
Layaknya anak kecil yang lainnya, Dira pun ingin ulang tahunnya dirayakan. Nenek dan Kakeknya sudah menyetujuinya, dan Zahra juga sudah siap untuk menghelat walau sederhana.
"Nanti ada kuenya Bunda?" tanya Zahra antusias, dia sedang menunggu Zahra di kursi makan. Sementara Zahra sedang sibuk mengupas bawang merah di dekatnya.
"Ada" jawab Zahra, mendengar jawaban tersebut membuat Dira gembira, dia terus mengembangkan senyumnya.
"Aku maunya kuda pony Bunda" imbuh Zahra lagi.
"Ehem?" Zahra menatap mata gadis kecil itu. Akhir-akhir ini Dira menyukai karakter kuda pony.
"Boleh ya Bunda?" Dira menangkupkan kedua tangannya. Zahra kembali tersenyum dan mengangguk. Melihat Zahra menyetujui keinginannya, Dira semakin bahagia, tak sabar rasanya menunggu hari bahagia itu. Diri turun dari kursinya dan melompat kegirangan.
"Horeee....ulang tahun, pakai kue kuda pony" Dira meloncat sambil bertepuk tangan.
Mengingat keinginan Dira yang berkeinginan kue ulang tahun bertema kuda pony, Zahra baru ingat jika dia belum memesan kue ulang tahun tersebut.
"Ya Allah...mana lupa lagi belum pesan" Zahra menepuk dahinya, diletakkannya pisau dan bawang merah yang dia kupas tadi di atas meja. Dia bergegas mendekat ke arah kran air dan mencuci tangannya sebelum meraih ponsel yang ada di dalam kamarnya. Ada 3 panggilan tak terjawab dari Tania.
Zahra memencet nomor tersebut kembali, hanya menunggu beberapa saat panggilan tersebut sudah tersambung.
"Hallo nonaaaa" teriak Tania di balik sambungan.
"Assalamualaikum" salam Zahra.
"Ehem....Waalaikumsalam" jawab Tania.
"Kebiasaan" timpal Zahra.
"Maaf non, oya tadi aku telponin sampai tiga kali nggak keangkat juga"
"Iya maaf, tadi lagi ada di dapur, sibuk menyiapkan bumbu. Ada apa? iya sekalian mau ngomong" ungkap Zahra. Dia meminta bantuan pada Tania untuk merayakan ulang tahun Dira, karena Tania dirasa lebih mengetahui hal-hal apa saja yang dibutuhkan. Dan Tania memang sangat paham tentang hal itu. Tempo hari dia sudah menawarkan diri menjadi "EO" ala-ala buat ulang tahun Dira. Zahra senang mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Tania.
__ADS_1
"Kuenya belum" Zahra mengingatkan.
"Oh iya, tadi juga mau ngomong itu sih, soalnya yang ngebantu juga nanya itu. Lalu mau yang karakter apa? biasanya kan anak kecil ada pengen apa gitu, hello kitty, minnie mouse, atau apalah" jawab Tania sambil menjelaskan beberapa karakter kartun yang dia ingat.
Zahra berjalan mendekat ke arah jendela, dia melihat Dira tengah bermain dengan kakeknya di halaman depan rumah, gadis kecil itu nampak sangat bahagia. Zahra mengembangkan senyumnya.
"Dia mau kuda pony" jawab Zahra, sepersekian detik dia terdiam saat melihat Dira begitu bahagia.
"Oh, oke nanti aku sampaikan ke orangnya" jawab Tania.
"Orang? orang siapa? bukannya kamu yang ngebantu?" tanya Zahra sedikit bingung, apakah Tania memang mempunyai tim event yang membantu.
"Oh...ada teman lah, sudah nggak usah dipikirin, yang penting beres"
"Baik, terima kasih banyak ya....maaf nggak bisa balas apa-apa" jawab Zahra.
"Ah seperti sama siapa saja sih kamu ini, santai aja Zahra, aku seneng bisa bantu kamu, bantu Dira" ujar Tania sambil tertawa kecil. "Sama-sama Zahra, nanti kalau ada kurang apa-apanya kamu bisa hubungi aku lagi deh"
"Iya...kan kita juga masih bisa ketemu besok di sekolah"
***
"Hah...kamu serius?" tanya Kawa sambil melihat ke arah Rendra dengan mimik serius.
