
“Abaaaaaanggggg!” teriak Biru dari sambungan telepon, mendengar teriakan adiknya, Kawa buru-buru menjauhkan ponsel dari ditelinganya, jika tidak. Bisa saja setelah ini dia harus ke dokter THT.
“Bang…..bang Kawa kenapa nggak pulang?” Tanya Biru nyerocos, padahal belum sempat Kawa menjawab sapaannya sejak dia menggeser tombol hijau di ponselnya tadi.
“Aku kangeeeen” ucap Biru lagi, terlalu lebay, Kawa menggelengkan kepalanya, dia mulai mendekatkan ponsel di telinga sebelah kirinya. Tangan kanannya menggaruk kepalanya, seminggu yang lalu baru saja dia pulang dan bertemu dengan keluarganya, termasuk adinya, namun tingkah polah Biru seolah sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengannya.
“Kamu kesini” ujar Kawa akhirnya.
“Tugas kuliahku banyak banget Bang, belum bisa, padahal pengen banget kesana, pengen lihat tempat Abang, pengen lihat ehm….apa ya….cewek abang mungkin” celotehnya lalu diikuti gelak tawanya. Kawa lagi-lagi menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Kawa merebahkan tubuhnya di atas kasur, hari sudah malam, sore tadi dia baru saja sampai kontrakan setelah mendapatkan giliran kerja pagi
“Abang sudah punya cewek belum di sana?” Tanya Biru lagi.
“Hehm…..kamu nggak ada tugas? Atau kamu lagi mabuk tugas sekarang, pertanyaanmu seperti orang melantur saja” Kawa menimpali, matanya terpejam. Ya, sudah sebulan lebih dia berada di sini, itu artinya dia memenangkan taruhannya dengan Rendra. Dan dia memang kerasan berada di kota ini, meskipun pekerjaannya melelahkan, dan
tak jarang merasakan pegal-pegal karena harus banyak berdiri menyusun barang di rak atau terkadang memanggul barang keluar masuk gudang.
“Ha…ha…ha, Abang jangan marah” timpal Biru. “Oh ya Bang, masa Bang Kawa kalah sama Nadin si cewek nggak bermutu itu sih?”
Mendengar nama Nadin disebut, membuat mata Kawa terbuka. Ada apa lagi?
“Dia lho sudah menggandeng cowok baru, Om om kalau nggak salah”
“Hehm…” Kawa hanya berdehem.
“Iya Bang, kemarin malam aku ketemu dia café, duuuuh mesra banget, padahal kapan hari aku juga ketemu dia loh, dengan cowok yang berbeda ” jelasnya.
“Lalu?” Kawa tidak peduli.
“Ya nggak apa-apa, Cuma mau bilang itu saja sih, selebihnya Abang buruan move on, jangan lama-lama. Abang baik-baik ya” ucapnya dengan nada serius.
“Sudah belum Ma Oma ceramahnya?” tanya Kawa menggoda adiknya.
“Ih…kok malah dipanggil Oma?”
Kawa terkekeh, “Ya sudah, Abang mau tidur, ngantu dan capek, kamu tidur juga, atau enggak, tuh kerjain semua tugas kamu” perintahnya.
“Siap Bang, Bang Kawa baik-baik ya”
Kawa memutus pembicaraan, dia meletakkan ponselnya di nakas sebelah kasurnya. Meskipun dia tidak peduli lagi dengan apa yang dibicarakan adiknya tentang Nadin, tapi saat nama itu muncul di pendengarannya, mendadak bayangan malam itu berkelebat kembali. Kawa kembali memejamkan mata, membuang jauh-jauh kenangan
buruk itu, ada benarnya juga, alangkah baiknya dia segera move on dengan keadaan dirinya, terlebih tentang Nadin.
__ADS_1
***
Sementara itu, di balik dinding peraduan yang berbeda. Seseorang dengan perasaan dan keadaan yang sama, sedang bercermin di depan meja riasnya. Dia sedang memperhatikan cincin yang ada di jari manis sebelah kanan, sejurus kemudian dia melepaskannya dan meletakkannya di meja rias. Kemudian dia menghela nafas panjang, mencoba berdamai dengan keadaan ini.
“Sampai kapanpun Ayah akan tetap berharap dia pulang” ucapan Ayahnya yang hampir setiap hari dia dengar. Matanya terpejam, dia tidak bisa menolak apapun yang dikatan oleh Ayahnya. Sampai kapan?
Zahra, nama perempuan yang sedang bercermin itu, dengan hati yang luka, mungkin sudah dia rasakan sejak lama.
“Tok…tok….” Terdengar pintu kamarnya diketok dari luar, Zahra menoleh ke arah pintunya. Dia segera bangkit dari duduknya, berjalan perlahan ke arah pintu tersebut lalu membuka pintu. Terlihat seseorang dengan hijab warna abu-abu tua di depan pintu sedang tersenyum.
“Ibu…” sapa Zahra, dilihatnya wanita itu dengan membawa beberapa buah pisang goreng hangat di piring.
“Ayo keluar, kenapa dari tadi di kamar saja” ajak Ibunya sambil menarik tangan Zahra menuju ruang keluarga yang sederhana. Di sana sudah ada Ayah Zahra yang sedang duduk memperhatikan layar televisi.
Melihat Zahra dan Ibunya datang, Ayahnya melirik ke arah mereka.
