Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 50 ( Honeymoon VS Babymoon )


__ADS_3

Anya yang masih merasa ketakutan karena hampir dicekik oleh Nisa, masih mencoba untuk menetralkan debaran jantungnya.


"Aku kapok datang ke rumah orangtua Mas Rahman, kalau tadi Ibunya Mas Rahman tidak memegangi Nisa, mungkin nyawaku sudah melayang," gumam Anya dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.


Ketika mobil Anya sampai di depan rumah Rahman, Anya bergegas turun dari mobil untuk menghampiri Mawar dan Rahman yang sudah terlihat menunggunya di teras depan rumah.


"Anya, kenapa wajah kamu terlihat pucat begitu? kamu tidak sedang sakit kan?" tanya Mawar.


"Aku tidak apa-apa Mawar, aku hanya kehausan saja."


"Kalau begitu, aku ambilkan minum dulu ya," ujar Mawar kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?' tanya Rahman dengan memeluk tubuh Anya.


"Aku takut Mas, Nisa marah saat melihatku, bahkan Nisa hampir saja mencekik ku, karena Nisa ingat dengan perbuatan Neneng yang sudah merebut Herman darinya, dan dia membenci Pelakor."


"Atas nama Nisa aku benar-benar minta maaf ya, sebaiknya kamu jangan ke rumah Ibu lagi kalau tidak sama Mas, karena Mas takut penyakit Nisa kambuh saat melihat Pelakor."


"Tega sekali sih Mas memanggil aku Pelakor."


"Bukan begitu sayang, Anya cantik jangan marah ya, Mas sudah mendaftarkan pernikahan kita secara Negara lho."


"Beneran, makasih ya sayang," Saking bahagianya Anya berteriak histeris.


"Ssssttt jangan kenceng-kenceng bicaranya, nanti Mawar dengar," bisik Rahman, sehingga Anya menutup mulutnya yang masih tertawa bahagia.


Ketika Rahman dan Anya mendengar langkah kaki Mawar, mereka bergegas melepaskan pelukannya.


"Anya, kenapa tadi aku dengar kamu berteriak?" tanya Mawar.


"Oh itu, tadi aku mendapatkan kabar bahagia dari kekasihku, katanya nanti dia mau menyusul kita ke Bali," ujar Anya yang mencoba mencari alasan.


"Bagus deh, jadi kamu gak bakalan iri kalau melihat aku dan Mas Rahman bermesraan," ujar Mawar, dan hati Anya merasa panas mendengar perkatan Mawar.


"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kita berangkat sekarang," ujar Rahman yang mencoba mencairkan suasana yang terasa panas, karena Rahman takut kalau sampai Anya keluar tanduk dan taring.


Rahman membukakan pintu mobil untuk Mawar.

__ADS_1


"Mawar, kamu duduk di belakang ya supaya bayi kita tidak terganggu selama perjalanan, Ibu hamil juga gak boleh duduk di depan, soalnya berbahaya kalau aku tiba-tiba ngerem mendadak," ujar Rahman yang mencari alasan supaya Anya tidak merasa cemburu jika Mawar duduk di sampingnya.


"Mas perhatian sekali sih, makasih ya sayang," ujar Mawar dengan mencium pipi Rahman, sehingga membuat Anya rasanya ingin mencakar wajah Mawar.


Rasanya aku ingin sekali mencakar wajah si Mawar. Sabar Anya, Mas Rahman sudah bisa mencari alasan yang tepat supaya kamu bisa duduk di sampingnya, ucap Anya dalam hati.


Setelah Mawar masuk ke dalam mobil, Rahman membukakan pintu mobil untuk Anya dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


"Sekarang kita berangkat honeymoon," ujar Rahman ketika masuk ke dalam mobil.


"Babymoon Mas, Mawar kan sedang hamil," ujar Mawar yang meralat perkataan Rahman, dan Anya terlihat cemberut.


Ketika Rahman hendak melajukan mobilnya, tiba-tiba Nisa menghadang mobil Anya, kemudian menggedor kaca mobil di sebelah Anya.


"Keluar kamu pelakor, aku harus membasmi pelakor di Dunia ini," teriak Nisa sehingga membuat Anya merasa ketakutan.


"Anya, kenapa Nisa menyebut kamu Pelakor?" tanya Mawar yang merasa heran.


"Mungkin Nisa mengira Anya adalah Neneng," ujar Rahman mencari alasan.


"Rahman, cepat kalian pergi," teriak Bu Ida, dan Rahman bergegas melajukan mobilnya.


