Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 52 : Makan Siang Penuh Cinta


__ADS_3

Suasana ruang rapat nampak khidmat, Kawa yang turun tangan langsung memaparkan rencana proyeknya. Hanya ada beberapa orang di dalam ruangan tersebut, nampak 3 orang investor dan seorang asisten yang cantik berada di balik meja. Sedangkan Kawa didampingi oleh Pak Liun, dan seorang bawahannya.


Setelah memaparkan rencana proyeknya, terlihat para investor nampak puas dengan paparan dari Kawa. Nampak jalinan kerjasama akan berlanjut.


"Bagaimana, apakah ada yang ditanyakan Tuan,?" tanya Pak Liun dengan ramah. Nampak 3 orang investor tersbut terlihat saling berpandangan dan melemparkan senyum.


"Nampaknya kita akan segera tanda tangan," gumam seorang laki-laki yang agak gemuk dengan rambut yang memutih itu, melihat hal itu, Kawa tersenyum senang dengan hasil positif ini. Asisten mereka yang cantik segera membuka file yang sedianya jika berjasama terjalin, itu akan ditanda tangani.


Asisten tersebut berdiri dan menyerahkan berkas itu pada Kawa. Kawa yang tak asing dengan wajah wanita itu bertanya dalam hati, karena dia merasa tak asing dengan wajah wanita itu.


Setelah selesai menandatangani semua itu, Pak Liun membantu Kawa merapikan berkas dan menyerahkan kembali ke pihak investor.


"Ini adalah perjanjian awal, setelah ini kita bisa bertemu lagi dan membahas lanjutannya," gumam laki-laki yang tadi.


"Sangat kita tunggu," Kawa berdiri dan mendekat ke arah mereka bertiga, bergantian berjabat tangan. Tak lupa wanita tadi juga menjabat tangan Kawa.


"Terima kasih Tuan," ujarnya dengan senyum penuh arti.


"Selanjutnya kita akan sering bertemu, mungkin asisten kami yang cantik ini yang akan banyak membantu nanti," seru laki-laki yang ada di sebelahnya. Kawa kembali mengangguk dengan senyumnya.


Pertemuan berakhir setelah 2 jam, Kawa hendak kembali ke ruangannya. Para tamu pun sudah undur diri.


"Selamat siang Pak, mohon maaf, nyonya sudah menunggu di dalam," sahut Nadia dengan ramah. Mendengar panggilan nyonya, Kawa mengerutkan kening.


"Nyonya Zahra," Nadia memperjelas. Kawa memejamkan mata dan mengangguk, tertawa kecil. Menertawakan ketidakwarasannya yang lupa jika yang dimaksud adalah Zahra.


"Oh iya," Kawa segera menuju ruangannya, sedangkan Pak Liun tidak serta merta ikut masuk ke dalam karena memberikan waktu untuk Kawa. Karena ini juga sudah masuk jam makan siang.


Kawa membuka pintu ruangannya, nampak Zahra sedang duduk membaca sebuah buku menghadap ke kaca jendela ruangannya, mendengar suara pintu terbuka. Zahra menoleh dan melihat suaminya sudah berada di ambang pintu. Zahra tersenyum, berharap Kawa tak marah saat dia datang kesini.


"Abang marah aku datang,?" pertanyaan pertama Zahra pada suaminya.


Kawa bergegas menutup pintu dan memeluk istrinya, "Iya marah, marah banget," guraunya, disambut dengan senyum Zahra. Kawa melihat tas warna krem di atas meja kerjanya.

__ADS_1


"Apa itu sayang,?" tanyanya setelah melepas pelukannya.


"Makan siang," Zahra berbinar, berharap Kawa suka dengan menu yang dia bawa.


"Wow...pas banget, jam makan siang, dapat kiriman makan siang dari istri," Kawa nampak sangat senang, dia merasa terkejut dengan kedatangan istrinya ke kantor. Zahra pun segera membuka tas tersebut dan menata hidangannya.


"Sayur asem, semoga abang suka,"


"Pasti suka," Kawa mengangguk. Dia melepas jasnya, Zahra membantunya dan menggantungnya di tempat jas. Kawa menunggu Zahra menata makanan hingga siap dia santap.


"Makanlah bang,"


"Makan,?" Kawa melihat istrinya, kini mereka sedang duduk di sofa. Zahra mengangguk.


