
Kawa melihat rumah begitu sepi, saat tak ada lembur, Kawa akan pulang jam 5 sore. Dan biasanya Zahra akan menyambutnya di lantai bawah, kalau tidak begitu ya diteras rumah.
"Zahra di mana mbok,?" Kawa yang baru saja masuk ke dalam rumah melihat Mbok Iyah sedang berada di teras rumah.
"Ada Tuan, di atas,"
Kawa mengangguk, tidak biasanya jam segini di kamar.
"Apa dia sakit,?"
"Tidak tahu Tuan,"
Kawa segera meniti anak tangga, dan melihat kamarnya tertutup. Mungkin saja Zahra sedang istirahat atau menonton televisi, pikirnya.
Kawa mengetuk pintu perlahan, lalu membukanya. Dilihatnya Zahra sedang duduk di balkon teras kamarnya. Jarang-jarang Zahra melakukan hal ini. Kawa melongok melihat istrinya yang nampak melamun.
"Sayang," Kawa menyapa istrinya yang terlihat belum menyadari kedatangannya. "Sayang," ucap Kawa mengulang, tangannya menyentuh lembut bahu istrinya. Zahra yang mendapat sentuhan lembut sontak melihat ke belakang.
"Eh Bang, kapan datang,?" Zahra berusaha bangkit dari kursinya, namun Kawa menahannya dan meminta Zahra untuk tetap duduk di sana.
Batin Zahra sedang berkecamuk dengan keadaan yang baru saja dia hadapi, terasa berat dan enggan menerima. Ingin protes dengan keadaan ini, hanya saja tak bisa dia lakukan.
"Barusan, tumben di sini,?" tanya Kawa sambil berdiri di samping istrinya, matanya memandang langit sore yang indah dengan pemandangan matahari yang hampir tenggelam itu. Dan tidak buruk juga menikmati sore di sini.
"Eh iya bang, lagi pengen melihat senja," Zahra beralasan.
"Iya, bagus juga ya,"
"Oh ya, abang mau mandi? sudah aku siapkan bajunya,"
"Iya, aku mandi dulu ya, nanti kesini lagi, tapi kamu jangan melamun," pesannya. Zahra menyunggingkan senyum lalu mengangguk. Sudah menjadi kebiasaannya, dia sudah menyiapkan baju ganti untuk suaminya saat menyambut suaminya pulang dari kantor.
Andai Kawa tahu perasaannya saat ini, Zahra menunduk, kembali terluka dengan keadaan. Dan bagaimana jika Kawa tahu dengan keadaannya. Kembali mata Zahra berkaca-kaca.
Terdengar langkah kaki yang mendekatinya, Zahra tidak mau terlihat bengong lagi. Kali ini dia melihat ke arah belakang. Kawa membawa handuk putihnya menyampir di bahunya, dengan kaos kasual dan celana pendek, Kwa telah selesai mandi dan terlihat sangat segar. Kawa menarik salah stau kursi dan mendekatkan di kursi yang sedang diduduki oleh Zahra.
"Indah ya, senja," Kawa bergumam. Zahra mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin, kita bisa ke pantai melihat senja,"
"Oh...," Zahra mengatakan itu, karena sekarang yang ada di benaknya hanya rasa kecewa dan marah pada dirinya sendiri.
"Bang..." ucap Zahra.
"Apa sayang,?" Kawa mengalihkan pandangannya dari matahari yang mulai tenggelam ke wajah Zahra. "Ada apa,?" Kawa menatap wajah Zahra dengan sayang.
"Bang...masuk yuk, abang tunaikan sholat maghrib lalu makan malam," Zahra memilih mengurungkan niatannya untuk membuka isi hatinya. Dia ragu, apakah akan mengatakannya pada Kawa saat ini atau nanti. Karena lambat laun, pasti akan tahu.
Zahra kembali bergejolak hatinya saat duduk di sofa, dia sedang menunggu Kawa menunaikan sholat. Bagaimana nanti dengan keluarga Kawa? apakah akan menerima keadaan ini. Begitu banyak ketakutan yang muncul di benaknya. Zahra mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Tanpa disadari, Kawa yang baru saja mengucap salam melihat Zahra yang nampak gusar itu. Kawa melanjutkan dengan doa lalu bangkit dan mendekati Zahra, namun dia juga urung untuk bertanya. Dan memilih mengajaknya segera turun untuk makan malam.
"Makan yuk," ajaknya. Zahra mengangguk. Dan mereka segera turun menuju meja makan.
***
Selepas makan malam, Kawa sengaja berganti baju dengan celana jeans dan kaos. Zahra mengerutkan kening, jika biasanya Kawa akan berganti piyama untuk sekedar melepas penat di rumah. Kali ini terlihat memiliki rencana.
