Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy

Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy
Karya seni


__ADS_3

Pagi sudah menjelang,matahari sudah naik ke atas,sepasang anak manusia belum beranjak dari kasur. Reyhan dan Raya bangun kesiangan akibat olah raga yang mereka lakukan tadi malam.


"Pagi Bund,"sapa Reyhan dengan semangat 45 sementara Bu Linda tidak melihat Raya ikut turun.


Bukan menjawab malah memberi tatapan tajam kepada Reyhan,membuat putra kesayanganya hanya bisa menelan saliva.


Tak berapa lama Raya turun,dan kedua mertuanya menatap Raya heran.


"Kamu kenapa Ray,kok pakai sweter lengan panjang,tidak kepanasan?"tanya Bu Linda menatap menantunya heran.


Reyhan yang mendengar perkataan Bu Linda, mencari akal, "Bu, Raya hanya mau latihan saja apa dia sanggup memakai pakaian yang tertutup," jawab Reyhan menyelamatkan Raya.


Apa jadi kalau Bunda tau di badan Raya ada lukisan maha karya yang ia buat tadi malam.


Selesai makan Raya langsung pamit kepada kedua mertuanya, "Bu raya pamit dulu ya," sambil mencium tangan mertuanya.


Reyhan dan Raya pun berangkat setelah pamit kepada kedua orang tua mereka.


"Tumben pintar cari alasan," Sahut Raya melihat suaminya yang lagi menyetir mobil.


"Yang kamu juga kenapa harus pakai sweter segala lagi," sungut Reyhan yang dibuat buat.


"Hiss,dia yang buat tapi sudah lupa ingatan,nasib nikah ama orang tua," gumam Raya dengan perlahan.


"Sayang aku dengar loh,dan aku belum tua lagi," jawab Reyhan dengan ketus.

__ADS_1


Berhenti sebentar di sebuah mini market,"kamu tidak usah turun biar mas saja yang turun," ucap Reyhan dengan tegas.


Tak berapa lama Reyhan sudah keluar dengan membawa foundation dan kapas muka.


"Sekarang buka sweternya," ucap Reyhan pada istrinya.


Raya pun menuruti perintah suaminya,dan Reyhan mulai memoleskan foundation tersebut ke beberapa karya yang ia ciptakan.


"Gimana sudah tidak terlihat lagikan?" tanya Reyhan yang melihat leher istrinya.


Raya melihat ke arah cermin,dan akhirnya sudah bisa tersenyum.


Reyhan dan Raya akhirnya melanjutkan perjalanan lagi. Dan kini mereka sudah tiba diuniversitas Raya.


Tak terasa ini Tahun terakhir Raya berada di universitas Merah putih. Empat tahun ia menuntun ilmu sekarang waktunya ia menyusun skripsinya.


"Lila,apa kamu sudah menyusun materi yang sudah kamu ajukan pada dosen pembimbingmu?" Tanya Raya pada sahabatnya.


"Belum ini baru mau mulai cari materinya," jawab Lila.


Raya teringat kejadian semalam di depan gedung kantor suaminya.


"Lila gue mau tanya,tapi loe jangan marah ya," ucap Raya melihat wajah Lila.


Seakan memgerti apa yang dimaksud sahabatnya,Lila pun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Pria yang semalam loe panggil sayang itu,siapanya loe?" tanya Raya yang penasaran.


"Ooh itu Kakak sepupu gue,dia minta tolong sama gue,untuk bersandiwara eh ternyata manjur juga," jawab Lila sekenanya.


"Terus, wanita siluman itu berarti kak ipar loe dong,"ucap Raya dengan tawa yang ia tahan.


"Hmm, ternyata video yang ada di hp loe itu semua dari ulah abang sepupu gue," beritahu Raya dengan antusias.


Lila terdiam sejenak," Ray apa rencana kita kemarin jadi jalannya?" tanya Lila melihat wajah antusiasnya.


"Tidak,karena laki gue lebih tertarik dengan wanita berhijab dari pada yang seksi," cerocos Raya tanpa rem.


"Alhamdulillah," sahut Lila sambil mengusap kedua tangannya tanda ia bersyukur.


"Kok bisa, biasanya cowok itu suka dengan yanh seksi-seksi," ucap Lila mengeluarkan pendapatnya.


"Kata, Kak Reyhan lebih cantik dan adem aja melihat dan dapat pahala karena yang lihat kecantikannya hanya muhrimnya saja, bukan orang lain," jawab Raya.


"Terus loe kapan mulai?" tanya Lila penasaran.


"Belum tau, gue belum siap, mudah-mudahan secepatnya deh," sahut Raya yang memikirkan permintaan Reyhan.


Raya dan Lila berjalan menuju perpustakaan untuk mencari bahan-bahan materi buat skripsi mereka.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2