
Laras langsung pulang menuju kontrakan, dan ketika sampai di depan pintu, Laras tidak sengaja mendengar percakapan Anggi dengan pacarnya.
"Anggi, sampai kapan kamu akan tinggal bersama Laras dan Daffa? sekarang kamu tidak pernah ada waktu lagi buat aku karena harus mengurusi Anak Laras. Aku juga butuh perhatian kamu Anggi," ujar Reza.
"Za, aku harap kamu mengerti aku. Laras sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, dan aku sangat menyayangi Laras dan Daffa. Kamu tau sendiri kan kalau aku tidak mungkin menjadi seperti sekarang tanpa bantuan dari Laras? Laras sangat berjasa untuk hidup aku Za."
"Aku tau tentang Laras yang sudah berjasa dalam hidup kamu, tapi kita juga harus memikirkan masa depan kita. Kalau kamu masih saja terus membantu Laras mengurus Daffa, sebaiknya kita putus saja."
"Baik kalau itu mau kamu. Selama ini juga kamu tidak pernah mengerti aku. Aku lebih baik kehilangan pacar daripada sahabat sekaligus orang yang sudah aku anggap sebagai saudara," ujar Anggi, dan Reza begitu terkejut dengan keputusan Anggi, padahal tadinya Reza hanya menggertak Anggi saja, apalagi selama ini Reza selalu memanfaatkan Anggi untuk memberikannya uang, karena Reza hanya seorang pengangguran.
Aku tidak boleh putus dari Anggi, karena selama ini Anggi adalah ATM berjalanku, ucap Reza dalam hati.
Laras yang mendengar perkataan Anggi, langsung saja masuk, kemudian Laras angkat suara, karena Laras tidak mau menjadi penyebab putunya hubungan Anggi dengan Reza.
"Anggi, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Aku tidak mau kamu mengorbankan hidupmu dan hubunganmu dengan Reza hanya demi aku dan Daffa. Benar kata Reza, kamu harus memikirkan masa depan kamu, kamu juga harus lebih perhatian kepada Reza dibandingkan kepadaku dan Daffa. Aku tidak mau kalau kalian sampai putus gara-gara aku. Jadi, lebih baik aku mengontrak sendiri saja dan menyuruh orang untuk merawat Daffa," ujar Laras dengan memeluk tubuh Anggi.
Reza yang mata keranjang begitu terpesona melihat kecantikan Laras, sehingga Reza akhirnya berubah pikiran.
Bagus deh Laras membujuk Anggi. Jadi, aku bisa sekalian mendekati Laras yang semakin hari semakin cantik. Janda memang lebih menggoda, dan aku yakin kalau Laras yang sudah berpengalaman, pasti akan dengan mudah untuk aku rayu, ucap Reza dalam hati.
"Laras, aku tidak mau berpisah dengan kamu dan Daffa, aku tidak bisa hidup tanpa kalian, karena kalau kamu dan Daffa pergi, aku pasti akan kesepian," ujar Anggi dengan memeluk erat tubuh Laras.
"Iya Laras, aku minta maaf karena tadi aku sudah terbawa emosi. Aku sebenarnya tidak mau putus dengan Anggi, aku juga berharap kamu dan Daffa akan terus tinggal di sini menemani Anggi."
"Anggi, kita tidak mungkin bisa terus tinggal bersama, apalagi kalau nanti kamu sudah nikah. Reza, aku harap kamu segera mencari pekerjaan, kasihan Anggi kalau harus membanting tulang sendirian," ujar Laras.
"Kamu tenang saja Laras, aku tidak mungkin terus mengandalkan Anggi, lagian aku Anak orang kaya, jadi meskipun aku tidak bekerja, orangtua aku masih bisa memenuhi semua kebutuhanku."
"Apa kamu tidak malu terus mengandalkan orangtuamu? seharusnya seorang Anak yang memenuhi semua kebutuhan orangtuanya," sindir Laras, sehingga membuat Reza merasa geram.
__ADS_1
Dari dulu Laras sebenarnya tidak suka terhadap Reza yang sombong, apalagi Laras tau kalau Reza mata keranjang, tapi Laras tidak tega mengatakan semuanya kepada Anggi, karena Anggi begitu mencintai Reza.
