Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 11 : Bertandang Tanpa Sengaja


__ADS_3

Dengan wajah angker seperti biasanya, Pak Latif, Ayah Zahra duduk di ruang tamu sambil memperhatikan tamu yang datang. Bu Latif, istrinya duduk di samping Pak Latif sesaat setelah menyuguhkan teh.


"Jadi maksud kedatangan saya kesini adalah untuk meminang putri Bapak" ujar seorang lelaki yang berumur sekitar 40 tahunan.


Pak Latif melihat laki-laki itu, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, menahan rasa kesal. Entah harus bagaimana dia mengatakan jika putrinya tak akan bisa dilamar oleh siapapun. Baginya, Zahra adalah suami orang.


"Atas dasar apa saudara meminang putri saya yang sudah bersuami?" tanyanya sambil menahan amarah.


Laki-laki itu mendongak melihat wajah Pak Latif, "Maaf Pak, setahu saya Zahra putri Bapak sudah tidak terikat pernikahan" ujarnya dengan sopan. Lagi-lagi Pak Latif melihat tajam ke arah laki-laki itu sambil menahan amarah.


"Saya dengan tegas menolak lamaran saudara, yang perlu saudara tahu, anak saya sudah bersuami, tidaklah elok jika saudara melamar istri seseorang" sergahnya, dia mentah-mentah menolak.


Entah ini sudah yang keberapa kalinya Zahra dipinang oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal, Pak Latif sudah hampir kehilangan kesabaran.


"Yah...sampai kapan?" tanya Bu Latif dengan lembut, sesaat setelah laki-laki yang hendak meminang Zahra pamit undur diri.


"Sampai kapan? Ibu bilang sampai kapan?" Pak Latif berdiri dari kursinya, berdiri mematung di dekat jendela sambil melihat ke arah luar. "Zahra sudah punya suami, dan kewajiban baginya untuk menunggu dan berbakti kepada suaminya"


Bu Latif menghela nafasnya, dengan segala kesabaran yang dia miliki. Dia mendekat ke arah Pak Latif di dekat jendela. "Yah....Zahra sudah menunggunya, tidak ada maksud darinya untuk menghianati Altaf suaminya, sejak perjodohan itu, Zahra sudah tidak pernah punya permintaan apa-apa, bahkan hingga kini, dan Ibu rasa kini saatnya kita menerima kenyataan" Bu Latif membuka unek-unek yang selama ini dia pendam.


Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Zahra mendengar apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya itu, bahkan saat ada laki-laki yang meminangnya tadi. Zahra sedang berdiri di ruang makan yang sangat dekat dengan ruang tamu. Sesekali dia memejamkan mata, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Maksud Ibu? Ibu juga percaya jika suami Zahra sudah meninggal? hah?" ujarnya dengan nada tinggi. Bu Latif sudah sangat hafal dengan tabiat suaminya, begitu juga Zahra yang mendengar dari dalam pun tak kalah terkejut dengan nada tinggi Ayahnya.


"Bukankah sudah jelas Yah, jika Kesatuan tugas pun menyatakan demikian?" Bu Latif masih mendebat.


"Jika suatu saat nanti dia pulang dengan selamat, apa yang akan Ibu lakukan? hah?"


Bu Latif tidak memberikan tanggapan, baginya itulah kenyataan, bahwa Altaf telah meninggal. Yang dia harapkan dari situasi ini adalah bagaimana Pak Latif bisa membebaskan Zahra.


Pak Latif meninggalkan Bu Latif, dia melangkah keluar rumah. Bu Latif menghela nafasnya, perdebatannya masih sama, tak ada hasil. Bu Latif mendekat ke arah meja, lalu mengemasi bekas minuman yang tadi disuguhkan untuk tamu, lalu membawanya ke dalam.


"Zahra...." ujar Bu Latif, Zahra mendongak melihat Ibunya, dia mencoba mengulas senyum di bibirnya. Tangannya dengan cekatan mengambil alih baki yang ada cangkir bekas teh tadi.


"Biar Zahra yang bawa masuk Bu" Zahra segera melangkah menuju dapur dan segera mencuci cangkir tersebut, Bu Latif mengikuti putrinya tersebut.


"Ibu sudah berusaha, dan akan terus berusaha" Bu Latif bersandar di tembok, Zahra masih sibuk dengan air dan sabun. "Kamu tidak boleh selamanya seperti ini, perjalanan kamu masih panjang. jangan seperti kakakmu"

__ADS_1


Zahra telah selesai mencuci cangkir dan meletakkan di rak basah, dia menoleh ke arah Ibunya. Menata hati dan mencoba menghiasi bibirnya dengan senyum.


