
Masa cuti kerjanya sudah usai, bahkan dia sudah melebihi masa cutinya dua hari. Kawa sudah memikirkan matang-matang untuk kembali lagi. Entah apa yang akan dilakukan Pak Broto setelah ini padanya.
"Aku pikir kamu nggak akan kembali" ujar Rendra yang duduk di kursi ruang tamu, rasa lega menyelimuti hatinya, tapi tidak dia perlihatkan.
"Kamu suka aku nggak kembali?" tanya Kawa melirik. Rendra tertawa kecil.
"Bukan...bukan itu, aku pikir kamu sudah menyerah" jawabnya. Kawa menoleh ke arah Rendra.
"Apa maksudmu?"
Rendra tertawa renyah, "Jangan menyerah, itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan"
Kawa hanya terdiam tidak menjawab, meskipun dia kembali, bukan berarti akan selamanya dia berada di sini.
"Aku sudah pikirkan, aku hanya akan menyelesaikan kontrak kerja ini" jawab Kawa enteng.
Rendra melihat sahabatnya itu. "Benarkah?"
Kawa mengangkat kedua alisnya, "Iya, kalau kamu kerasan, lanjutkan di sini" Kawa tersenyum. Rendra manyun, memainkan bibirnya. Jujur dia juga sudah mulai kerasan berada di kota ini, kota yang nyaman dan tenang, bahkan lebih ke suasana pedesaan.
"Kamu sudah pikirkan? Bukan karena kamu gagal mendapatkan Zahra kan?"
"Apa?" Kawa menatap tajam Rendra, Rendra kembali tertawa melihat ekspresi Kawa yang tidak terima merasa diejek oleh Rendra.
"Kamu belum gagal, bahkan kamu belum mencobanya. Dia single, dia tidak punya suami sekarang, dulu iya, jadi kamu jangan patah hati lagi" Rendra bangkit dari kursinya lalu menepuk pundak sebelah kanan Kawa dengan tangan kanannya, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan Kawa.
***
"Seenaknya kamu molor cuti dua hari. Memangnya ini perusahaan bapak moyangmu?" Pak Broto marah di ruangannya, Kawa sedang duduk di kursi depan meja Pak Broto. Dia hanya diam mendengar omelan tanpa henti dari bosnya tersebut.
"Kamu sudah saya kasih cuti, masih saja kurang, tahu nggak....kita kewalahan, kamu malah enak-enakan pulang kampung nggak balik-balik"
"Maaf Bos" jawab Kawa.
"Maaf...maaf...enak bilang maaf, pokoknya gaji bulan ini saya potong!"
"Iya Bos" Kawa pasrah, toh pikirannya sedang tidak berada di sini sekarang.
"Ya sudah kamu keluar, kerja yang bener, anak muda jangan malas-malasan!" umpatnya lagi. Kawa beranjak dari kursinya dan keluar ruangan, sebelum dia menutup pintu ruangan Pak Broto, dia berpapasan dengan Mayra, putri Pak Broto.
__ADS_1
Kawa menyunggingkan senyum tipis, Mayra melambaikan tangannya dan tersenyum ceria.
"Hallo..." Sapa Mayra... "Kawa kan?"
"Iya" jawab Kawa. "Permisi" imbuh Kawa pamit, kemudian dia berlalu. Mayra melihat Kawa menjauh darinya. Kini Mayra masuk ke dalam ruang Pak Broto.
"Dasar anak muda jaman sekarang, sudah dikasih enak, masih saja kurang enak, bukannya kerja yang bener malah malas-malasan, gimana nanti bekal untuk berumah tangga? istri dan anak mau dikasih makan apa kalau malas begitu!" Masih saja dia marah tidak jelas.
"Papa kenapa sih?" tanya Mayra melihat Papanya ngomel. Mayra melemparkan tas ransel kecilnya di kursi yang tadi diduduki oleh Kawa.
"Hah..." Pak Broto mengusap kasar wajahnya.
"Sabar Pa....Papa kenapa? Papa jangan marah-marah mulu, nanti darah tinggi papa kumat loh" Mayra mengingatkan.
"Kamu jangan sampai menikah dengan orang yang malas seperti Kawa, kalau tidak kasihan, sudah Papa pecat dia. sudah Papa kasih izin cuti, masih aja nyolong hari"
"Papa....sabar Papa...aku yakin dia sudah minta maaf kan? sudah lah, Papa jangan marah-marah mulu, lagian Papa juga nggak tahu kan dia kenapa bisa begitu, jangan-jangan ada keluarganya yang sakit atau bagaimana kan?" Mayra mencoba berpikir positif. "Nih Papa minum dulu" Mayra mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Papanya.
