
Rahman yang dari tadi hanya menjadi pendengar percakapan Anya dan Mawar sebenarnya merasa tidak setuju dengan usul Mawar yang akan membantu Anya memisahkan Abi dan istrinya, tapi Rahman masih mencoba menahan pendapatnya sampai nanti Rahman dan Mawar pulang ke rumah mereka.
Setelah Anya puas berbincang dengan Mawar, Anya memutuskan untuk kembali pulang menuju kediaman Abi.
"Mawar, sebaiknya aku pulang sekarang ya, Kak Abi pasti mengkhawatirkanku. Sampai ketemu besok di pabrik," ujar Anya dengan melakukan cipika cipiki kepada Mawar.
"Hati-hati ya Anya, nanti aku pasti akan membantu kamu memisahkan Kak Abi dari istrinya," ujar Mawar yang masih belum mengetahui jika Laras adalah Istri dari Abimana, karena Mawar pikir istri Abi tidak mungkin bekerja, apalagi menjadi Karyawan Pabrik. Anya juga masih merahasiakan identitas Abi yang saat ini sedang menyamar menjadi seorang teknisi, karena Anya takut kalau Abi memarahinya jika Anya membocorkan rahasia tersebut.
Anya sudah membayangkan jika saat dia pulang ke rumah, Abi sedang menunggunya di depan rumah karena merasa khawatir terhadap Anya yang masih belum pulang juga.
"Sekarang Kak Abi pasti sedang menungguku di depan rumah, dan Kak Abi pasti sangat khawatir karena aku belum pulang juga," gumam Anya dengan terus mengembangkan senyuman.
Saat Anya tiba di halaman rumah, kondisi rumah terlihat sepi, yang terdengar hanyalah suara jangkrik.
"Lho, Kak Abi mana? kenapa dia tidak menunggu kepulanganku?" gumam Anya, kemudian mengetuk pintu rumah.
Bi Surti yang mendengar suara ketukan pintu, dengan malas membukakan pintu untuk Anya.
"Ternyata masih ingat pulang juga ya? kirain gak bakalan pulang ke sini lagi. Ganggu orang lagi tidur aja," sindir Bi Surti.
"Jadi Asisten rumah tangga aja belagu banget sih."
"Biarin, yang gaji saya juga bukan situ, tapi Mas Abi," jawab Bi Surti dengan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Kenapa bukan Kak Abi sih yang bukain pintu?" teriak Anya dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Gak usah ribut, ini sudah malam, cepetan tidur, belum tidur aja udah mimpi," sindir Bi Surti kemudian menutup pintu kamarnya.
Blam
Bi Surti menutup pintu kamarnya dengan keras, sehingga Anya merasa terkejut dengan memegangi dadanya.
"Dasar Pembantu belagu," teriak Anya yang merasa kesal, dan akhirnya Anya masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan dongkol.
__ADS_1
......................
Setelah sampai rumah, Rahman mencoba untuk menyampaikan pendapatnya kepada Mawar tentang dirinya yang tidak setuju jika Mawar membantu Anya memisahkan Abi dan Istrinya.
"Mawar, aku tidak setuju jika kamu sampai ikut campur urusan Anya. Aku takut kita terkena karma karena selalu menyakiti orang lain. Kamu lihat sekarang nasib Adikku, Nisa masih belum sembuh juga dari gangguan mentalnya, dan aku tidak mau kalau kita juga sampai mengalami nasib yang sama jika terus-terusan berbuat dosa.
"Kamu tidak usah sok suci Mas, aku juga bantu Anya karena Anya sudah berjanji akan memberikan apa yang aku mau, kita bisa minta uang yang banyak kan tanpa capek-capek kerja, lumayan juga buat menambah biaya persalinanku. Lagian aku udah cape tinggal di gubuk derita seperti ini. Siapa tau nanti kalau Anya sudah berhasil menikah dengan Kakak angkatnya, kita bisa naik jabatan menjadi Manager."
"Mawar, aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, kenapa kamu belum juga berubah. Apa kamu tidak capek terus berbuat jahat terhadap oranglain?"
"Mas, seharusnya kamu mendukung aku, bukan malah ngajak ribut. Aku jadi curiga, jangan-jangan kamu masih memiliki perasaan terhadap si Laras, jadi kamu sengaja memancing keributan supaya kita bisa bercerai?"
"Mawar, kenapa kamu selalu berpikiran jelek terhadapku, aku hanya mengingatkan kamu, karena aku adalah Suami kamu."
"Kalau Mas benar-benar Suamiku, seharusnya Mas dukung aku."