"Mawar, kasihan sekali kamu, karena nasib kamu lebih menyedihkan dibandingkan dengan aku," teriak Nisa dengan tertawa.


"Apa sih maksud Nisa?" gumam Mawar.


"Tidak perlu dipikirkan, Nisa kan sedang sakit," ujar Rahman yang sebenarnya merasa tekut jika perselingkuhannya dengan Anya sampai terbongkar.


Dua jam kemudian, Rahman, Anya dan Mawar sampai di Bandara, dan Rahman menggandeng Mawar yang saat ini berada di sampingnya, tapi sebelah tangan Rahman menggenggam erat tangan Anya.


Tadinya Anya hendak memboking Hotel untuk menginap selama mereka liburan di Bali, tapi Papa Dirga menyuruh Anya supaya menginap di Vila milik keluarga Dirgantara saja, sekalian Anya mengecek kondisi Vila tersebut, karena sudah lama Papa Dirga tidak pergi ke Bali.


Beberapa jam kemudian akhirnya mereka bertiga tiba di Bali.


Anya, Rahman dan Mawar saat ini telah sampai di Vila yang terlihat mewah, dan mata Mawar terlihat berbinar ketika melihat keindahan Pantai yang berada di dekat Vila.


"Selamat datang di Vila milik keluarga Dirgantara. Maaf ya kalau kita harus menginap di sini, tadinya aku mau boking hotel, tapi Papa nyuruh aku ngecek kondisi Vila."

__ADS_1


"Vila nya mewah sekali Anya, pemandangan Vila juga langsung menghadap ke Pantai. Terimakasih banyak ya kamu telah mengajak kami datang ke sini. Aku sudah tidak sabar untuk Babymoon," ujar Mawar, sehingga membuat Anya merasa kesal.


Kamu lihat saja, malam ini aku dan Mas Rahman akan menghabiskan malam bersama, karena ini adalah acara honeymoon kami, batin Anya.


Penjaga Vila menyambut Anya dan yang lainnya, karena sebelumnya Papa Dirga sudah mengatakan tentang kedatangan Anya kepada penjaga Vila.


"Selamat datang di Bali, Nona dan Tuan, dan saya yang akan melayani Nona dan Tuan selama liburan di Bali."


"Terimakasih banyak Pak, kalau begitu kami masuk duluan, Bapak sudah membereskan kamar untuk kami kan?"


"Sudah Nona, saya sudah menyiapkan kamar di lantai bawah dan di lantai atas."


"Mawar, kamu tidur di bawah ya, supaya kamu tidak cape naik turun tangga, dan aku akan tidur di lantai atas," supaya kamu tidak mengganggu bulan maduku dan Mas Rahman, lanjut Anya dalam hati.


Mawar dan Rahman masuk ke dalam kamar di lantai bawah, setelah itu Rahman kembali ke luar dengan alasan haus, padahal Rahman menemui Anya di lantai atas, karena saat ini Anya pasti merasa kesal kepadanya.


Rahman melingkarkan tanggannya pada pinggang Anya yang saat ini tengah berada di balkon.


"Mas Rahman," ucap Anya dengan bahagia, kemudian membalikan badannya dan memeluk Rahman.


"Mas aku tidak rela kalau Mas lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mawar," rengek Anya.


"Tenang saja sayang, nanti malam setelah Mawar tidur, Mas pasti akan langsung pindah ke sini."


"Tapi Anya sudah kangen banget sama Mas," ujar Anya dengan bergelayut manja kepada Rahman.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita mulai honeymoon nya," ujar Rahman, kemudian mengangkat tubuh Anya dan membawanya ke atas kasur.


Rahman menyusuri jengkal demi jengkal tubuh Anya, tapi pada saat Rahman dan Anya sudah sama-sama polos, terdengar suara ketukan yang mengganggu honeymoon mereka.


Tok..tok..tok.


"Siapa sih ganggu saja," gerutu Rahman.


"Palingan juga si Mawar mau nanyain Mas, karena dia pasti sudah tidak kuat untuk Babymoon. Sebaiknya kita tidak usah pedulikan dia, nanti juga dia pasti kembali ke bawah karena mengira kalau aku lagi tidur," ujar Anya yang mencoba memancing kembali gairah Rahman yang sempat terganggu.


Enak saja si Mawar mau bermesraan duluan sama Mas Rahman, dia saat ini pasti bingung sedang mencari keberadaan Mas Rahman. Terus saja kamu tunggu Mas Rahman sampai lumutan, karena aku tidak akan melepaskan Mas Rahman sampai aku puas bermain dengannya, batin Anya dengan tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2