Sial, Laras sudah membuat aku malu. Lihat saja nanti Laras, aku pasti akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapanku, ucap Reza dalam hati.
"Anggi, sebaiknya sekarang kita pergi jalan-jalan, Laras juga sekarang sudah pulang, jadi tidak ada alasan untuk kamu menolak ajakanku karena harus mengurus Daffa," ujar Reza.
"Laras, kalau begitu aku ke luar dulu ya, lumayan masih ada waktu dua jam sebelum aku masuk kerja," ujar Anggi.
"Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati ya, makasih kamu sudah menjaga Daffa dengan baik," ujar Laras dengan memeluk Anggi.
......................
Abi sudah memutuskan akan mencari kontrakan di dekat rumah Laras, supaya Abi bisa mendekati Laras.
"Sebaiknya aku berpura-pura menjadi orang miskin saja supaya aku bisa mendekati Laras, kebetulan aku bisa menjadi mekanik di pabrik, dan sebaiknya aku meminta pada Manager pabrik untuk merahasiakan tentang identitasku yang sebenarnya," gumam Abi.
Tidak memerlukan waktu lama untuk Abi tiba di kontrakan Laras, karena jarak dari pabrik ke kontrakan Laras hanya beberapa meter saja.
"Assalamu'alaikum," ucap Abi saat melihat Laras sedang menggendong Daffa di depan kontrakan.
"Wa'alaikumsalam. Mas Abi, cepet banget datang ke sini nya."
"Kebetulan aku habis nganterin mobil dari PT Abimana, karena mobil yang tadi aku pakai adalah milik Tuan yang punya pabrik."
"Pantesan saja datangnya cepet. Oh, jadi itu mobil Tuan yang punya pabrik? Laras kira tadi itu mobil Mas Abi."
"Aku tidak mungkin mempunyai mobil sebagus itu, aku juga baru diterima kerja di PT Abimana, walau pun hanya sebagai teknisi."
"Alhamdulilah, apa pun pekerjaannya, yang penting halal Mas."
__ADS_1
Laras memang perempuan yang baik, tapi siapa bayi yang digendongnya? batin Abi kini bertanya-tanya.
"Oh iya Laras, ini bayi siapa?"
"Ini bayiku, Mas."
Degg
Jantung Abi rasanya berhenti berdetak ketika mendengar jika Laras sudah memiliki Anak.
Sepertinya aku harus berhenti berjuang mendapatkan cinta Laras, karena ternyata Laras sudah menikah, ucap Abi dalam hati.
"Maaf ya, pasti Suami kamu marah karena aku sudah mengganggu kamu."
"Laras sudah tidak memiliki Suami, Mas."
Senyuman langsung terbit pada bibir Abi ketika mendengar Laras sudah tidak memiliki Suami.
Kalau jodoh memang tidak akan lari kemana. Aku pasti akan mengejar cinta kamu Laras. Aku juga tidak peduli dengan status kamu, meski pun kamu seorang janda beranak satu, ucap Abi dalam hati.
"Maaf Laras, aku sudah membuat kamu sedih," ucap Abi yang melihat kesedihan pada mata Laras.
"Tidak apa-apa Mas. Kita juga tidak bisa melawan takdir yang sudah Tuhan tentukan. Hidup harus tetap berjalan, apalagi Laras masih memiliki Daffa, dan Laras harus berjuang untuk membesarkannya."
"Jadi Bayi tampan ini namanya Daffa? sini Om Abi gendong Nak," ujar Abi, dan Daffa langsung mau digendong oleh Abi.
Daffa terlihat tertawa saat Abi mengajaknya bermain, dan Laras menitikkan airmata melihat semuanya.
Mungkin Daffa kangen sama Mas Rahman, sehingga Daffa mengira jika Mas Abi adalah Mas Rahman. Maafkan Ibu Nak, Ibu tidak bermaksud memisahkan Daffa dari Ayah, tapi keadaan yang memaksa Ibu berpisah dengan Ayah Daffa, karena Ibu tidak bisa menerima jika harus dimadu, ucap Laras dalam hati.
__ADS_1