"Kenapa emang? peluang bisnis bro...siapa tahu bisa buka jasa di kota ini kan?" Rendra tak kalah serius. Dia sudah menyetujui untuk menggarap pesta ulang tahun Dira beberapa hari lagi. "Lagian ini skala kecil sih, itung-itung latihan" jawba Rendra.
"Siapa kliennya?" tanya Kawa.
"Ada lah, kamu bantuin aja" jawab Rendra tidak memberitahu siapa klien yang dimaksud.
Beberapa hari yang lalu dia sudah berbicara banyak dengan Tania mengenai rencana ini, dan Rendra sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari tim acara ini. Sebenarnya tidak ada tim, yang ada hanya sukarela darinya.
Kawa nampak tertarik, memikirkan peluang bisnis yang sekiranya bisa dirambah oleh perusahaan Papanya nanti, karena setahu Kawa, Arjuna Group belum memiliki Event Organizer. Siapa tahu akan menjadi besar nantinya dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
__ADS_1
"Gimana? setuju nggak?" Rendra menuangkan kopi dari teko ke cangkir yang ada di depan Kawa. Terlihat asap mengepul.
"Boleh" jawab Kawa akhirnya, melihat Rendra sudah menuangkan kopi di cangkirnya, Kawa meraih cangkir tersebut dan menyesapnya.
"Nah gitu dong, sekalian ajari aku berbisnis, nanti biar bisa menjadi seperti Papamu yang punya gurita bisnis" godanya sambil tertawa kecil. Kawa melirik Rendra sambil menghembuskan nafas, tangan kanannya kembali meletakkan cangkir di atas meja.
Suara gerimis kecil terdengar begitu tenang di telinga, lagi-lagi malam ini diguyur air dari langit. Mereka berdua duduk di teras rumah sambil melihat air yang turun.
"Di sini begitu tenang, pantas saja aku kalah taruhan" ujar Rendra lalu terkekeh. Kawa tersenyum tipis, meskipun pekerjaan yang dilakukan berbeda jauh dengan apa yang dilakukan di kantor Papanya, tapi dia cukup menikmati. Dan tidak salah apa yang diucapkan Rendra, bahwa di sini begitu tenang. Entah karena suasanya atau yang lain.
"Apalagi ada bidadari penyejuk hati" timpal Rendra lagi, seolah dia tahu apa yang ada di benak Kawa. Kawa tak merespon. Dia merasa tak ada nyali untuk dekat dengan Zahra.
"Sudah aku bilang, nanti aku bantu"
"Ah apaan sih?" Kawa menatap ke arah jalan raya yang basah. Rendra melihat sahabatnya itu lalu tersenyum, dia sangat hafal betul bagaimana sahabatnya itu, dia sangat jarang bisa jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta, maka akan sulit. Kali ini, dia akan membantu Kawa dengan senang hati.
"Jadi bagaimana dengan rencana kamu dengan event tadi?" Kawa mengalihkan pembicaraan.
"Oh ulang tahun tadi?" Rendra balik bertanya, Kawa menganggukkan kepala.
"Jadi yang ulang tahun cewek, 4 tahun, dan dia menyukai kuda pony, konsep sederhana saja, gitu aja sih"
"Lalu kenapa mesti pakai jasa event?"
"Lah....suka-suka yang punya acara dong bro, dianya memang mau pakai, kita tinggal layani, gimana sih?" Rendra menjawab protes dari Kawa. Kawa kalah, benar apa yang dikatakan oleh Rendra.
"Ya...ya..."
"Jadi kita tinggal siapkan apa yang mereka butuhkan, kita bisa bekerjasama dengan minimarket untuk bingkisannya nanti, urusan dekorasi ada lah temenku, pokoknya kamu ikut aja sudah cakep dah" jawab Kawa.
"Ya...ya bos...." jawab Kawa akhirnya.
"Nah gitu dong, yuk ah ngantuk aku, mau tidur" Rendra bangkit dari kursinya, lalu meninggalkan Kawa. Kawa tersenyum kecil melihat Rendra berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Nyatanya hidup mandiri tidaklah buruk, dia bisa hidup dengan sederhana, mendapatkan gaji, dan benar-benar mengurus dirinya sendiri, meskipun sudah banyak yang protes bahwa dirinya kini terlihat agak kurusan. Terlebih bundanya.
"Punya EO? siapa takut?" bisiknya dalam hati, lalu dia ikut masuk ke dalam rumah, meninggalkan gerimis yang masih saja mengguyur kota ini.