
Zahra nampak cekatan saat berada di dapur, meskipun Ganis dan Oma Rima sudah melarangnya, namun Zahra yang sudah terbiasa berada di dapur untuk membantu Ibunya atau melakukan masak sendiri merasa ini sudah kebiasaan yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.
"Harusnya Nona berada di depan saja" kata Mbak Marni, merasa tak enak dengan apa yang dilakukan Zahra. Zahra membantu mencuci piring setelah makan bersama.
"Tidak apa-apa mbak" jawab Zahra lembut. Membuat mbak Marni salut jika calon istri majikannya itu sangatlah ramah. Berbeda sangat dengan mantan calon Kawa yang terdahulu.
"Sudah Nona, biar saya yang merapikan nanti" Mbak Marni mengambil alih pekerjaan Zahra yang telah selesai mencuci piring. Mengingatkannya pada Ganis semasa muda yang sering sekali membantunya, tak hanya di dapur. Ah peristiwa itu begitu cepat berlalu, kini majikannya itu bersiap untuk punya mantu.
"Nona mengingatkan saya pada Ibu" ujar Mbak Marni sambil mengelap piring yang habis dicuci itu, lalu memindahkannya di rak yang satunya. Zahra tersenyum, bersiap mendengarkan lanjutan cerita dari Mbak Marni.
"Iya, Ibu itu orangnya baiiiik banget, dan tak pernah ragu untuk turun ke dapur, makanya saat Nona melakukannya, saya jadi ingat Ibu, tidak salah Nona Zahra menjadi calon menantu Ibu dan Tuan" tuturnya memuji majikannya yang memang sangat baik itu.
"Mbak...maaf kalau saya lancang, bolehkah saya bertanya?" Zahra berhati-hati saat bertanya, tak ingin menyinggung siapapun.
"Silahkan Nona"
"Jadi siapa sebenarnya Kawa?" tanya Zahra pelan.
Mbak Marni yang sedari tadi ngobrol sambil bebenah pun menghentikan aktivitasnya, dan menatap Zahra dengan senyum.
"Kenapa mbak?" tanya Zahra semakin penasaran.
"Nona nggak tahu?"
Zahra menggeleng, yang dia tahu, Kawa adalah karyawan biasa di sebuah toko, dan selanjutnya dia tak tahu sama sekali. Oh Tuhan...apakah Hanna sedang salah lagi menjalani hidup? Zahra nampak agak menyalahkan dirinya. Kenapa tidak mengenal Kawa sampai sejauh ini. Bahkan dia terkecoh dengan status Rayyan.
"Mas Kawa itu putra pertama dari Tuan Saga dan Ibu Ganis, di mana Tuan Saga adalah pemilik dari Arjuna Group"
Mendengar hal itu, Zahra seolah langsung ingin pingsan. Bukankah toko yang ada di kotanya itu semua milik Arjuna Group, berarti milik keluarga Kawa? dan Kawa rela bekerja menjadi karyawan bawahan di sana. Zahra kini semakin mengerti.
***
__ADS_1
Perbincangan dengan Ganis dan Oma Rima berjalan seperti tidak ada gejolak apa-apa di hatinya, Zahra tak mempermasalahkan apapun tentang Rayyan, hanya saja dia khawatir akan ayahnya jika mengetahui hal ini.
"Cepatlah berangkat, nanti biar Zahra tidak kemalaman sampai rumah, kalian masih harus ketemu WO dan macem-macem kan?" ujar Oma Rima yang diiyakan oleh Ganis.
"Iya Oma, kita berangkat dulu, sekalian mengantar Zahra pulang" Kawa pamit.
"Mbak....Mbak Marni..." Ganis memanggil Marni.
"Iya Bu..." Mbak Marni mendekat.
"Semua sudah masuk mobil Kawa kan?" tanya Ganis menanyakan perihal oleh-oleh untuk Zahra dan keluarganya.
"Tidak usah repot-repot Bun" Zahra merasa tak enak, karena keluarga Kawa begitu baik padanya.
"Ah enggak, sedikit buat Ibu dan Ayah di rumah ya, sampaikan salam kami sekeluarga untuk keluarga di sana"
"Terima kasih Bunda, Oma...saya pamit" Zahra bersalaman denga kedua wanita itu dengan ramah.