"Terima kasih Bu, Zahra akan bersabar...kelak jika memang ditakdirkan Zahra dengan status baru, Maka Allah akan membuka jalan" ujar Zahra diplomatis, menghibur dirinya sendiri.


 


"Zahra......"


"Ya Bu?"


"Apakah kamu sudah menemukan tambatan hati yang baru?" tanya Bu Latif pelan.


Zahra melihat Ibunya, lalu menggeleng.


"Zahra, kamu bebas, kamu bebas menemukan tambatan hatimu, kamu bukan istri orang lain, Altaf sudah meninggal, kamu berhak bahagia" Ibunya meyakinkan.


***


Semalaman Kawa memikirkannya, benda yang ada di tangannya, benda penting Zahra, yang tanpa sengaja dia temukan di minimarket.


"Rumahnya nggak jauh dari sini Mas" ujar Mak Irah sambil meletakkan sepiring nasi uduk dan teh hangat saat Kawa bertanya ke mana arah rumah Zahra, meskipun sudah berbulan-bulan dia berada di kota ini, dia belum hafal betul arah dengan baik.


Motor Kawa berhenti di sebuah rumah berpagar putih rendah, rumah sederhana dengan halaman yang agak luas, dia segera turun dari motornya, lalu meletakkan helmnya di jok motor. Agak ragu saat dia mendekat ke pintu pagar yang juga berwarna putih. Rumah tersebut nampak sepi.


"Teng..teng..." Kawa menggerak-gerakkan kunci pagar. "Assalamualaikum"


Tak berapa lama Zahra keluar dari rumahnya, kebetulan dia sedang membersihkan ruang tamu saat mendengar suara pagar. Zahra memicingkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Waalaikumsalam" jawab Zahra sambil mendekat ke arah pagar. Benar saja, Kawa sedang berada di depan rumahnya.


Zahra membuka pintu pagar, "Iya...ada yang bisa dibantu?" tanya Zahra datar.


"Eh maaf mbak kalau menganggu, hanya ingin mengembalikan ini" Kawa mengeluarkan sebuah kartu ATM yang bertuliskan nama Zahra Adinda Latif.


Zahra memperhatikan sebuah kartu yang digenggam oleh Kawa, benar saja itu adalah kartu ATMnya. Bagaimana dia tidak sadar telah menjatuhkannya.


"Kemarin mungkin jatuh pas di minimarket" Kawa menyerahkan kartu tersebut, perlahan tangan Zahra menerima kartu tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih" ucapnya datar sambil mengangguk.


"Oh...ya sudah, saya langsung balik" ujar Kawa. Zahra kembali mengangguk, tanpa menunggu Kawa menghilang dari pandangan, dia segera masuk ke dalam rumah.


"Siapa?" tanya Pak Latif.


"Oh...pelayan minimarket Yah, mengembalikan ini" Zahra mengangkat kartu ATMnya.


"Kenapa bisa ada di tangannya?" Pak Latif masih menyelidik.


"Kemarin jatuh Yah"


Zahra pamit meninggalkan Pak Latif yang segera keluar rumah, dia selalu merasa was-was jika ada laki-laki yang dekat dengan putrinya.


"Siapa nak?" tanya Bu Latif.


"Oh...ini Bu, karyawan minimarket mengembalikan kartu ATM Zahra"


"Oh...masih rejeki, berarti dia orang yang baik"


Zahra tersenyum tipis mendengar Ibunya berkata demikian.


"Ayahmu lihat?" tanya Ibunya. Zahra mengangguk.


Zahra segera masuk ke dalam kamar, dan kembali menyimpan kartu ATMnya di dalam dompet.


"Zahraaa......" panggil Ibunya lagi.


"Ya Bu" Zahra segera keluar kamarnya lagi dan mendekat ke Ibunya.


"Kamu sudah mempersiapkan acara ulang tahun Dira? ya...meskipun kecil-kecilan kan butuh persiapan juga"


"Iya Bu, nanti Zahra siapkan" Ulang tahun Dira yang akan dihelat 3 hari lagi.


"Tidak perlu mewah, yang penting dia senang" ucap Ibunya.


"Baik Bu"

__ADS_1


Zahra kembali berfikir, apa saja yang perlu dia siapkan untuk ulang tahun Dira. Apakah hari ini memang takdir untuk kembali bertemu dengannya? di saat tengah libur, masih saja dia bertemu dengan Kawa, seseorang yang ingin dihindarinya.


__ADS_2