“Bagaimana dengan pekerjaan kamu?” tanya Ayahnya sambil menatap Zahra.
“Baik Yah” jawab Zahra singkat sambil menunduk.
“Ayo dimakan dulu yah kudapannya” tawar Ibu Zahra sambil menyodorkan piring berisi pisang goreng kepada Ayah Zahra.
“Zahra….”
“Ya yah?” suara Zahra tenang.
“Di mana cincinmu?” tanya Ayahnya menyelidik.
“Oh..di dalam yah, tadi Zahra habis mandi, belum sempat pakai lagi” ucapnya membela diri, terasa bersalah karena tidak mengatakan apa yang sebenarnya.
“Kamu jangan mengingkari keadaan Zahra, bagaimanapun juga dia akan pulang” benar saja, kalimat itu yang terdengar malam ini. Dan tentu saja jawaban Zahra hanya “iya”.
Ibu Zahra yang menyaksikan situasi tersebut hanya bisa menahan diri, melihat Zahra dan suaminya bergantian.
“Maafkan Zahra yah” ucap Zahra pelan.
“Suamimu akan pulang” ucapnya sekali lagi. Zahra mengangguk. Kemudian Ayah Zahra meninggalkan Zahra dan Ibunya.
Zahra meremas kedua tangannya, Ibunya menatap putrinya tersebut dengan tatapan sayu. Tak ada yang bisa dia lakukan. Kembali terasa menyakitkan bagi Zahra, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Matahari kembali menyapa, semua orang kembali pada aktivitas hariannya. Kawa sudah bersiap untuk bekerja hari ini, sementara Rendra masih bermalas-malasan di ruang tamu, hari ini dia mendapatkan giliran shift siang.
__ADS_1
Kawa pamit berangkat lebih pagi karena harus ke Mak Irah untuk sarapan, hari ini akan sibuk karena banyak kiriman barang yang datang, sehingga dia harus menyiapkan dirinya.
Mak Irah sudah hafal pesanan Kawa, saat Kawa datang pun Kawa tinggal duduk manis dan menunggu Mak Irah membawakan sarapan untuknya.
“Silahkan Mas” ucap Mak Irah dengan meletakkan sepiring nasi uduk dan sebotol air mineral di depan Kawa.
“Terima kasih Mak” jawab Kawa, tangannya siap menyendok nasi uduk yang ada di depannya.
Tak lama, pandangannya tertuju pada seseorang yang baru saja memarkir motornya di dekat motornya. Seseorang perempuan dengan hijab warna pink muda sedang menuju warung Mak Irah, dia sudah melihat gadis itu beberapa kali di warung ini. Matanya yang indah namun terlihat sayu, wajahnya yang manis namun selalu terlihat kuyu. Diam-diam Kawa mengamati dan hampir hafal dengan gadis itu.
Sejenak dia menghentikan aktivitasnya, lalu melihat gadis itu mendekat ke arah Mak Irah mengambil pesanannya.
“Terima kasih Mak” ucap gadis itu lembut, Kawa tersenyum mendengar suara gadis itu.
“Hati-hati Neng” jawab Mak Irah.
“Iya Mak” tak lama, gadis itu kembali menghampiri motornya dan menaruh pesanan nasi uduknya.
“Neng…neng….waduh” teriak Mak Irah sesaat setelah gadis itu pergi.
“Kenapa Mak?” tanya Kawa menghampiri Mak Irah, dia akan membayar makanannya.
“Ini Mas, pesanannya keliru, waduh bagaimana ini, saya nggak bisa mengantarnya, kok bisa ya saya ceroboh” Mak Irah merutuki dirinya.
“Saya antarkan Mak, boleh?” tawar Kawa, meskipun dia tidak tahu tempatnya.
“Ah nanti malah merepotkan Mas Kawa”
“Tidak Mak, mana arahnya?” tanya Kawa lagi.
“Ke arah kebun Mas” Mak Irah menyerahkan bungkusan di dalam kresek sambil menerangkan arah yang dimaksud.
“Baik Mak”.
Dengan petunjuk dari Mak Irah, Kawa berhasil menyusul laju motor yang dikendarai oleh gadis itu. Kawa membunyikan klakson agar gadis itu menghentikan laju motornya.
“Mbak…mbak…” Kawa mencoba menyapa. Namun gadis itu masih saja berlalu, Kawa menarik gas motornya agar lajunya bisa mendahului gadis itu. Dan hampir saja membuat gadis itu terjatuh karena kaget.
“Maaf mbak..maaf….” ucap Kawa setelah berhasil mendahului motor gadis itu dan menghentikan lajunya. Gadis itu membuka kaca helmnya dan menatap Kawa tajam. Kini Kawa bisa melihat mata indah itu dari dekat.
“Maaf, ada apa ya?” tanya gadis itu dengan suara datar, dia masih berada di atas motor.
__ADS_1
“Ini pesanan dari Mak Irah, ketukar, makanya saya susulin” jawab Kawa sambil mengulurkan kresek ke arah gadis itu.
“Oh…terima kasih” gadis itu menukar bungkusan kresek yang dia bawa, lalu kembali melaju. Sedangkan Kawa kembali ke warung Mak Irah dengan membawa bungkusan kresek yang tertukar tadi. Tak peduli dia terlambat kerja, entah mengapa dia senang bertemu dengan gadis itu.