"Jadi sebenarnya siapa Kawa?" Zahra melihat ke arah Kawa.
"Hehm?" Kawa menimpali.
"Jadi Kawa adalah salah satu pewaris Arjuna Group, yang selama ini menyembunyikan identitasnya?"
Kawa nampak santai saat Zahra nampaknya sudah menyadari hal itu, bagaimanapun dia tak bisa menyembunyikan identitasnya selamanya.
"Iya" jawabnya singkat.
"Tapi kenapa?"
"Maaf Zahra....tapi aku tidak berniat membohongi kamu, aku hanya...ada alasan yang menbuat aku seperti ini, dan aku berharap kamu tidak marah padaku"
__ADS_1
Zahra menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf" ujar Kawa lagi.
Mobil memasuki sebuah kantor di mana Kawa sudah janjian dengan seseorang pemilik WO tersebut. Zahra segera turun saat Kawa membuka pintu mobil, tak menunggu Kawa membukakan pintu mobil untuknya. Di satu sisi dia salut dengan lelaki itu, yang sama sekali tidak menunjukkan siapa sebenarnya dia, hingga bisa bekerja seadanya, tapi di satu sisi dia khawatir dengan respon ayahnya jika tahu Kawa adalah orang kaya.
Urusan wedding sudah beres, dalam waktu 3 jam semua urusan rampung. Karena Zahra tidak memiliki permintaan yang sulit dan neko-neko, klien yang sangat mempermudah si pemilik WO. Kawa yang menyerahkan semua pada Zahra pun ikut saja.
"Aku maunya yang simple saja" ungkap Zahra pada Kawa saat mereka kembali ke mobil Kawa.
"Iya, aku ikut saja"
"Kenapa kamu seolah ngikut saja?" Zahra mulai khawatir bahwa Kawa tak memiliki pendirian.
"Bukan...memang dasarnya aku begini, kan kalau urusan begini cewek yang lebih mahir, iya nggak?" Kawa tersenyum, mobil pun melaju.
"Kenapa kamu bekerja di sana?" tanya Zahra menanyakan perihal Kawa berada di kota kecil tempat dia tinggal.
Kawa menyunggingkan senyum, "Aku tidak bisa melawan takdir Zahra, aku berada di sana juga tanpa perencanaan kok, bukan juga mengincarmu" Kawa terkekeh. Karena awal kedatangannya kesana hanya untuk menepikan diri dari peristiwa menyakitkan akan pertunangannya yang pupus itu. "Aku kerja di sana, mencari pengalaman sebelum aku terjun di perusahaan Papa"
Zahra mengangkat kedua alisnya.
"Aku bukan penipu Zahra" Kawa nampak bercanda, Zahra pun tertawa renyah.
"Lalu bagaimana jika aku tidak menerima keadaan kamu sekarang?" Zahra bertanya dengan nada serius. Kawa pun menatap gadis di sebelahnya dengan mimik serius juga.
"Ada yang salah?" Kawa balik bertanya.
"Iya, soalnya kamu berbohong"
"Aku suka sama kamu, sudah jelas itu, dan inilah keluargaku, aku nggak bohong lho, dan aku kerja di toko itu supaya bisa tahu situasi di bawah sana kerjanya seperti apa, jika ada apa-apa kan aku bisa evaluasi nantinya, terus lagi, aku kesana tanpa rencana. Dan takdirlah yang mempertemukan kita" Kawa memainkan kedua alisnya, nampak naik ke atas dan ke bawah. "Aku tak memandang siapa kamu, hanya saja aku mencintaimu, dan aku akan menjagamu"
__ADS_1
Zahra tak mempermasalahkan, lalu bagaimana dia akan membaca cerita ini nanti saat dia pulang ke rumah. Ayahnya yang sudah begitu terbuka dengan kedatangan Kawa, bagaimana jika dia tahu jika Kawa adalah keluarga kaya raya? apakah akan sama perlakuannya dengan kakaknya dulu. Zahra berusaha menahan perasaannya agar tidak kelihatan galau di depan Kawa. Sepanjang perjalanan, Zahra selalu berdoa dan berharap ayahnya tak akan mempermasalahkan hal ini.