Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy

Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy
ANCAMAN Tika pada Edi


__ADS_3

Perut Raya semakin besar,tapi itu tidak membuat ia bisa tenang apa lagi Memasuki bulan terakhir.Sering saja Reyhan atau anggota keluarga yang lain dibuat was-was.


"Raya hati hati kalau mau naik turun tangga,"ucap Bu siti memberi peringatan pada Putrinya.


"Iya,Bu...tenang aja Raya nggak apa apa kok," sahut Raya sambil tersenyum.


Begitu turun Raya langsung menuju lemari es melihat cemilan yang ada.Reyhan yang baru turun langsung melihat ke arah Raya,yang berjalan ke arah ruang keluarga sembari ngemil.


"Reyhan,ada baiknya kamar kalian pindah ke kamar tamu untuk sementara waktu,"ucap Bu Siti pada Menantunya.


"Nggak Bu, Raya nggak mau pindah kamar,"Protes Raya pada Bu siti.


"Sayang kita harus pindah ke bawah,Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,"ucap Reyhan memberi pengertian.


Sementara Sulis masih terus menghasut anaknya Edi.Tika yang mendengarnya pun tidak langsung protes didepan mertuanya.


"Edi,kamu harus bisa dekati itu anak perempuan,karena ibu rasa kalau itu anak perempuan memang anak Merly saudara tirimu,"ucap Sulis pada Edi.


"Bu ralat bukan saudara tiri,tapi kandung bu,Ayah kak Merly dan Mas Edi kan sama,"ucap Tika.


Sulis yang mendengar perkataan Tika seketika kesal bukan main.


"Mas ingat yang aku bilang,udah terlalu lama mas mengganggu keluarga kak Merly dan anak-anaknya,jangan sampai mas dapat balasannya,"ucap Tika memberi peringatan setelah Sulis keluar dari rumah Edi.


"Mas dengar nggak sih apa yang aku katakan,"omel Tika pada sang suami.

__ADS_1


"Baiklah,aku akan ingat dan lakukan kalau tidak lupa," ucap Edi dengan santai.


"Mas kalau sampai nanti keluarga Mas richads kenapa-kenapa,berarti mas ikut terlibat,dan aku sendiri yang akan melaporkanmu kepada pihak berwajib,"ancam Tika pada suaminya sendiri.


Sulis yang sedari tadi bersembunyi di samping rumah Edi,mendengar semua apa yang dikatakan menantunya kepada anaknya.


"Hmm kalau begini ceritanya aku harus bertindak sendiri,punya anak tapi nggak bisa diharapkan masih aja takut dengan istri,"gumam Sulis perlahan seraya berjalan meninggalkan rumah Edi.


Tika berlalu meninggalkan Edi yang berada di ruang tamu.


"Sebenarnya apa,yang di makan ibu setiap hari,kenapa yang ada di pikiran ibu hanya ada dendam,walaupun Merly sudah tiada,"bisik hati kecil Edi.


Sejenak Edi mengirim sms kepada seseorang,


Di tempat lain,hp Gordon bergetar, "Siapa Mas?" tanya Siti yang melihat ke arah Gordon.


"Edi," jawab Gordon,ia melihat isi pesan yang di kirim Edi.


"Bu,ada baiknya mulai besok,Reyhan dan Raya pulang ke rumah Satria,dan Kalau Tuan Richads mau ikut nggak masalah,ayah yakin Satria pasti nggak keberatan," jelas Gordon pada istrinya.


"Terus Sandy, gimana Yah?"Tanya Siti yang melihat raut wajah sang suami seperti menyimpan sesuatu.


"Dia ikut kita,"jelas Gordon dengan mantap.


Malam hari setelah selesai makan,Keluarga besar Richads berkumpul di ruang makan untuk membahas sesuatu hal.

__ADS_1


"Ada apa Ayah mengumpulkan kita semua?" tanya Raya pada Gordon.


"Kamu dan Reyhan harus balik kerumah Satria,dan kalau Tuan Richads mau ikut Raya tidak masalah,"ucap Gordon dengan serius.


"Ini ada apa lagi,Gordon apa wanita itu mau melakukan sesuatu,"Ucap Tuan Richads mantap.


"Ya,dan saya baru mendapat berita ini dari Edi kakak ipar anda Tuan," ucap Gordon.


"Laki laki itu,tidak bisa ditebak, kemarin aja dia kasar pada Raya," sungut Richads.


"Mungkin karena dia tidak tahu kalau Raya anak kandung anda Tuan,"sahut Gordon memberi penjelasan.


"Ia mungkin saja,dan saya lebih baik ikut dengan Raya," sahut Richdas tanpa mau di bantah.


Sandy yang mendengar ucapan kedua pria tua tersebut hanya diam dan tidak merespon.


"Kak Sandy,kemana Yah?"tanya Raya dengan kening berkerut.


"Ikut Ayah dan Ibu,"sahut Siti,dengan mimik muka Raya yang hendak protes.


"Hiss, baru aja kumpul dan pisah lagi,"omel Raya pelan namun masih bisa di dengar oleh Reyhan.


"Bersambung.....


Tinggalkan jejak dan sarannya,biar author semakin semangat

__ADS_1


__ADS_2