Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 44 : Ku Hanya Mencitai Dia


__ADS_3

Zahra sedikit kaget dengan intimidasi dari wanita itu, hanya saja Zahra tetaplah Zahra yang sudah terbiasa dengan keadaan apapun. Jika dia mundur karena orang lain, maka dia akan kalah.


Buru-buru Zahra keluar dari toilet dan kembali duduk di depan Kawa, laki-laki tampan itu masih menikmati makan siangnya.


"Apa kamu tidak malu jalan sama aku?" tanya Zahra. Kawa yang masih mengunyah itu menatap Zahra.


"Apa yang harus saya permasalahkan?" Kawa balik bertanya.


"Penampilanku mungkin"


Kawa tersenyum kecil, lalu melihat dengan senyum mengembang ke wajah wanita yang ada di depannya. Lalu Kawa menggeleng, tak ada keraguan sedikitpun dengan hatinya.


"Kamu sempurna" gumamnya. Kalimat itu sukses membuat pipi Zahra memanas, sehingga dia lupa akan kejadian di toilet tadi.


"Kamu terlalu berlebihan bang" Zahra mencoba menepis, pipinya masih terasa panas.


"Kata siapa? enggak? lagian apa yang akan diperdebatkan dari kamu?"


"Aku tidak bisa membayangkan apa komentar orang tentang kamu nanti setelah menikah denganku"


"Tak ada yang aku takutkan" jawab Kawa.


"Tapi aku takut, sedikit takut" Zahra mengkoreksi kalimatnya. Pernikahan akan menjadi hal besar buat Kaawa dan keluarganya, karena pasti akan mengusut latar belakang keluarganya. Mencari celah bagi mereka yang tidak menyukai keluarga Kawa.


"Zahra....aku melihatmu untuk masa sekarang, bukan masa lalu kamu, dan kamu tidak pernah berbuat hal jahat pada siapapun di masa lalu, so...kita lakukan apa yang menjadi takdir kita" Kawa menatap Zahra lekat.


"Bukankah mantan kamu terdahulu sangat cantik?" Zahra merasa ada yang aneh di hatinya saat mengucapkan kalimat itu. Ada rasa panas di dadanya.


Kawa mendongak, menghempas nafas sehalus mungkin. "Jika aku tak akan melihat masa lalumu, begitu juga dengan yang akan aku lakukan pada diriku"


Jawaban Kawa tak menjawab pertanyaan Zahra secara langsung, namun itu sudah mewakili.


        ***


    Biru terburu-buru masuk ke dalam ruang kerja Kawa dengan wajah bersungut-sungut. Kawa yang tengah sibuk melihat berkas pun sontak melihat ke arah pintu yang dibuka dengan kasar. Biru meletakkan tasnya di atas tumpukan map yang ada di meja. Biru duduk di kursi yang berhadapan dengan Kawa, lalu bersedekap.

__ADS_1


"Abang melanggar janji" pekiknya, Kawa yang melihat tingkah adiknya itu menutup mapnya dan meletakkan di atas meja. "Abang tega ya...niat banget buat Mario cemburu" sungutnya. Kawwa masih nampak tenang dengan ocehan adiknya, ini pasti berhubungan dengan Dipa. Si bodyguard yang dia sewa untuk Biru.


"Pokoknya aku nggak mau kalau dia....si...aduh entahlah siapa namanya, aku nggak mau tahu, besok harus diganti!" suara Biru meninggi.


"Apa dia melakukan kesalahan?" tanya Kawa, karena ini adalah masa percobaan kerja untuk Dipa. Biru menggeleng.


"Apa dia melecehkanmu?" kembali Biru menggeleng mendapatkan pertanyaan itu.


"Apa dia kasar padamu?" dan lagi-lagi Biru tidak mendapatkan perlakuan itu. Karena memang Dipa tidak melakukan hal itu padanya.


"Dia membuat murka Mario" jawab Biru kesal. Kawa tertawa mendengar jawaban adiknya itu.


"Lalu?" Kawa mencoba memancing amarah adiknya.


"Abang masih tanya lalu?? abang tega ya mau menghancurkan hubungan aku sama Mario" Biru merajuk, wajahnya memelas. "Please bang...jangan dia donk, kan aku bilang bapak-bapak saja" Biru kembali mengingat kalimatnya tempo hari.


"Hanya itu yang cocok" Kawa beralasa.


"Abang bohong ih, kenalan abang mah banyak, masa iya cuma dia saja" Biru protes.


"Aarrrrrgghhh abang" Biru mengucek rambutnya hingga berantakan, Kawa semakin tertawa gemas dibuatnya.


"Ya sudah sih, tunggu aja dulu selama 2 minggu..."


