
Rendra tercekat, baru kali ini dia melihat Pak Broto begitu marahnya pada Kawa. Dan dia juga heran melihat Kawa hanya diam saja mendapat perlakuan Pak Broto yang membabi buta mencelanya, jika saja dia mau, hari ini juga dia akan membongkar siapa sebenarnya Kawa. Bagaimana Pak Broto akan tahu bahwa sebenarnya dia tidak ada seujung kuku dari Kawa. Rendra berdecak
"Kamu kenapa nak?" tanya Ganis pada Kawa.
"Bunda?" Kawa terkejut dengan kemunculan Ganis yang tiba-tiba.
"Kamu salah apa hingga dimarahi orang sampai begitunya? hah?" Ganis mengelus pipi Kawa. Anak laki-lakinya itu menggeleng pelan, kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa Bun...biasalah...namanya juga pegawai, jadi ya nggak masalah. Duduk Bun" Kawa menarik kursi tanpa senderan itu di dekat meja kasir dan meminta Bundanya untuk duduk. Ganis pun duduk mengikuti apa yang dikatakan oleh Kawa. "Bunda sama siapa?"
"Sama Biru" jawab Ganis masih dipenuhi rasa penasaran. "Itu tadi bos kamu?" tanya Ganis, tangannya menunjuk keluar pintu, di mana dia tadi berpapasan dengan Pak Broto. Rendra datang dan menyalami Ganis.
"Malam tante" sapa Rendra.
"Iya Rendra...malam juga, sehat-sehat ya kalian" balas Ganis. "Bos kalian kah itu tadi?" Ganis mengulang pertanyaan yang hampir sama.
"Iya tante" jawab Rendra masih kesal, kedua tangannya mengepal.
Biru masuk ke dalam toko dengan polosnya.
"Abaaaaang" teriaknya saat melihat Kawa di depan matanya.
"Hai" Kawa balik menyapa, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
"Kok pada tegang, ada apa sih?" Biru melihat Bundanya, beralih ke Rendra dan akhirnya kembali ke abangnya. "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa" jawab Kawa, duduklah, minum dulu Bun" Kawa memberikan sebotol air untuk Bundanya.
"Terima kasih"
Rendra kembali melanjutkan pekerjaannya, begitu juga Kawa. Ganis dan Biru masih duduk di dalam toko sembari menunggu Kawa selesai bekerja yang tinggal sebentar lagi.
Selepas toko tutup, Kawa dan Rendra bersiap pulang, begitu juga dengan Ganis dan Biru yang mengekor di belakang Kawa yang sedang membonceng Rendra. Biru dan Ganis mengendarai mobil.
Biru menghentikan laju mobilnya saat melihat Kawa menghentikan motornya di depan jalan, mungkin itu adalah kontrakan Kawa dan Rendra selama ini.
"Sini, biar aku parkirkan" pinta Rendra pada Biru.
"Thanks bang Ren" Biru memberikan kunci mobilnya pada Rendra. Kawa sudah memasukkan motornya ke dalam kontrakan. Ganis dan Biru segera masuk ke dalam kontrakan.
"Bun...nggak salah nih abang tinggal di sini?" Biru melihat seisi kontrakan yang memang sangat sederhana itu, di tengah kemewahan keluarganya, tapi Kawa tidak pernah mempermasalahkan tempat ini.
"Sstttt, nggak boleh seperti itu" Ganis mentoel lengang putrinya itu. Biru duduk di atas kursi kayu ruang tamu, begitu juga dengan Ganis.
Tak berapa lama Rendra dan Kawa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kenapa Bunda mendadak, nggak kasih kabar dulu?" Kawa melepaskan sepatunya, sedangkan Rendra pamit untuk mandi.
"Kalau kasih tahu ya bukan kejutan namanya bang" jawab Biru enteng.
"Papa nggak ikut?" tanya Kawa, diam-diam dia merindukan Papanya.
"Papa sibuuuk, abang noh pulang bantuin papa ngurus kerjaan yang bejibun, kasihan papa" Biru nyerocos.
Kawa duduk di kursi dekat Ganis. Ganis menghela nafas panjang.
"Ada benarnya apa yang diucapkan adikmu, kasihan papamu, apalagi kalau dilihat dari bos kamu tadi yang sembarangan begitu, Bunda jadi nggak tega melihat kamu seperti ini"
"Memang kenapa Ma? bosnya songong?" Biru masih belum paham dengan kejadian tadi. Ganis mengangguk.
