Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 62 ( Anya hamil )


__ADS_3

Mawar terkejut ketika mendengar teriakan Polisi yang menyuruhnya untuk angkat tangan.


"Nyonya Mawar, Anda kami tahan atas tuduhan kejahatan berencana terhadap Tuan Abimana," ujar Polisi kemudian memborgol Mawar.


"Lepaskan saya, saya tidak bersalah," teriak Mawar dengan mencoba melepaskan diri.


"Anda nanti bisa menjelaskannya di Kantor Polisi," ujar Polisi dengan memasukan Mawar ke dalam mobil.


Mawar saat ini tengah di interogasi, dan Pengacara Abi telah memberikan bukti rekaman CCTV serta hasil Lab dari minuman yang telah Mawar campur dengan obat perangsang.


"Saya tidak bersalah Pak, tolong lepaskan saya."


"Maaf Nyonya Mawar, Anda tidak dapat mengelak lagi, karena saat ini kami sudah menerima bukti kejahatan Anda."


Mawar saat ini dimasukan ke dalam sel tahanan, dan Mawar terus saja menangis meratapi nasib buruk yang dirinya alami.


"Heh, bisa diam tidak? kamu berisik sekali? lebih baik kamu pijit pundak ku," teriak senior para Tahanan, tapi Mawar tidak mau menurutinya sehingga senior tahanan merasa geram.


"Kasih pelajaran sama Anak baru supaya dia tidak seenaknya menolak perintahku," ujar senior tahanan, dan langsung saja Mawar dipukuli oleh beberapa tahanan lain sampai babak belur.


"Hentikan, kenapa kalian selalu membuat keributan !!" teriak salah satu Polisi Wanita yang mendengar keributan.


Mawar berteriak minta tolong, karena saat ini perutnya terasa sakit, apalagi dari jalan lahirnya terlihat ke luar darah.


Penjaga tahanan akhirnya membawa Mawar ke Klinik yang berada di Penjara, tapi Mawar di rujuk menuju rumah sakit karena mengalami pendarahan yang hebat.


......................


Di tempat lain, tepatnya di rumah Rahman, Anya tiba-tiba merasakan gejolak hebat pada perutnya sehingga Anya berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa sampai muntah seperti ini?" ujar Rahman dengan memijit tengkuk leher Anya.


"Tidak tau Mas, Anya mual terus, kepala Anya juga pusing."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke Rumah Sakit," ujar Rahman dengan membopong tubuh Anya ke luar dari rumah.


Setelah Dokter melakukan pemeriksaan, Dokter menyatakan jika Anya tengah hamil muda, dan usia kehamilannya baru sekitar 5 minggu.


"Selamat ya Nyonya, Tuan, kalian akan menjadi orangtua, dan kehamilan Nyonya saat ini sudah sekitar lima minggu," ucap Dokter.


Anya langsung berteriak histeris, karena Anya takut jika bayi yang saat ini dia kandung bukanlah Anak Rahman.


"Tidak, aku tidak mau hamil, aku takut bayi ini Anak penjahat itu Mas, sebaiknya kita gugurkan saja kandunganku," teriak Anya dengan memukuli perutnya.

__ADS_1


"Sayang, jangan seperti ini, Anak siapa pun yang berada dalam kandungan Anya, Mas yang akan mengakuinya," ujar Rahman.


"Tidak, aku tidak ingin bayi ini," teriak Anya dengan terus memukuli perutnya, sampai akhirnya Dokter terpaksa memberikan Anya obat penenang.


"Tuan, sepertinya Anda harus membawa istri Anda bertemu psikiater, karena saya takut kalau istri Anda akan nekad menggugurkan kandungannya," ujar Dokter.


"Baik Dok, saya akan mencobanya," ujar Rahman.


Anya yang tidak sadarkan diri akhirnya dirawat di Rumah Sakit supaya mendapatkan penangan medis.


"Aku harus bagaimana, uang dari mendiang Papa Dirga tinggal sedikit lagi, dan aku tidak bisa bekerja karena harus menjaga Anya?" gumam Rahman dengan mengacak rambutnya secara kasar.


Setelah Anya sadar dari pengaruh obat penenang, Anya bersikeras meminta Rahman untuk mengantarkannya ke rumah Papa Dirga.


"Mas, aku mau pulang ke rumah Papa sekarang juga."


"Sayang, besok saja ya, sekarang sudah malam," ujar Rahman.


"Aku ingin kita ke Jakarta sekarang juga, kalau Mas Rahman tidak mau mengantar Anya, Anya akan menggugurkan Anak haram yang ada dalam kandungan Anya.


"Berhenti berpikir seperti itu Anya, aku tidak mau kalau kamu sampai kenapa-napa. Baiklah kalau kamu bersikeras ingin pulang ke Jakarta sekarang, aku akan mengantarkan kamu."


Rahman akhirnya mengalah, dan dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti kepada Anya jika sampai Anya mengetahui kalau Papa Dirga sudah meninggal dunia.


