
Ruang pertemuan di kantor yang dipimpin oleh Kawa nampak sudah sangat ramai, ada ratusan orang dengan pakaian formal sudah berada di sana. Sebenarnya bukan agenda resmi, hanya saja sebagai bentuk penguatan kerja sama agar jalinan bisnis semakin bagus ke depannya.
Kawa melupakan sejenak tentang tiramisu yang ada di meja ruangannya, Pak Liun dna juga Nadia silih berganti masuk ke ruangannya menyampaikan jika kehadirannya sudah ditunggu oleh para rekan bisnis yang bekerja di bawah perusahaannya.
“Silahkan Tuan” Pak Liun membungkuk. Kawa segera bangkit dari kursinya, kembali mengenakan jas hitamnya yang dia lepas sejak tadi. Kawa menata jasnya agar rapi. Kawa keluar dari ruangannya diikuti oleh Pak Liun. Kawa yang beberapa minggu lalu mengenakan pakaian karyawan di salah satu toko binaan perusahaannya, kini tampil dengan sangat berbeda dengan jas formal warna hitam.
Pak Liun memencet tombol di lift, mereka bertiga berada di dalamnya, Kawa, Nadia, dan Pak Liun. Dan tak butuh waktu panjang, mereka tiba di lantai di mana para rekan bisnis sudah berkumpul.
“Aku tudak sabar melihat atasan kita yang baru” seru seseorang itu dengan gelak tawa.
“Iya, sama, jarak jauh pun tak jadi alasan untuk aku bisa berada di sini” sahut laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Di ruangan sana tak hanya laki-laki saja, banyak juga para perempuan tangguh yang menjadi rekan bisnis di perusahaannya.
Rayyan memasuki rungan tersebut, dia menundukkan kepala memberikan hormat kepada para rekan kerja binaannya sebelum dia duduk di kursi yang sudah tertata di yang paling depan. Terlihat Pak Liun yang berdiri di samping Kawa. Sedangkan Nadia duduk tak jauh dari Kawa, jika sewaktu-waktu atasanya itu membutuhkan sesuatu.
Suasana yang tadinya ramai mendadak hening.
“Selamat siang, perkenalkan saya Kawa Nayottama, saya yang akan menjadi nahkoda di perusahaan ini, semoga kita bekerjasama dengan baik” Kawa membuka perkenalannya.
Sementara itu di salah satu bangku, nampak seorang laki-laki memelototkan matanya. Karena saking tidka percayanya dengan apa yang dilihat, dia mengucek matanya. Dan masih kurang percaya lagi, dia membuka tas hitam yang dia letakkan begitu saja di lantai, dia mencari kacamata. Dan benar saja, wajah itu sungguh tak asing lagi di ingatannya. Dia nampak lemas dengan apa yang dilihatnya.
“Saya mengundang saudara semua kesini dalam rangka ingin berkenalan, agar perjalanan bisnis ini semakin bagus, di mana kita bisa mengeratkan jalinan, mengetahui kekurangan dan semakin memajukan” ujar Kawa bersemangat, tak lupa senyum pun mengembang dari bibirnya. “Apakah saudara semua siap?”
“Siap” jawab mereka kompak, suara gemuruh tepuk tangan pun bergema di ruangan tersebut.
Nampak laki-laki yang tadi masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Kalimat demi kalimat mengalir, hampir satu jam Kawa berada di ruangan tersebut. Dan acara selanjutnya adalah ramah tamah, Kawa mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang berada di ruang sebelahnya. Ruangan yang tak kalah luas dengan ruangan sebelumnya. Kawa nampak berbincang ramah dengan beberapa orang yang menyapanya, Pak Liun berada di samping Kawa.
“Silahkan Tuan” Pak Liun mempersilahkan Kawa memasuki ruangan dan menuju meja VVIP.
“Tidak usah Pak Liun, saya bergabung dengan para tamu saja.
“Baik Tuan”
Sebelum Kawa ikut menikmati jamuan, pandangannya tertuju kepada seseorang yang tak asing baginya.
“Selamat siang big bos” Kawa mengulurkan tangannya pada seseorang itu. Nampak orang itu yang tak lain adalah Pak Broto terlihat salah tingkah. Kemudian dia menyambut uluran tangan Kawa.
