
Mendengar suara nyaring dari bibir mungil seorang gadis kecil, membuat Oma Rima menghentikan sejenak rasa kagumnya pada gadis berjilbab yang tak lain Zahra itu. Dia menoleh ke arah Kawa, seolah sedang meminta penjelasan. Kawa yang memahami situasi ini segera memberikan kode dengan tangannya yang terangkat sedikit di depan dadanya, begitu juga dengan Papa dan Bundanya.
Dengan bahasa tubuhnya, Kawa seolah mengatakan bahwa dia akan menjelaskannya setelah ini. Ini salahnya karena tak ada waktu untuk menjelaskan rentengan peristiwa yang berkaitan dengan Zahra itu.
Zahra yang sudah diantar Dira pun duduk di dekat Pak Latif, sedangkan Dira menjauh dari sana, dia lebih memilih bermain di luar bersama dengan anak yang seusianya.
Pak RT yang menjadi juru bicara keluarga Zahra pun memulai dengan menyampaikan beberapa patah kata di mana ada ucapan permintaan maaf karena disambut dengan sederhana, permintaan maaf karena meminta acara lamaran diminta secara mendadak.
"Perkenalkan saya Papa dari Kawa yang hendak meminang putri dari Bapak, saya Saga" ujar Saga memperkenalkan dirinya. Mereka semua mengangguk, ayah Zahra sibuk melihat Papa Kawa itu dengan seksama, seolah dia benar-benar tak asing dengan wajah itu.
"Niat kami kesini adalah untuk meminang putri Bapak dan Ibu, kami sebagai orang tua meminta izin dengan datang kesini, mohon maaf jika ada kekurangan dari keluarga kami, dan harapan kami, niat baik ini bisa mendapat sambutan yang baik pula dan sesuai dengan keinginan kami"
Suasana nampak hening, hanya terdengar Saga yang menyampaikan keinginan tersebut, dia melihat paras Zahra yang anggun, yang cantik dalam balutan jilbab warna krem. Dalam hati dia merasa bahwa gadis itu cocok mendampingi putranya. Meskipun ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu, tapi dalam hatinya dia yakin jika gadis itu bukanlah gadis yang sama dengan kekasih Kawa terdahulu.
"Terima kasih atas niat baiknya, untuk pertautan dua hati ini, saya selaku perwakilan dari keluarga akan menanyakan kepada yang bersangkutan, apakah bersedia atau tidak" jawabnya dengan senyum. Laki-laki berpeci hitam itu melemparkan pandangannya ke arah Zahra dan juga kedua orang tua Zahra. Pak Latif dan Bu Latif pun menatap Zahra. Zahra mengangguk memberikan isyarat.
Senyum Bu Latif mengembang, berbeda dengan Pak Latif yang nampak tegang dengan prosesi lamaran itu. Mendengar hal tersebut, Kawa nampak lega. Begitu juga yang lainnya, Biru yang bertugas membawa cincin pertunangan pun segera berdiri, begitu juga Kawa. Mereka bertiga berdiri di depan, Kawa mengambil satu cincin yang kemudian dia sematkan di jari manis Zahra, dan sebaliknya, Zahra mengambil cincin dan menyematkan di jari manis Kawa. Dan suara tepuk tangan pun terdengar. Mereka memarken jari masing-masing, jepretan kamera pun mengabadikannya. Rendra yang menjadi seksi dokumentasi pun tak hentinya mengabadikan momen tersebut.
Seusai acara inti, mereka pun makan bersama di teras rumah yang luas itu. Kawa yang sedang makan bersama Rendra pun nampak sedang digoda oleh Rendra.
"Oh jadi dia guru?" gumam Ganis saat mendengarkan Bu Latif bercerita. Mereka tengah asyik mengobrol.
"Maaf ya jeng, kita akan besanan tapi saya belum mengenal calon mantu saya" Ganis merasa bersalah.
"Ah tidak mengapa jeng, semoga kelak mereka bahagia"
"Iya Amin..." balas Ganis sambil menikmati masakan yang disuguhkan.
