
Laras merasa prihatin melihat nasib Nisa, karena Dokter mengatakan jika Nisa mengalami gangguan mental, jadi Nisa harus diberi pengobatan oleh Psikolog untuk membantu penyembuhan psikologinya.
"Nisa, kenapa nasib kamu malang sekali Nak, Nisa pasti sangat syok karena mengetahui Suaminya berselingkuh, ditambah lagi Nisa harus kehilangan bayinya," ujar Bu Ida dengan menangis.
"Bu, yang sabar ya, semoga Nisa segera sembuh, dan tabah dalam menerima cobaan hidup yang diberikan oleh Allah SWT," ujar Laras dengan memeluk tubuh Bu Ida.
"Semua ini adalah hukuman karena Ibu sudah jahat sama kamu Nak, Rahman juga sudah menyakiti kamu, jadi sekarang kami mengalami cobaan bertubi-tubi atas kesalahan yang kami buat."
"Bu, udah berapa kali Mawar bilang, kalau tidak ada yang namanya karma di Dunia ini, jadi Ibu tidak perlu menyangkut pautkan semuanya dengan Kak Laras," ujar Mawar yang baru saja datang bersama Rahman.
"Mawar, seharusnya kamu meminta maaf kepada Kakak kamu, jangan sampai kamu juga mengalami nasib sial karena sudah jahat kepada Laras."
"Sampai kapan pun aku tidak akan sudi meminta maaf kepada dia. Sekarang dia sudah bukan Kakakku lagi," ujar Mawar dengan angkuhnya.
Rahman sampai tidak berkedip melihat Laras yang semakin cantik, dan Rahman semakin menyesal karena telah menyia-nyiakan Laras.
"Terserah kamu Mawar, aku juga tidak akan sudi mempunyai Adik pelakor seperti kamu, karena yang namanya saudara tidak akan mungkin menyakiti saudaranya sendiri. Bu, Pak, kalau begitu Laras pamit dulu ya, semoga semuanya segera sembuh, dan diberikan ketabahan dalam menghadapi semua cobaan. Bu, ini ada sedikit rezeki, semoga bisa membantu biaya pengobatan Bapak dan Nisa, meski pun jumlahnya tidak seberapa," ujar Laras dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang sebesar dua juta rupiah.
"Makasih banyak ya Nak, Ibu sangat menyesal karena telah berbuat jahat sama Laras."
"Sudahlah Bu, Ibu jangan terlalu banyak pikiran, jangan sampai Ibu ikut sakit juga."
Mawar yang merasa iri tehadap Laras langsung saja melontarkan sindiran.
"Punya uang dari mana kamu? pasti itu uang hasil menjajalkan tubuh kan?"
Plak
Laras yang sudah tidak tahan lagi dengan perkataan Mawar, akhirnya melayangkan tamparan pada pipi Mawar.
__ADS_1
"Tutup mulut kamu Mawar, jangan samakan aku dengan kamu. Aku lebih baik tidak memiliki uang, daripada banyak uang tapi hasil dari morotin Suami oranglain, apalagi sampai menjual tubuh," ujar Laras.
"A_apa maksud kamu?" tanya Mawar yang sudah terlihat ketakutan jika Laras akan membeberkan rahasia tentang perselingkuhannya dengan Tuan Dirga.
"Kamu pikir saja sendiri. Sekali lagi kamu berani menghinaku, aku tidak akan tinggal diam. Kamu pikir selama ini aku diam karena takut dengan kamu? ingat Mawar, kesabaran manusia itu ada batasnya, jadi kamu jangan menguji kesabaranku. Semut saja apabila diinjak pasti akan menggigit," ujar Laras, kemudian ke luar dari kamar perawatan Pak Syarif dan Nisa.
Laras memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di Taman yang berada di Rumah Sakit, karena saat ini airmatanya sudah tidak dapat ia bendung lagi.
"Bu, Pak, maafin Laras. Laras bukan Kakak yang baik, Laras sudah menyakiti Adik Laras sendiri," gumam Laras yang sebenarnya tidak tega menampar Mawar, tapi Laras sudah tidak kuat mendengar penghinaan Mawar terhadap dirinya.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang memberikan sapu tangan kepada Laras, tapi laras tidak mengambilnya, setelah melihat wajah Lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.
