Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy

Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy
Jalan jalan


__ADS_3

Sandy yang sadar sudah tidak ada Raya adiknya di cafe tersebut,langsung berlari keluar dari dalam cafe.


"Sandy...,"teriak Edi yang tanpa di perdulikan.


"Sayang,kamu tidak apa apakan,lagian siapa suruh kamu cari penyakit," ucap Istri Edi yang datang menhampirinya.


Sementara di luar cafe,Alvin,Lila,Raya menunggu Sandy yang baru keluar dari dalam cafe.


"Raya,loe makin ganas aja semenjak hamil," ucap Alvin sahabatnya.


"Aku nggak akan berbuat seperti itu kalau tidak dia yang mulai,"ucap Raya dengan sekenanya.


Sandy yang sudah sampai dekat dengan mereka,langsung mengajak Raya pergi ke satu tempat yang sudah lama ia tak kunjungi.


"Apa kalian mau ikut,"tawar Sandy pada kedua sahabat adiknya.


"Baik kami ikut,"ucap Lila sambil menatap pada Alvin dan Raya.


Sepanjang perjalanan Raya,Lila dan Alvin di suguhkan pemandangan yang indah dan sangat memanjakan mata.Mobil yang dibawa Sandy berbelok kearah puncak dan memasuki sebuah Vila yang tak jauh dari Vila keluarga Gordon.


"Kak ini rumah siapa,apa kakak mau mencari calon kakak ipar buatku,"ucap Raya dengan pandangan yang tak lepas dari sebuah rumah yang terbilang sederhana.


"Huss,ngaco kalau ngomong,"sahut Sandy yang berjalan ke arah pintu rumah tersebut.

__ADS_1


Sandy membuka pintu,yang sudah disambut oleh seorang wanita paruh baya.


"Bibi apa kabar,gimana kesehatan bibi,"tanya Sandy yang sudah lama tidak datang ke rumah kecil tersebut.


"Bibi baik den,ini siapa den,kenapa mirip dengan Tuan Richads," menujuk ke arah Raya.


"Ini adik Raya Bibi yang mulai dari bayi di asuh oleh paman Gordon ,"terang Sandya pada Bibi Wijaya.


"Oh,Silahkan masuk den,jadi lupa mempersilahkan masuk," Ucap Bibi wijaya pada ke empat tamunya.


"Kak ini rumah siapa kenapa ada gambar kalian bertiga," Tanya Raya penasaran.


"Ini rumah Ayah dan Ibu sebelum pindah ke kota,"sahut Sandy yang berkeliling melihat seisi rumah tersebut.


Bi Wijaya yang baru datang dari dapur membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk Sandy dan Raya serta kedua sahabatnya.


"Maafin Bibi den,belum sempat siap-siap,"ucap Bi Wijaya pada Sandy.


"Bi kenapa harus repot-repot,bibi yang udah rawat rumah ini dari dulu jadi kami harus ucapkan terima kasih pada Bibi," ucap Raya yang berjalan ke arah satu gambar yang membuat ia tertarik.


"Bi apa selama ini ada datang ke rumah bibi?" tanya Sandy yang melihat ke arah wanita paruh baya tersebut.


"Tidak ada Den," ucap Bibi Wijaya dengan tenang.

__ADS_1


"Bibi permisi kebelakang ya Den,"ucap Bi Wijaya pada kedua anak Tuannya.


Raya yang masih penasaran,segera bertanya pada Sandya.


"Kak apa bibi Wijaya tidak punya anak,atau suami?"tanya Raya penasaran.


"Bi Wijaya seorang janda,suaminya sudah lama meninggal karena suatu penyakit,sementara anaknya berada di luar negeri tempat kakak selama ini tinggal," ucap Sandy jelas.


"Terus kenapa anak Bibi wijaya tidak ikut pulang dengan kakak?" tanya Lila yang di ikuti anggukan oleh Alvin.


"Ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan,"jawab Sandy


"Kak satu lagi,laki atau perempuan?" tanya Raya yang menatap Sandy dengan wajah memelas.


"Perempuan,"ucap Sandy dengan kesal.


"Yes,kalau begitu aku akan beritahu Dady kalau kak Sandy sudah punya tunangan,"ucap Raya asal.


"Huss kalau ngomong itu jangan asal," ucap Sandy sewot.


"Ya sudah kalau kakak tidak mau aku akan jodohkan dia dengan dosenku,"ucap Raya yang melihat wajah Sandy sudah memerah menahan amarah.


Bersambung....

__ADS_1


Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya.


__ADS_2