Sajak Cinta Kawa

Sajak Cinta Kawa
SCK 27 : Maaf


__ADS_3

Mayra membulatkan tekadnya, Dia memegang tangan itu erat. Iya tangan kekar nan halus milik Kawa itu ada di genggamannya. Kawa terdiam sambil menatap Mayra, tak ada ekspresi yang bisa Mayra baca dari wajah Kawa. Hanya mereka berdua sekarang, Mayra merapatkan jaketnya dengan tangan satunya. Anak rambutnya berkelebat mengikuti angin berhembus. Mayra sedikit mendongak untuk bisa melihat wajah Kawa.


"Kenapa?" tanya Kawa memecah kesunyian, hanya suara binatang kecil yang terdengar nyaring, beserta hembusan angin yang kuat.


"Pernahkah kamu suka sama seseorang?"


Kawa terdiam, pertanyaan Mayra seolah mengingatkannya pada masa lalu, pada percintaan bersama Nadin yang menghianatinya.


"Aku merasakannya sekarang, dan aku merasa gelisah jika ini aku pendam sendiri" Mayra melanjutkan.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu agar kamu tak lagi gelisah?" Kawa bertanya dengan suara datar.


"Aku suka kamu" Mayra berterus terang. Waktu seakan berhenti berputar, Kawa tak pernah menduganya. Haruskah dia melukai hati Mayra jika Mayra tahu apa yang sebenarnya ada di hatinya sekarang.


"Aku suka kamu Kawa" Mayra mengulangi, kali ini dengan senyum sumringah. "Kamu tak harus menjawabnya saat ini juga, tapi maaf jika aku mengatakan hari ini" Mayra memang percaya diri, tak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Sudah malam, istirahatlah" Kawa mengusap kepala Mayra lembut, dia tak ingin melanjutkan pembicaraan ini lebih jauh, terlebih ini sudah snagat larut. Dia tidak mau jika Mayra nanti sakit lagi.


"Iya, kamu juga" balas Mayra dengan sedikit kecewa, Kawa seolah tidak tertarik dengan perbincangan ini, perbincangan yang sudah dia rancang sedemikian rupa itu. Kawa mengantarkan Mayra hingga di depan tendanya.


"Selamat malam, selamat istirahat, dan sekali lagi, selamat ulang tahun" Kawa tersenyum tipis. Mayra mengangguk.


"Terima kasih, kamu juga selamat istirahat"


Mayra memaklumi meskipun kecewa, dia mengangguk dan masuk ke dalam tenda. Setelah Mayra masuk ke dalam tendanya, Kawa berlalu dan berjalan menuju tendanya juga untuk istirahat.


Dia tidak menyangka jika Mayra suka padanya dan bahkan mengutarakan perasaannya malam ini.


        ***


Pagi masih berkabut, tapi mereka berlima sudah berada di luar tenda, tak ingin menyiakan waktu karena siang nanti mereka akan pulang.


Tania, Mayra, dan Zahra sedang bersiap untuk membawa makanan dari dapur umum. Mereka bertiga nampak bersemangat menyiapkannya. Dan di antara mereka bertiga, Zahra lah yang paling cekatan dalam melakukan aktivitas ini.

__ADS_1


"Dia mah ibu rumah tangga sejati" tukas Tania.


"Iya, gercep banget ini Zahra" puji Mayra.


"Enggak ih, hanya terbiasa" Zahra membawa bakul yang berisi nasi putih yang masih mengepul, sementara Mayra membawa baki berisi teh hangat, dan Tania membawa piring yang berisi lauk. Mereka bertiga menuju tikar yang akan digunakan untuk sarapan.


"Ayoooo sarapan!" teriak Mayra.


"Nah ini nih yang aku tunggu, lapar banget" Rendra membantu menata piring. "Setelah sarapan nanti kita mancing" imbuhnya.


"Boleh, seru nih" Mayra bersemangat, dia mengkesampingkan kejadian semalam. "Aku ambilin nih" Mayra menyendokkan nasi ke piring dan diberikan untuk Kawa.


"Terima kasih"


"Udah...jangan pada bengong, yuk mari sarapan" Tania melihat Rendra yang tertegun melihat keromantisan Mayra pada Kawa.


        Seusai sarapan, Rendra dan Tania sudah duduk manis di tepi danau untuk memancing, mereka menunggu yang lainnya. Mayra yang berjarak agak jauh dari mereka berdua sedang sibuk menyiapkan peralatan.