"Menangislah jika semua itu bisa membuat kamu merasa lebih tenang," ujar Tuan Dirga yang sudah diam-diam mengikuti Laras.
Tuan Dirga yang penasaran dengan sosok Laras, sampai mencari tau nomor handphone Laras yang diam-diam dia ambil dari handphone Mawar, bahkan Tuan Dirga terus mengirimkan pesan kepada Laras, tapi Laras tidak pernah meresponnya.
"Maaf Tuan, saya butuh waktu sendiri, jadi sebaiknya Anda pergi dari sini," ujar Laras.
"Baiklah kalau Anda tidak mau pergi, saya sendiri yang akan pergi," ujar Laras kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu Laras, aku hanya ingin menjadi temanmu," ujar Tuan Dirga dengan memegangi tangan Laras.
"Lepaskan tangan saya, jangan samakan saya dengan perempuan murahan yang sudah biasa Anda kencani. Anda harus tau Tuan, sedikit pun saya tidak tertarik untuk berteman dengan Anda. Seharusnya Anda sadar diri, kalau Anda lebih pantas menjadi Ayah saya," ujar Laras, kemudian berlari meninggalkan Tuan Dirga.
"Semakin kamu lari dariku, aku semakin penasaran dengan kamu Laras. Jangan sebut aku Dirgantara, jika aku tidak bisa medapatkanmu," gumam Tuan Dirga dengan tersenyum licik.
......................
Saat ini perasaan Laras sedang tidak baik-baik saja, Laras terus saja melamun, sampai akhirnya Laras hampir saja tertabrak mobil.
__ADS_1
Pengendara mobil yang melihat Laras berjongkok di depan mobilnya, turun untuk melihat kondisi Laras.
"Nona, apa Anda baik-baik saja? maaf saya tidak sengaja hampir menabrak Anda. Nama saya Abi, kalau begitu sekarang saya akan mengantar Anda pulang," ujar Abi, tapi Laras terus saja berjongkok dengan menutup kedua telinganya.
Abi mencoba membantu Laras untuk berdiri, tapi Laras yang masih merasa syok tidak dapat berbicara satu patah kata pun.
"Nona sebaiknya Anda minum dulu," ujar Abi dengan memberikan sebotol air mineral yang telah ia buka kepada Laras.
Setelah Laras minum, secara perlahan Laras mulai merasa tenang.
"Terimakasih Mas, maaf saya harus pulang," ujar Laras yang hendak ke luar dari dalam mobil.
"Tunggu Nona, biar saya antar. Kelihatannya Anda sedang tidak baik-baik saja," ujar Abi, dan akhirnya Laras menerima penawaran Abi, karena saat ini kondisi tubuh Laras masih merasa lemas.
Abi tidak berani bertanya apa pun kepada Laras, apalagi Laras masih terlihat syok, sampai akhirnya Laras menyuruh Abi untuk menghentikan mobilnya.
"Mas, saya berhenti di sini saja," ujar Laras.
"Memangnya rumah Nona dimana? biar saya antar sampai rumah."
"Nama saya Larasati, Mas panggil saja saya Laras. Saya mengontrak di sebelah pabrik, karena kebetulan saya kerja di PT. Abimana," ujar Laras dengan tersenyum, dan Abi merasakan getaran aneh dalam dadanya.
Perempuan yang sangat cantik. Jadi, Laras bekerja di Pabrik milikku? ucap Abi dalam hati.
Abi adalah pemilik pabrik tempat Laras bekerja, dan saat ini Abi hendak meninjau kondisi Pabrik, makanya Abi datang ke Bogor.
"Laras, apa aku boleh meminta nomor handphone kamu?" tanya Abi, tapi Laras terlihat keberatan karena belum mengenal Abi.
"Kamu tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin memastikan kalau kondisi kamu baik-baik saja. Apa sebaiknya sekarang kita ke Dokter dulu?"
__ADS_1
"Tidak perlu Mas, saya baik-baik saja. Ini momor handphone saya. Terimakasih Mas Abi sudah mengantar saya. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Laras kemudian mengucap Salam dan ke luar dari mobil Abi.
Kita pasti akan bertemu lagi Laras, dan sepertinya aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatmu, ucap Abi dalam hati dengan terus menatap kepergian Laras.