__ADS_1
"Oh ya...saya juga belum tahu calon mantu saya itu secara mendalam"
"Oh...begitulah dia jeng, mohon dimaafkan kalau banyak kelirunya nanti, terkadang masih belum dewasa dalam bertindak, dan dia kerjanya juga ya...seadanya"
Hanya saja Bu Latif nampak kurang percaya dengan apa yang didengarnya, karena dari tampilan keluarga Kawa, dia bisa menilai jika Kawa berasal dari keluarga yang berada.
"Ah jeng bisa saja, yang penting anak-anak bahagia jeng" Bu Latif tersenyum. "Oh ya...kenapa saya merasa tidak asing dengan wajah Papanya Kawa ya jeng, dan jeng Ganis juga" Bu Latif terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
Ganis hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Latif tanpa menimpali.
"Ayo jeng diicipi masakan kami yang ala kadarnya" Bu Latif menawarkan kue pada Ganis yang telah menyelesaikan makannya.
"Iya terima kasih jeng, jangan begitu, ini enak kok" Ganis mengambil salah satu kue basah yang terbungkus dari daun pisang itu.
Sementara Saga sedang berbicara dengan Pak RT dan juga ayah dari Zahra.
"Jadi Bapak ini punya perusahaan?" tanya Pak RT.
"Saya mengenal putra Bapak sebagai pekerja di salah satu toko di sini" sahut Pak Latif.
"Iya, anak itu kalau inginnya begitu ya akan dilakukan, dia agak keras kepala" ujar Saga. "Saya mohon maaf jika ada kekurangannya" Saga menyunggingkan senyum.
"Awalnya saya berat melepaskan putri saya, karena saya trauma dengan masa lalunya" Pak Latif membuka cerita.
Saga yang sama sekali tak tahu tentang Zahra pun nampak seksama mendengarkan cerita dari Pak Latif, hanya saja tak mendalam mereka bercerita. Karena dalam posisi sedang banyak orang.
***
__ADS_1
Oma Rima segera memanggil Ganis dan Saga setelah makan malam.
"Apa yang saya lihat tadi?" Oma Rima melihat Ganis dan Saga bergantian. "Apakah dia sudah menikah sebelumnya dan punya anak?" tanya Oma Rima.
Ganis dan Saga yang belum tahu cerita seutuhnya pun perlu mendengarkan cerita yang utuh. Saga yang melihat keluarganya ngumpul di ruang tamu pun segera kesana.
"Nah ini dia yang bisa menceritakan" Ganis menepuk punggung Kawa lembut.
"Kawa....cucu Oma...kamu tidak menceritakan siapa calonmu sebelumnya" Oma Rima menatap cucunya dengan lembut.
"Adakah yang salah?" Kawa bertanya. Ganis terdiam, menunggu reaksi Oma Rima dan Saga. Dia akan menjadi benteng dan membala Kawa jika situasi tidak memungkinkan.
"Apakah dia janda?" tanya Oma Rima.
"Aku cinta dia Oma, dan aku siap menerimanya" jawaban Kawa membuat Oma sedikit terkejut.
"Gadis kecil yang ada di sebelah dia itu bukan anaknya, tapi dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri" Kawa memulai bercerita. Saga yang dari tadi diam saja pun khidmad mendengarkan putranya itu bercerita. Kawa menceritakan tentang siapa Zahra dan masa lalunya, begitu juga dengan keluarganya.
Ganis merasa tercekat dengan cerita Kawa, dan dia bangga bahwa putranya itu memiliki hati yang luas bisa menerima masa lalu Zahra dan keluarganya.
"Ini bukan aib, Ma" ungkap Ganis akhirnya.
"Iya, Mama tahu...maafkan Mama sudah salah sangka, dan Oma hanya bisa mendokan semoga kalian bahagia, tidak ada lagi yang menyakiti cucu Oma" Oma Rima memegang wajah Kawa dengan lembut, betapa sayangnya dia pada laki-laki tampan duplikat putranya itu.
"Sudahlah lanjutkan apa yang jadi mimpimu, semoga kamu bahagia"
"Terima kasih Oma...Papa dan Bunda" Kawa mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Ganis pun tersenyum kecil, melihat putranya yang akan segera menikah itu. "Lain waktu, ajaklah dia kesini" pintanya.
Waktu berlalu begitu cepat, dan mereka semua mengharapkan yang terbaik dari salah satu pewaris tahta Arjuna Group itu, yang tak lain adalah Kawa.