"Apa aku harus mendukung kamu meski pun kamu melakukan kesalahan?"
"Tapi tidak dengan berbuat jahat Mawar, karena aku sudah cape menjadi orang yang jahat, aku bahkan sudah tidak bertanggung jawab dengan darah dagingku sendiri, itu semua karena kamu selalu melarangku."
"Jadi sekarang kamu menyesal menikahiku? jangan harap kamu bisa bercerai denganku Mas, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu," ujar Mawar, kemudian masuk ke dalam kamar.
......................
Keesokan paginya, Laras dan Abi sedang bersiap untuk berangkat liburan ke Puncak, meski pun tadinya Abi ingin pergi liburan ke Bali, tapi Abi dan Laras kasihan jika Daffa sampai kecapean saat di perjalanan.
"Sayang, udah siap belum?" tanya Abi kepada Laras yang masih mengganti pakaiannya di dalam kamar.
"Udah Mas, tunggu sebentar lagi," jawab Laras, dan beberapa saat kemudian, Laras ke luar dari dalam kamarnya.
"Istri Mas semakin hari semakin cantik saja ya," puji Abi.
"Gak usah gombal Mas, sekarang masih pagi. Sini Daffa nya sama Ibu dulu."
__ADS_1
"Gak apa-apa biar Mas yang gendong Daffa, biar Mas makannya bisa disuapi sama Istri Mas yang cantik ini."
Laras dan Abi melangkahkan kaki menuju meja makan, dan beberapa saat kemudian, Anya ke luar dari dalam kamarnya masih dengan muka bantalnya, karena Anya terbiasa bangun siang.
"Anya, jangan mentang-mentang kamu kerja di Perusahaan Kakak, kamu bisa seenak jidat masuk kerja sesuka hati kamu," ujar Abi yang melihat Anya belum mandi, bahkan Anya masih belum cuci muka.
"Nanti Anya kan jadi Managernya, jadi Anya bisa masuk kerja jam berapa aja terserah Anya."
"Kamu jangan mimpi Anya, karena kamu hanyalah Karyawati biasa, dan Kakak sudah menempatkanmu di bagian administrasi."
"Apa? tidak bisa begitu dong Kak."
"Kenapa tidak bisa seperti itu? kamu belum memiliki pengalaman kerja, jadi sudah seharusnya Kakak bersikap bijaksana dalam memberikan posisi pekerjaan untuk kamu. Kakak tidak mau kalau sampai Perusahaan peninggalan orangtua Kakak sampai hancur di tangan kamu Anya."
"Meski pun Anya belum pernah memiliki pengalaman kerja, tapi Kakak bisa membantu Anya kan?"
"Bukannya kamu bekerja supaya bisa membantuku? kalau aku yang harus membantumu, percuma aku mempekerjakan kamu, lebih baik kamu tidak perlu bekerja saja dari pada hanya merepotkanku. Sayang, sebaiknya kita berangkat sekarang, aku sudah tidak berselera makan, lama-lama kepalaku pusing juga menghadapi Anya," ujar Abi.
"Kakak memangnya mau kemana?"
"Terserah aku mau mengajak Anak dan Istriku pergi kemana, itu bukan urusan kamu, dan jangan pernah berharap aku akan mengajakmu, karena aku tidak akan membiarkan kamu ikut kami pergi berbulan madu," ujar Abi, sehingga Anya diam tidak berkutik, meski pun saat ini Anya ingin sekali melayangkan protes, tapi Abi pasti akan menentang keinginannya.
Bi Surti dan Mang Diman sudah terlihat membawa koper Abi dan Laras ke depan rumah.
"Bi, kami pergi dulu ya, kalau Anya macam-macam, Bibi beri saja dia pelajaran. Kalau dia tidak mau makan masakan Bibi, biarkan saja dia masak atau cari makan sendiri," ujar Abi, dan semua itu semakin membuat Anya merasa geram.
Setelah Abi dan Laras mencium punggung tangan Bi Surti dan Mang Diman, mereka mengucap salam, kemudian berangkat menuju Vila Abi yang berada di kawasan Puncak.
"Aaaaaaaah sial, Kak Abi jadi semakin menjauh setelah menikah dengan perempuan kampung itu," teriak Anya.
"Gak usah teriak-teriak, di sini rumah bukan hutan. Sebaiknya sekarang kamu segera berangkat kerja, sebelum Manager datang ke sini untuk menyeret Non Anya yang terhormat ini," ujar Bi Surti kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.
Aku harus segera menyingkirkan semua yang menghalangi aku untuk mendapatkan Kak Abi, dan aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua itu, batin Anya.
__ADS_1