"Iya, sama kamu,"
"Ih enggak," Zahra tersenyum, sejenak melupakan apa yang masih dia simpan di hatinya.
"Iya, barusan aku yang buat. Ayo ganti baju dan kita keluar jalan-jalan,"
"Kemana?" tanya Zahra masih duduk di pinggir ranjang.
"Nonton, sudah lama kita nggak nonton," gumamnya sambil mematut dirinya di depan cermin. "Ayo buruan sayang," pintanya lagi, Zahra mengangguk dan segera berganti baju sesuai permintaan suaminya. Sepertinya Kawa memang mengerti keadaan hatinya.
"Sudah lama kita nggak nonton kan,?" gumam Kawa sesaat setelah mobil meninggalkan garasi rumahnya.
"Iya," sahut Zahra.
"Kirain abang mau ketemu teman, atau janjian sama klien gitu,"
"Enggak, pengen aja jalan-jalan sama istri cantik," Kawa menyentil ujung hidung Zahra dengan lembut.
__ADS_1
"Tumben, ini bukan malam minggu,"
"Masa iya harus nunggu malam minggu dulu baru nonton,"
Tak berapa lama mereka tiba di sebuah mall, meskipun bukan malam minggu, suasana mall terlihat ramai. Tak hanya para muda-mudi yang menikmati jalan-jalan di sana, banyak para keluarga yang juga mencari hiburan, tak hanya berbelanja.
"Apa kamu ingin lihat-lihat dulu,?" tanya Kawa pada Zahra yang sedang melihat sebuah toko di sana. Kawa tidak ingin melihat Zahra sedih, sebisanya apapun yang Zahra minta akan dituruti.
"Ah enggak," Zahra menggeleng. Kawa yang sejak tadi menggandeng tangan Zahra segera masuk ke sebuah toko yang menjual barang branded, nampaknya Kawa salah tebak saat ini. Bukan itu yang dimaksud Zahra, sejak tadi Zahra sedang memperhatikan seorang bayi yang digendong oleh Ibunya, mereka berada di depan toko tersebut.
Kawa dan Zahra disambut ramah oleh penjaga toko,"Selamat datang," sahut mereka dengan ramah. Kawa mengangguk, begitu juga Zahra akhirnya.
"Bang....bukan, aku..." Zahra belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Aku ingin membelikan kamu sesuatu," Kawa meminta salah satu pegawai mengambilkan salah satu tas yang katanya keluaran terbaru. Tas berwarna coklat tua yang nampak mahal itu sudah berada di hadapan mereka. Zahra menatap heran dengan barang yang ada di depan matanya. Bukan hanya barangnya yang membuatnya tercengang, namun label harganya.
"Tidak bang,"
"Mbak tolong ini ya," Kawa menunjuk saja tanpa persetujuan istrinya.
"Aku ingin memberikannya padamu, tanpa harus menunggu persetujuan darimu,"
"Bang...,"
"Sssssttt,"
Zahra menghela nafas panjang dan pasrah saja, tapi terasa sayang saja uang segitu dibelikan tas mahal. Dasar Zahra yang memang terbiasa dengan barang apa adanya.
"Tidak apa-apa sayang," Kawa mengusap pundak istrinya sembari mengeluarkan kartu hitam untuk membayar barang tersebut. "Atau kamu ingin sesuatu yang lain,?" tawarnya. Buru-buru Zahra menggeleng, agar suaminya itu tidak semakin salah paham.
"Kita nonton saja," Zahra menarik lengan suaminya yang baru saja menyelesaikan pembayaran.
"Terima kasih sudah berbelanja," sahut pegawai dengan ramah, Kawa dan Zahra kompak tersenyum dan mengangguk kecil. Akhirnya mereka keluar dari toko tersebut, kini pemandangan yang dilihat Zahra sungguh membuat Zahra kembali bersedih. Sebuah toko yang menjual berbagai macam pernak pernik tentang bayi, tak hanya baju bayi, segala jenis aksesoris bayi juga ada di sana. Ada beberapa ibu hamil yang sedang berbelanja di sana, tak hanya ibu hamil. Para mama muda yang bersama bayinya juga berada di sana. Batin Zahra semakin terasa teriris.
Zahra menghentikan langkahnya, Kawa yang menyadari hal itu pun melihat istrinya.
"Sayang, suatu saat nanti kita akan borong semuanya," Kawa mengusap puncak kepala istrinya. Pemandangan tersebut dan juga ucapan Kawa semakin membuat Zahra ingin menangis sejadi-jadinya. Apakah harapan itu masih ada baginya?
__ADS_1