Mayra keluar dari ruangan Papanya, lalu dia masuk ke dalam toko.
"Maafin Papaku ya...dia memang gitu" Mayra duduk di kursi dekat kasir, Kawa sedang berada di meja kasir.
"Nggak apa-apa, memang salahku" Kawa tidak membela diri, dia sadar diri akan kesalahannya.
Mayra dengan penampilan tomboynya sedang memperhatikan isi minimarket, nampak hening belum banyak pelanggan yang datang hari ini.
"Nanti sore kosong?" tanya Mayra.
"Hum?" Kawa mendongak.
"Iya, nanti sore kosong? ada pembukaan bazar buku, kesana yuk?" ajak Mayra. Mayra memang gadis yang mudah akrab dengan siapa saja.
Kawa terdiam sesaat, sejujurnya dia tidak suka berada di keramaian, tapi tidak ada salahnya dia keluar sore ini.
"Boleh" jawab Kawa akhirnya.
Mayra tersenyum girang.
***
__ADS_1
Salah satu hal yang dinanti Zahra adalah acara ini, acara bazar buku yang dihelat setahun sekali. Dia bisa memilih banyak buku dan membelinya, salah satu hobby yang sangat dia sukai. Zahra berjalan sari satu stan ke stan yang lain mencari buku yang menarik baginya. Sore ini nampak cerah, stan pun ramai dipenuhi para pecinta buku. Zahra sudah menenteng beberapa buku yang berhasil memikat hatinya.
Sementara itu Kawa melepas helmnya, begitu juga Mayra.
"Seru juga naik motor" ujar Mayra sambil meletakkan helm di atas jok motor Kawa.
"Oh ya?" tanya Kawa. Mayra mengangguk.
"Akhir-akhir ini jarang banget naik motor, soalnya pernah jatuh, jadi agak trauma"
"Hah?"
"Eh tapi nggak apa-apa, kamu nyetirnya oke lah, aku nggak takut, seru, adem kena angin alami" Mayra terkekeh. "Masuk yuk" Mayra menarik tangan Kawa masuk ke dalam area stan buku.
Kawa hanya melihat-lihat, sedangkan Mayra antusias mencari buku yang sekiranya menarik.
"Aku suka baca, baca apa saja asal menarik" Mayra membuka percakapan, dia bercerita tanpa Kawa meminta. "Dan aku suka beli banyak buku saat ada bazar seperti ini"
Kawa hanya diam sambil mengangguk, dia memang tidak suka membaca buku, makanya dia hanya ikut saja melihat-lihat.
"Aku kesana dulu ya" Mayra berjalan ke stan yang ditunjuk agak jauh dari Kawa berdiri. Kawa kembali mengangguk.
Bruuuk.....
"Oh maaf maaf..." Kawa menunduk saat melihat buku berceceran, dengan cekatan dia membereskan buku tersebut sambil berjongkok. Di depannya, gadis berjilbab nampak juga berjongkok.
"Tidak apa-apa" jawab suara dari gadis itu.
Sesaat setelah melihat gadis yang ada di depannya, Kawa tertegun, begitu juga yang dirasakan gadis itu, yang tak lain adalah Zahra.
Terasa hening bagi keduanya meskipun suasanya ramai di sekitarnya.
"Maaf" Kawa membuyarkan keheningan dengan memberikan setumpuk buku yang jatuh tadi pada Zahra, Zahra tersenyum kaku sambil menerima buku tersebut. Mereka sama-sama kembali ke posisi berdiri.
"Aku yang maaf, jalan tidak melihat yang ada di sekitar, terima kasih sudah membantu merapikan" ucap Zahra.
"Sama-sama" Kawa menatap gadis yang ada di depannya lekat, suatu pertemuan yang tidak disengaja, membuatnya bahagia sekaligus bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia masih punya kesempatan.
Setelah berhari-hari, Zahra kembali melihat sorot mata Kawa lagi, hatinya terasa berbeda, ada perasaan lega saat melihat Kawa kembali, tapi dia tidak bisa mengartikannya.
__ADS_1
Mereka tengah merasakan bahagia, namun tak bisa dijelaskan, dan bahkan mereka enggan menjelaskan. Banyak hal yang mereka simpan, entah hal itu akan mereka utarakan atau mereka pendam. Mereka sibuk dengan perasaan masing-masing.
Terima kasih yang sudah baca, semoga suka. Jauh dari ekspektasi sebenarnya, semoga kelak banyak yang baca. hihihi