"Makan sama kamu lah, nggak enak kalau sendirian," Kawa bersiap menyuap ke arah Zahra.


"Abang dulu ih, masa iya yang lapar abang kok malah aku yang disuapin," Zahra menyiapkan air minum untuk Kawa.


"Ya udah aku makan dulu," Kawa menyuapkan nasi dan mencicipinya. "Siapa yang masak?," Kawa mengangguk-angguk menikmati masakan yang dibawa istrinya.


"Enak banget masakan istriku," puji Kawa sambil terus makan dengan lahapnya. Terasa sederhana sekali kebahagiaannya, tak perlu mewah, dan kini dia merasakan betapa beruntungnya dapat istri seperti Zahra.


Tak lupa Kawa menyuapi Zahra, "Nah makan gini kan lebih enak," Zahra mengambil tisu dan mengelap nasi yang jatuh ke dagunya.


        Hampir 1 jam mereka menikmati makan siang bersama, tak hanya makan, mereka bercanda. Ini adalah pengalaman pertama Zahra ke kantor suaminya.


Kawa keluar ruangan dan menggandeng istrinya dengan mesra.


"Harusnya kamu pulang bareng aku aja yang," pinta Kawa. Tapi Zahra menolak, karena dia tahu ini bukan tempat nongkrong, bukan tempat rekreasi, dengan kedatangannya saja Kawa pasti sudah banyak membuang waktu. Dia tak mau mengganggu suaminya bekerja setelah ini.


"Nggak ah, kan abang harus kerja," Zahra menolak, dia melihat ke arah samping, melihat suaminya yang menjulang itu.


"Ya nggak apa-apa, buat itsri nomor satu," Kawa mengacungkan jarinya telunjuknya menunjukkan angka 1. Zahra tersenyum senang, dia sangat-sangat berharap jika suaminya itu benar-benar tulus dalam hal apapun tentangnya.

__ADS_1


"Bang....," panggil Zahra sesaat setelah mereka keluar dari lift, mereka sudah tiba di lobby.


"Apa sayang,?" sahut Kawa masih terus menggandeng istrinya. Tak peduli jika banyak pasang mata yang melihat itu semua, dan bahkan ada yang masih mempertanyakan status Zahra. Mereka sangsi apakah benar itu istri Kawa.


"Apa kamu nggak malu jalan sama aku,?" Zahra masih menunjukkan rasa tidak percaya diri.


"Kamu ngomong apa,?" Kawa menghentikan langkahnya dan menatap istrinya, lalu dia mengelus puncak kepala Zahra yang tertutup jilbab warna abu-abu itu. Zahra menatap banyak pasang mata yang seolah sedang menggunjing dirinya yang sedang mesra dengan Kawa.


"Apa perlu aku menggendongmu,?" Kawa tersenyum. Zahra pun ikut tersenyum, dia memukul pelan lengan suaminya itu.


"Ish abang,"


"Nah iya kan, serius ini aku," Kawa merentangkan tangannya, pemanasan bersiap menggendong Zahra.


"Enggak," Zahra mengibaskan tangannya di udara.


Mereka berdua kembali berjalan, masih tetap sama tidak mempedulikan banyak mata yang melihatnya.


"Awas aja mereka yang bersikap tak sopan akan aku pecat," gumamnya.


"Ish jangan bang, kejam amat, mereka punya keluarga untuk dinafkahi," Zahra mengingatkan. Kawa kembali tertawa, tidak semudah itu juga dia melakukannya. Hanya saja mungkin perlu memberikan bimbingan mental agar mereka tak suka bergosip ria, dan tak suka mengghibah urusan orang.


    Kawa mengantar Zahra hingga di depan, memastikan istrinya duduk manis di dalam mobil yang dikemudikan mang Oding.


"Mang hati-hati, jangan sampai lecet sedikitpun," Kawa memperingatkan.


"Siap Tuan," jawab Mang Oding sigap. Zahra membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada Kawa.


"Hati-hati," gumam Kawa.


"Iya bang, balik dulu....Assalamualaikum...,"


"Waalaikumsalam..." balas Kawa sambil melambaikan tangannya. Mobil pun melaju.

__ADS_1


Nampak dari jauh, seorang perempuan dari dalam mobil tersenyum sinis melihat Kawa yang masih mematung di sana.


__ADS_2