"Gimana teman kamu?" tanya Tania, teman yang dimaksud adalah Kawa.


"Kenapa sih dia nampak susah banget gitu, kayak ragu mengutarakan isi hatinya?" Tania protes.


Tidak mungkin Rendra menceritakan masalah yang sesungguhnya,  jika Kawa pernah gagal dalam hubungan percintaannya.


"Ya...entahlah...tapi semoga setelah ini ada kabar baik, setidaknya nanti dia akan maju"


"Bener nggak dia suka sama Zahra?" Tania penasaran juga.


"Kepo" balas Rendra, Tania menepuk lengan Rendra.


"Sudah siap nih" Mayra berada di dekat mereka, jelas dia mendengar apa yang diucap oleh Tania dan Rendra. Tapi Mayra mencoba segalanya baik-baik saja. Dia memberikan pancing dan umpannya pada Rendra.


"Eh....makasih" Rendra agak kikuk, Rendra tahu jika Mayra mendengarnya.

__ADS_1


Mayra duduk di sebelah Tania, dan mereka mulai melemparkan mata pancingnya ke danau.


Kawa menyusul kemudian, dia duduk di samping Mayra. Mayra melemparkan senyumnya, lalu kembali menatap danau.


"Zahra kemana?" Tania sibuk mencari Zahra yang belum nampak menyusul mereka.


        Zahra masih berada di dalam tenda, menata hijabnya sebelum menyusul teman-temannya. Apakah percakapan yang dia dengarkan tadi malam adalah nyata, tanpa sengaja Zahra mencuri dengar pembicaraan Mayra dan Kawa, saat itu Zahra akan mengambil ponselnya yang tertinggal di tikar tempat mereka berkumpul merayakan ulang tahun. Hanya saja Kawa dan Mayra tidak menyadarinya.


Zahra berbesar hati jika Mayra dan Kawa nantinya bersatu, berrati itu memang takdirnya, dan Kawa bukanlah orang yang tepat untuknya, Kawa bukan orang yang ada di dalam masa depannya. Ada rasa yang mengganjal, tapi Zahra tak ingin terluka.


        Zahra bersiap keluar dari tenda, menyusuri jalan pematang menuju danau yang indah, di kejauhan teman-temannya terlihat asyik memancing. Zahra melambaikan tangan menyambut lambaian tangan Tania. Dan tanpa sengaja kakinya menginjak sebuah batu, tubuh Zahra kehilangan keseimbangan dan Zahra tercebur ke dalam danau.


Tania berteriak, Rendra dan Kawa serta Mayra tak kalah panik.


"Dia nggak bisa renang" Tania panik, dia bersiap masuk ke danau menyelamatkan Zahra. Kawa berlari lebih cepat dari Tania dan Rendra. Sementara Mayra hanya berlari dan tidak berani masuk ke dalam danau.


Dengan cekatan Kawa masuk ke dalam danau dan menarik tubuh Zahra, Zahra terlihat gelagapan dan sangat panik. Kawa menahan tubuh Zahra, lainnya mengulurkan tangan pada Kawa dan membantu menarik tubuh Zahra ke daratan.


"Zahraaaa" teriak Tania, Zahra sudah basah kuyup, nampak sahabatnya itu pingsan. Kawa juga basah kuyup.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Mayra. Kawa mengangguk.


Zahra nampak terbatuk, Tania merasa lega melihat Zahra tersadar. Rendra ikut berjongkok dan melihat Zahra. Mayra masih mematung.


"Maaf, sudah membuat Zahra celaka" ujar Mayra.


"Bukan saatnya menyalahkan diri, ini kecelakaan, bukan salahmu" Rendra menenangkan Mayra.


"Kalau saja aku tidak mengajak kalian camping, kejadian ini tak akan terjadi, danau ini lumayan berbahaya sebenarnya, untunglah Zahra baik-baik saja" imbuh Mayra dengan tatapan bersalah.


"Bawa Zahra ke tenda" pinta Tania, Zahra masih lemas dan dia tidak kuat membopongnya. Rendra memberikan kode pada Kawa, agar membawa Zahra ke tenda.


"Maaf ya, aku harus menyentuhmu" Kawa meminta izin pada Zahra, di saat genting seperti ini, Zahra hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Mereka berempat menuju tenda, sedangkan Mayra mematung melihat mereka, terlebih Kawa menggendong Zahra.


__ADS_2