"Anya, kamu kemana saja Nak? kenapa kamu baru pulang?" tanya Mama Lasmi saat melihat Anya dan Rahman masuk ke dalam rumah.


"Anya habis liburan dari Bali sama Suami Anya Ma. Kenalin ini namanya Mas Rahman," ujar Anya, sontak saja Laras dan Abi terkejut mendengar perkataan Anya.


"Anya, kamu pasti tau kalau Rahman sudah menikah?" tanya Abi.


"Memangnya kenapa kalau sudah menikah? kami juga saling mencintai, lagian kemarin Mas Rahman sudah menceraikan Mawar," jawab Anya dengan entengnya.


"Kamu ini perempuan Anya, kamu tidak seharusnya menyakiti perempuan lainnya," ujar Mama Lasmi yang ikut berpendapat juga.


"Mawar istrinya Mas Rahman juga dulu merebut Mas Rahman, bahkan dia lebih kejam karena telah merebut Mas Rahman dari Kakaknya."


Rahman sudah tertunduk malu ketika melihat Abi dan Laras.


"Apa kamu tau siapa istri Rahman dulu yang pernah Rahman sakiti? bahkan sampai saat ini Rahman sudah menelantarkan Anak kandungnya sendiri?" tanya Abi.


"Bukan urusan Anya, yang penting Mas Rahman mencintai Anya, dan kami saling mencintai."


"Mungkin itu bukan urusan kamu, tapi itu adalah urusan Kakak, karena Rahman sudah menyakiti perempuan yang Kakak cintai, juga sudah menelantarkan Daffa, karena perempuan itu adalah Laras istri Kakak."

__ADS_1


Degg


Jantung Anya rasanya berhenti berdetak, karena Anya tidak mengira jika dirinya sudah memungut bekas Suami Laras.


"Tidak, tidak mungkin Mas Rahman mantan Suami Laras. Enak sekali Laras mendapatkan Kak Abi yang masih perjaka, sedangkan aku harus mendapatkan bekas dia," tunjuk Anya kepada Laras.


"Turunkan tangan kamu," teriak Mama Lasmi dengan menurunkan tangan Anya.


"Ma, Anya ini Anak Mama, seharusnya Mama membela Anya."


"Kamu benar, dulu aku sudah mengangkat kamu sebagai Anak ku, tapi kamu tidak pantas menunjuk Anak kandungku," ujar Mama Lasmi dengan penuh penekanan.


Anya semakin terkejut mendengar kenyataan tentang Laras, begitu juga dengan Rahman.


"Tidak, aku tidak rela Laras menjadi Kakak ku. Aku harus menanyakannya langsung sama Papa, karena kalian pasti sudah berbohong kepadaku," teriak Anya.


"Anya, kamu memang keterlaluan, bahkan Papa kamu meninggal pun kamu tidak mengetahuinya," ujar Mama Lasmi, dan Anya yang begitu syok sampai menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Papa ninggalin Anya, Anya tidak rela Papa meninggal, kalian pasti berbohong, kalian pasti berbohong," teriak Anya dengan terus mengacak rambutnya.


"Sayang, jangan seperti ini," ujar Rahman dengan memeluk tubuh Anya, tapi Anya langsung mendorong tubuh Rahman.


"Kamu juga pembohong Rahman, aku tidak mau bertemu lagi dengan kamu, semua orang di Dunia ini jahat, semua orang di Dunia ini pembohong. Anya lebih baik ikut Papa," teriak Anya dengan berlari ke dapur untuk mengambil pisau.


"Anya, hentikan sayang, jangan seperti ini, aku minta maaf kalau aku sudah melakukan kesalahan," ujar Rahman.


"Kalian semua orang jahat, aku akan melenyapkan kalian semua," teriak Anya dengan menodongkan pisau kepada semuanya.


Abi bergegas memanggil bagian keamanan yang berada di kediaman Dirgantara, dan akhirnya Anya berhasil dilumpuhkan.


Saat ini kaki dan tangan Anya diikat karena Anya terus saja berteriak ingin melukai semua orang.


"Abi, sebaiknya kita segera menelpon Dokter supaya memberikan obat penenang untuk Anya," ujar Mama Lasmi, dan Rahman yang mendengarnya langsung saja angkat suara.


"Maaf Ma, sebenarnya sudah hampir dua bulan ini Anya mengalami gangguan jiwa setelah kami dirampok dan Anya dilecehkan oleh para perampok," ujar Rahman.


"Jangan panggil aku Mama, karena aku tidak sudi memiliki Menantu sepertimu. Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, dan aku tidak mau melihat lelaki bejat yang telah menyakiti Anak ku," ujar Mama Lasmi.


"Ma, Mama tenang dulu, Laras tidak mau kondisi kesehatan Mama memburuk."


"Mama akan baik-baik saja selama ada kalian Nak, tapi Mama tidak sudi rumah kita diinjak oleh Lelaki yang telah menyakiti Laras."


Rahman akhirnya pergi dari kediaman Dirgantara, karena Mama Lasmi terus mengusirnya.

__ADS_1


__ADS_2