“Pak Kawa” sahutnya malu-malu, ingatannya kembali pada peristiwa yang telah lalu. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang membuat citra buruk di depan Kawa, hal yang sama sekali tak pernah dia duga. Bahwa Kawa lah yang memimpin perusahaan tempat dia mencari nafkah. Betapa dia tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
“Bagaimana kabar Pak Broto?” Kawa bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, sementara itu Pak Broto semakin merasa tersiksa dengan tindakan Kawa yang seperti menjadi hukuman baginya itu.
“Panggil saja Kawa” sahut Kawa merendah, masih seperti saat awal mereka berjumpa. Tentu saja hal itu tak akan dilakukan oleh Pak Broto saat ini, tak mungkin dia akan memanggil pemimpin perusahaan itu dengan sebutan nama. Sungguh dia mengutuk dirinya sendiri.
“Senang mendengarnya? Apakah toko berjalan dengan baik?” Kawa teringat akan toko yang dia tinggalkan bersama dengan Rendra.
“I-iya…Pak, semua berjalan dengan baik” jawabnya gugup, selepas Kawa dan Rendra mengundurkan diri. Dia mendapatkan karyawan baru, dia sangat senang saat dua pemuda itu mengundurkan diri saat itu. Tapi kini, ah nasi sudah menjadi bubur. Dalam angannya, dia merasa bahwa karirnya akan segera tamat. Tinggal menunggu waktu. Ingatannya juga kembali pada perkataan Rendra yang mengatakan bahwa Kawa lah yang berkuasa. Itu ternyata bukan isapan jempol semata.
“Semoga hari big bos menyenangkan, saya ke sana dulu, selamat menikmati” Kawa berpamitan, tak lupa menyunggingkan senyumnya pada laki-laki itu. Polah Kawa yang penuh sopan santun itu benar-benar sedang mengulitinya, tak tahu mukanya sudah seperti apa sekarang, dia sungguh malu.
Rendra tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Kawa, nampak sangat puas dan dia membayangkan
bagaimana ekspresi mantan bosnya itu.
__ADS_1
“Andai aku tahu, pasti udah habis tuh manusia sombong” guraunya.
“Biarin ajalah” Kawa tak ambil pusing dengan apa yang dilakukan oleh Pak Broto dulunya.
“Ha..ha..ha..sumpah aku bisa banget ngebayangin wajahnya itu saat melihat kamu ada di depan sana”. Kasian banget tuh si Mayra punya bapak modelan begitu. Kamu pernah dihina-hina karena nggak sepadan sama dia, beuuuh….ingin aku cium dia pakai uang sekoper tahu nggak”. Rendra kembali terkekeh. Sehabis kerja, Kawa menyempatkan diri bertemu dengan Rendra yang ditempatkan bekerja di kantor yang berbeda darinya.
“Dahlah biarin aja”
“Untungnya kamu nggak sama Mayra, meskipun Mayra sebenarnya suka sama kamu”
Kalimat itu sontak membuat Kawa menatap Rendra.
“Nggak percaya?” Rendra mengangkat kedua alisnya. “Beneran bro, dia sebenarnya suka sama kamu”
Kawa tersenyum tipis, karena dia sudah merasa jika memang kejadiannya seperti itu. Hanya saja dia tidak menanggapi, agar persahabatannya tidak pernah ternodai dengan cinta yang tak berbalas itu.
Suara music café mengalun menyambut datangnya senja.
“Bagaimana dengan persiapan nikahmu? Aman kan?”
Kawa mengangguk kecil, karena semua sudah dia pasrahkan pada WO, dan Zahra pun termasuk makhluk yang sangat simple dan tidak merepotkan sama sekali berkaitan dengan acara pernikahan mereka. Mereka yang tidak bisa bertemu setiap hari tak menjadi masalah.
“Oh ya, kemarin aku nggak sengaja lihat Nadin” gumam Rendra. Kawa hanya melihat sekilas tak menimpali, teringat akan tiramisu yang ada di meja kantornya, dibiarkan tak disentuh olehnya.
Kawa meyakini jika tiramisu itu dari Nadin, dan pesan yang masuk itu juga dari Nadin. Kawa kembali mengecek ponselnya, membiarkan pesan tersebut tak berbalas.
Bantu like dan vote ya man teman, biar penulis semakin semangat melanjutkan...thank you....
__ADS_1