an baju pengantinnya. Salah satu pegawai yang lain membungkukkan badannya pada Kawa dan Zahra yang sudah bersiap meninggalkan tempat tersebut.


"Tak masalah" jawab Kawa.


          Zahra memasang sabuk pengamannya, dia duduk di samping Kawa yang memegang kemudi.


"Aku belum membahas ini secara langsung denganmu bang" Zahra membuka percakapan setelah mobil melaju.


"Huhm?" Kawa berdehem lalu melihat ke arah samping, melihat Zahra.


"Jadi abang adalah salah satu pemimpin perusahaan besar itu?"


Kawa tersenyum tipis, meskipun Zahra sudah tahu, tapi gadis itu baru membahasnya sekarang. Memang mereka akan segera menikah, tapi mereka juga tak setiap detik memberikan kabar atau sekedar haha hihi melalui ponsel.


"Aku takut" sambung Zahra.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?" Kawa melihat ke arah jalan yang sedang ramai.


"Aku takut tak bisa mengimbangi siapa abang"


"Aku nggak pernah minta kamu mengimbangi siapa aku, bagiku, cukup kamu ada di sampingku" Kawa melihat ke arah Zahra sambil melemparkan senyum.


Zahra terdiam sesaat, laki-laki yang ada di sampingnya itu, laki-laki yang sama saat dia pertama kali bertemu memang dirasa tak ada bedanya. Laki-laki yang tetap santun.


"Itulah salah satu alasan mengapa aku nggak mau diekspose", Kawa tertawa kecil. Dan kini dia sudah tak bisa lagi mengelak tentang dirinya yang sebenarnya.


        Kawa dan Zahra disambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu di sebuah restoran mewah.


"Abang terbiasa makan di tempat mewah?" Zahra melihat ke arah Kawa saat seorang pelayan yang berbeda menunjukkan sebuah tempat untu mereka berdua.


"Mak Irah apa kabar?" Kawa tersenyum. Zahra menepuk dahinya, warung Mak Irah adalah tempat pertama kali mereka mnegukir cerita. "Tempat bersejarah itu" bisik Kawa yang disambut tawa oleh Zahra. "Dan kemarin aku kesana"


"Oh ya?"


Kawa mengangguk, Kawa menarik sebuah kursi untuk Zahra, setelah Zahra duduk, barulah dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Zahra. Seorang pelayan memberikan daftar menu untuk mereka pilih.


"Nggak ada beda antara aku kan?" Kawa nampak memberikan pertanyaan ringan, Kawa sendiri sebenarnya agak khawatir tentang penilaian Zahra terhadap dirinya.


"Kok semoga?"


"Kan aku belum bisa membuktikannya" Zahra tak mau kalah, lalu dia kembali tertawa kecil. Hal sederhana yang belum pernah Kawa rasakan sebelumnya, bercanda dengan bahasan yang sederhana pula. "Apa kabar Biru?" tanya Zahra.


"Hah itu bocah..." Kawa mengusap wajahnya dengan kasar, di hadapan Zahra, Kawa benar-benar menjadi dirinya sendiri. Tak harus selalu terlihat formal seperti layaknya seorang pemimpin.


"Kenapa?" Zahra melihat mimik wajah Kawa dengan tatapan serius.


"Permisi" terlihat 2 orang pelayan datang dengan membawa makanan pesanan mereka. Perbincangan mereka pun terhenti.


"Terima kasih" sahut Zahra.


"Selamat menikmati" sahut pelayan sebelum pergi.


"Kenapa?" Zahra kembali mengulang pertanyaannya.


"Sukanya tawuran mulu" Kawa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Masa sih?" Zahra nampak tak percaya.


"Serius" Kawa menyeruput minuman dingin yang ada di hadapannya.


"Lalu?" Zahra nampak tertarik dengan Biru yang memang unik itu.


"Udah, aku kasih bodyguard yang begini nih" Kawa mengangkat dua jempol tangannya ke depan.


"Maksudnya dia pakai bodyguard?" Zahra nampak tak percaya, ada ya ternyata orang yang kemana-mana mesti ada pengawalan macam itu.


"Biar nggak aneh-aneh lagi, lagian masih untung dia nggak dilaporin sama yang ditabokin, emang rada-rada tu bocah" Kawa geleng-geleng kepala.


"Apa abangnya juga begitu?" Zahra menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Oh No, abangnya mah anak rumahan banget" Kawa menepuk dadanya, sungguh bersama Zahra kini dia benar-benar menjadi dirinya sendiri.


"Nggak abang ajak sih?"


"Kuliah dia, rasain tuh hari ini dia sudah sama bodyguardnya"


"Bahagia amat sih" Zahra terkekeh. "Eh sebentar bang, aku ke toilet dulu" pamit Zahra.


        Zahra bertanya pada seorang pelayan di mana toiletnya berada, dan setelah menunjuk arah ke toilet, Zahra pun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pelayan tersebut.


Selepas dari toilet, Zahra mencuci tangannya di wastafel. Kemudian membenahi hijabnya, seorang perempuan dengan gaun sexy berada di sebelahnya, sedang mengoleskan lipstik di bibirnya. Zahra melihat ke arah perempuan tersebut sambil menyunggingkan senyum meskipun dia tak mengenalnya.


"Pacar barunya Kawa?" tanya perempuan tersebut, sontak Zahra mencoba mengingat wajah perempuan tersebut, tapi tak berhasil. Karena memang dia baru pertama kali melihat orang itu.


"Maaf, apa kita saling kenal?" tanya Zahra.


Perempuan tersebut tersenyum, lipstik merah merona di bibirnya semakin menambah keseksiannya. Zahra menunggu jawaban dari perempuan tersebut.


"Jadi ini seleranya Kawa? seriusan?" Perempuan tersebut tersenyum seolah sedang mengejeknya. "Sama sekali jauh dari kata serasi" cercanya.


Zahra menatap perempuan tersebut, sambil meredam hatinya agar tidak meladeni omongan perempuan tersebut dengan emosi.


"Hati-hati...jangan-jangan cuma pelarian doang, setelah ini kamu dibuang" perempuan itu kembali tersenyum sambil menowel hijab yang dikenakan Zahra. "Duh apalagi penampilannya begini, bentar lagi juga goodbye" perempuan itu berlalu, meninggalkan Zahra yang masih penuh dengan tanda tanya.


Zahra memejamkan matanya, hanya mereka berdua tadi yang ada di sini, kini tinggal Zahra sendiri di sini, masih kaget dengan kalimat demi kalimat yang melincur dari perempuan tadi.

__ADS_1


__ADS_2