Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy

Sang Pemikat Hati Sigadis Tomboy
Sifat Sandy


__ADS_3

"Paman wanita yang datang tadi siapa,kenapa Dia bisa tahu namaku?" tanya Sandy dengan sedikit heran dengan melihat ke arah pintu luar


"Oh bukan siapa-siapa hanya orang yang salah alamat,"sahut Gordon pada Sandy.


Melihat ke arah Raya lalu berlalu ke sebuah ruangan, dimana Ketika waktu Momy Merly ada Sandy dan Momynya selalu menghabiskan waktu di tempat itu.Banyak kenangan yang tersimpan.Tak terkecuali dengan malam Naas itu dimana ia dan kedua orang tuanya harus terpisah dari adiknya yang baru lahir.


Sandy mengetahui segalanya,bahkan tentang kematian Momynya ia pun tahu.Namun ia tak pernah menyimpan dendam kepada orang tersebut.Karena bagi Sandy yang berhak membalas semua kejahatan hanyalah Yang Maha Esa.


"Mom,ternyata Ayah sudah memberitahukannya pada adik Raya,sehingga adikku itu selalu bersikap kasar pada Nenek Sulis,"ucap Sandy yang sambil duduk memegang dan melihat foto Momy Merly.


Sementara Reyhan yang sedang berada di ruangan lain menyelesaikan tugas-tugas yang diantar dari kantor.Raya pergi menemui sang suami," Kak,ini kopi kesukaanmu,silahkan di coba," ucap Raya yang langsung duduk di pangkuan Reyhan.


Menarik nafas dan membuangnya kembali,"Sayangnya aku,bisa duduk di kursi itu,ada sedikit lagi,berkas berkas yang harus ku periksa,"ucap Reyhan dengan lembut.


Raya bukannya mendengarkannya,ia malah semakin menjadi. Bagaimana tidak tangan Raya sudah berada di dada bidang milik Reyhan dan menghembuskan nafasnya ke kuping Reyhan.


"Baiklah aku ijinkan,sayangnya aku," ucap Raya dengan nada manja.

__ADS_1


Sembari mainkan hp miliknya Raya duduk di sofa yang berada didalam ruangan tersebut.


Raya tertawa sendiri melihat ke arah hp miliknya.


Reyhan yang sudah menahan sedari tadi kini ia bisa bernafas lega.


"Aya,apa sekarang Kakak sudah bisa menjelajah waktu bersama,"ucap Reyhan yang sudah menggendong Raya menuju kamar tidur mereka.


"Hiss Kakak masih siangnya udah mesum,"ucap Raya dengan nada manja.


Reyhan tidak memperdulikan apa yang di ucapkan istrinya,dirinya hanya ingin menuntaskan apa yang sudah lama ia simpan selama satu minggu ini.


Pak Gordon yang berada di kamar Richads kini sudah keluar kembali dan mencari istri tercinta.


Gordon langsung menuju paviliun yang ada di rumah tersebut.


"Sudah Ayah tebak,ibu pasti sudah berada disini," sahut Pak Gordon pada istrinya tercinta.

__ADS_1


"Ia,Ayah ibu sudah lama tidak kesini," Ucap pBu Siti yang melihat ke segala arah Paviliun.


"Bu,ayah mau tidur sebentar ya,"beritahu Pak Gordon pada istri tercinta.


Pak Gordon langsung menjatuhkan badannya ke arah tempat tidur.


"Ayah sudah lama kita tidak kumpul dengan anak anak kita,terakhir pas Raya berumur 10 tahun,"ucap Bu Siti dengan sendu.


"Besok kita pulang dan membawa Tuan Richads serta, ayah takut nanti wanita tersebut datang kembali saat kita atau Raya tidak ada," ucap Pak Gordon.


Bu Siti menganggukkan kepalanya,Siti memang istri yang baik dan pengertian.Ia paham tentang pekerjaan suaminya sebagai asisten sekaligus tangan kanan Tuan Richads.Sebagai orang kepercayaan Gordon tak pernah berani membantah apa pun yang diucapkan Richads padanya.


"Bu...Bu..,"jerit Raya memanggil Ibunya, Bu Siti yang mendengarkan jeritan Raya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ada apa nak?,sudah mau jadi seorang ibu pun," ucap Bu Siti sembari mengelus kepala Raya.


"Bu,Raya pengen makan masakan Ibu,please," mohon Raya dengan wajah memelas pada Bu Siti.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya.teman teman


__ADS_2