"Wah...kenapa nggak bilang, belum tahu dia ngomong sama siapa?" Biru mendadak naik darah, gadis itu, ada masalah kecil saja bisa langsung naik darah. "Songong banget, memangnya dia bilang gimana bang?" Biru melihat Kawa yang nampak datar seperti biasanya.
"Nggak penting, nggak usah dibahas"
"Eh jangan gitu bang, abang mah punya harga diri, biar dia nggak seenaknya" cecar Biru.
"Nggak ada, abang yang salah" Kawa masih menutupi.
"Ah abang...jangan-jangan abang macem-macem sama dia? atau jangan-jangan abang jatuh cinta sama anak gadisnya" tebak Biru, Kawa terdiam. "Nah kan....bener ini berarti, abang diam tandanya bener, tuh Bunda" Biru menunjuk Abangnya.
"Biar aku selesaikan kontrak Ma, setelah itu aku akan pulang"
"Bener kamu suka sama anaknya bosmu tadi? kalau seperti itu calon besan Bunda, Bunda akan jadi orang pertama yang akan menolak, belum-belum sudah berani memarahi kamu sebegitu kerasnya"
"Bukan Bun...besok aku ceritakan, sekarang Bunda sama Biru istirahatlah di kamarku, aku tidur di sini"
"Kamu sudah makan nak?" tanya Ganis lembut, anak laki-lakinya itu nampak tak berubah, masih datar saja dalam menghadapi apapun.
"Sudah tadi, Bunda dan Biru belum makan? kalau belum aku akan pesankan makanan online"
"Oh tidak usah, sudah makan kok, ini malah tadi kita bungkusin kamu dan Rendra sekalian, mau makan lagi?" tanya Ganis.
"Enggak Bun, dismpan saja buat besok deh"
Akhirnya Ganis masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Sedangkan Biru keluar kamar dan memilih ngobrol dengan Kawa.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi bang?" Biru duduk di lantai, Kawa ikut duduk di lantai di samping Biru. "Diakah orang tua dari gadis yang membuat abang betah di sini?" Biru melihat Kawa. Abangnya tersenyum kecil, Biru memang sangat perhatian padanya.
Kawa menggeleng, "Bukan Bi...jadi dia namanya Pak Broto, ya...bisa dibilang bos di situ"
Mendengar apa yang diucapkan oleh Kawa, Biru tersenyum kecut.
__ADS_1
"Hah? bos? dia nggak tahu saja siapa bosnya" Biru geram. "Lalu apa masalahnya bang?"
Kawa mengurut keningnya, kalau sudah ada Biru, detektif pun kalah, pasti dia akan ditanya seakar-akarnya.
"Jadi Pak Broto punya anak gadis...
"Nah kan...bener...pasti itu yang abang suka, terus pak broto nggak setuju"
"Dengerin dulu Bi....abang belum selesai ceritanya" Kawa mengacak rambut Biru, Biru tertawa kecil.
"Lanjut bang"
"Dia suka sama abang"
"Abang suka juga?"
Kawa menggeleng. "Dia sekarang sakit, nah mungkin itu yang buat Pak Broto marah sama abang"
"Rendah hati boleh bang, tapi abang harus punya harga diri"
"Iya iya...besok lanjut lagi ceritanya, sekarang sudah malam, tidurlah sama Bunda"
"Iya bang, tapi janji ya...besok cerita lagi"
Kawa mengangguk.
***
Hari ini Kawa kebagian shift pagi, dia berangkat pagi seperti biasanya, sedangkan Bundanya dan Biru masih berada di kontrakannya. Mereka akan berada di sana selama beberapa hari.
Kawa menata barang, pikirannya masih kacau memikirkan bagaimana kabar Mayra. Dia sudah mengirimkan pesan sejak tadi malam, namun tak ada balasan.
"Ih bengong aja nih" Alya menyenggol lengan Kawa.
"Eh..." Kawa sedkit kaget.
"Pak Bos hari ini gak masuk, jangan tegang gitu, santai dikit boleh lah" Alya tersenyum, dia merasa bahagia jika pak Broto tak ada di toko.
"Kemana?" Kawa menghentikan tangannya yang sedang menata barang di rak.
"Mayra opname sih kalau nggak salah, dan kayaknya agak serius, jadi Pak Broto memilih menunggunya"
Jawaban Alya membuatnya merasa tidak enak hati, apakah gara-gara dia Mayra hingga sakit parah? sakit apakah dia?
"Mayra" gumamnya lirih.
__ADS_1