"Habis itu ganti ya bang?" Biru nampak senang mendengar kalimat itu.


"Kalau dua minggu aman-aman saja, baru deh nanti cari lagi"


"Yah abang....." Biru menjejakkan kakinya di lantai. Begitulah dia, adik yang selalu kolokan dan tak tahu aturan itu. "Bang...abang kok tega sih"


"Bukannya tega, tapi ini demi kebaikan kamu"


"Abang mah jahat" Biru bergegas pergi meninggalkan Kawa, melihat adiknya keluar ruang kerjanya, Kawa menggelengkan kepalanya dan kembali berkutat pada berkas yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Biru.


        Ponsel Kawa berdering bersamaan dengan selesainya Kawa menandatangani semua berkas.

__ADS_1


"Iya Pak Liun" jawab Kawa. "Iya, terima kasih sudah mengingatkan, hampir saja lupa"


Kawa bergegas meninggalkan ruang kerjanya setelah menutup sambungan teleponnya. Kawa berganti baju dengan batik lengan panjang. Malam ini dia akan menghadiri undangan di salahsatu pesta pernikahan koleganya.


Kawa yang ditemani Pak Liun sudah tiba di lokasi, sebuah ballroom hotel bintang lima menjadi tempat perhelatan pesta pernikahan tersebut. Setelah Kawa menyalami pasangan pengantin yang berbahagia, Kawa pun menikmati hidangan pesta. Beberapa kali dia disapa oleh para tamu undangan.


"Harusnya kita sudah sampai di sini" gumam suara yang tak jauh darinya. Kawa menengok ke belakang. Terlihat seorang gadis dengan rambut ikal, Kawa masih ingat dengan jelas siapa dia. "Sendirian?" tanyanya.


Kawa menatap Nadin dengan tatapan datar, tak menunjukkan rasa kaget sama sekali. "Iya" jawabnya singkat.


Nadin menyibakkan rambutnya dengan senyum menggoda. Bisa-bisanya dia masih punya wajah saat berbicara di depan Kawa, dan seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


"Dengar-dengar ada yang mau menikah?" Nadin  kembali menyunggingkan senyuman mautnya, tangan kanannya memegang gelas yang berisi orange juice. Kawa masih menggoda di matanya.


Kawa memasukkan sebelah tangannya di saku celananya, nampak tidak tertarik melanjutkan pembicaraan dengan Nadin.


"Eh...kamu sudah menerima tiramisu yang aku kirim? sekarang sombong nggak mau balas pesan aku"


Kawa semakin merasa muak dengan apa yang dilakukan Nadin. Tanpa menggubris Nadin yang masih nyerocos, Kawa meletakkan gelas minumnya dan berlalu. Nadin tersenyum sinis melihat Kawa berlalu.


"Tunggu saja tanggal mainnya, jika kamu pernah mempermalukan aku karena gagal menikah denganmu, maka kamu siap menerima hukumannya" gumamnya dengan sinis.


Kawa heran dengan Nadin yang nampak masih sendirian, bukannya Biru pernah bercerita jika Nadin sudah punya gandengan. Kenapa mendadak dia menjadi orang yang sedang mencari perhatian kepadanya. Kawa nampak gusar dengan kehadiran Nadin yang mengusiknya.


Terdengar dari panggung pengantin, bahwa acara lempar bunga akan segera dimulai. Kawa yang berada di pinggir sambil berbicara dengan tamu yang dia kenal pun tidak tertarik mengikutinya. Hanya mengawasi dari pinggir.


"Bagi yang jomblo atau yang belum menikah, silahkan merapat" teriak sang MC dengan semangat 45. Tahu jika Kawa masih lajang, maka orang yang diajak mengobrol pun meminta Kawa maju.


Hanya untuk sekedar senang-senang, Kawa akhirnya menuruti para sesepuh itu dan dia ikut bergerombol di antara para lajang lainnya. Dan saat bunga dilempar, tanpa usaha, bunga itu terbang tepat ke atas kepalanya, dan tangannya menangkap bunga tersebut.


"Yeee.....mas tampan yang nampaknya akan segera menikah, selamat mas, by the way...di mana kekasihnya?" tanya sang MC yang menanyakan keberadaan kekasih Kawa. Kawa hanya tersenyum simpul tanpa membalasnya.


"Oh...mungkin masnya masih jomblo" cerocosnya lagi, mungkin penglihatannya agak buram, sehingga tidak tahu jika orang yang dimaksud adalah Kawa, si pangeran pemilik Arjuna Group.


"Bentar lagi kamu akan jatuh kembali padaku" liriknya sinis, menatap Kawa dari kejauhan, senyum bengisnya pun keluar.

__ADS_1


__ADS_2