
Abi terkejut ketika mendapatkan telpon dari pihak Kepolisian sektor Kota Bogor yang mengabarkan jika Mawar telah melahirkan, dan bayi yang dilahirkannya telah meninggal dunia.
"Yah, siapa yang meninggal?" tanya Laras yang mendengar Abi mengucapkan Innalillahi.
"Bayi Mawar, Bunda. Barusan pihak Kepolisian sudah mencoba menghubungi Rahman untuk mengabarkan berita duka tersebut, tapi nomor Rahman tidak dapat dihubungi, jadi Ayah memberitahu kalau Rahman mengalami kecelakaan."
"Kasihan bayi Mawar, pasti tidak ada yang mengurus jenazahnya, karena sekarang Ibu tengah mengurus Mas Rahman di Rumah Sakit, sedangkan Bapak dan Nisa dalam keadaan sakit juga," ujar Laras dengan menitikkan air mata, karena meski pun Mawar sudah jahat kepada Laras dan keluarga, hati kecil Laras tetap menyayangi Mawar sebagai Adiknya.
"Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya, nanti Ayah akan meminta tolong Bi Surti dan Mang Diman untuk mengurus jenazah serta pemakaman bayi Mawar."
"Makasih banyak Yah, Bunda sangat bersyukur dan sangat bahagia memiliki Suami yang begitu baik dan pengertian seperti Ayah," ucap Laras dengan memeluk tubuh Abi.
"Seharusnya Ayah yang mengatakan semua itu, karena Bunda, Daffa, dan juga Mama Lasmi adalah sumber kebahagiaan Ayah. Apalagi sebentar lagi si kembar bakalan lahir ke dunia ini, Ayah sudah tidak sabar ingin bermain dengan kalian," ujar Abi dengan mengusap lembut perut Laras yang sudah membesar, kemudian menciumnya.
Setelah Abi menelpon Mang Diman untuk meminta mengurus jenazah bayi Mawar, Mang Diman dan Bi Surti pun berangkat menuju Rumah Sakit, kemudian mereka membawa jenazah bayi Mawar ke rumah Pak Syarif terlebih dahulu.
Mang Diman dan Bi Surti mengucapkan Salam ketika tiba di depan pintu rumah orangtua Rahman.
"Maaf, Bapak dan Ibu siapa ya?" tanya Pak Syarif yang sebelumnya belum pernah bertemu dengan Bi Surti dan Mang Diman.
"Nama saya Diman, dan ini Istri saya Surti. Kami disuruh Mas Abi Suaminya Neng Laras untuk mengantarkan jenazah bayi Mawar dan Rahman, karena mereka kasihan jika sampai tidak ada yang mengurus jenazahnya," jawab Mang Diman.
Pak Syarif menangis ketika melihat jenazah bayi yang tidak berdosa tersebut, dan Pak Syarif sangat berterimakasih kepada Abi dan Laras yang masih saja peduli dengan keluarganya.
"Pak, Bu, tolong sampaikan terimakasih saya yang sebesar-besarnya kepada Nak Laras dan Nak Abi ya. Saya tidak tau akan seperti apa jadinya jika tanpa bantuan dari mereka yang masih berbaik hati menolong kami, padahal keluarga saya sudah sangat banyak melakukan dosa kepada Laras dan Daffa," ucap Pak Syarif.
"Insyallah kami akan menyampaikan pesan Bapak. Mas Abi dan Neng Laras adalah orang yang baik, dan mereka tidak pernah menyimpan kebencian dan dendam terhadap siapa pun," ujar Bi Surti.
__ADS_1
Nisa yang melihat jenazah bayi Mawar dan Rahman, tiba-tiba ikut menangis kemudian memeluknya.
"Kasihan nasib kamu Nak, karena kamu harus bernasib sama seperti bayi Tante," ujar Nisa dengan memeluk tubuh bayi Rahman dan Mawar.
"Nisa, ikhlaskan semuanya ya, sekarang Herman dan Neneng juga sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Jadi, Bapak harap, Nisa jangan terus menyimpan kebencian kepada mereka," ujar Pak Syarif yang baru mendapatkan kabar bahwa Neneng dan Herman mengalami tabrakan, dan mereka meninggal di tempat kejadian perkara.
"Iya Pak, Nisa akan mencoba untuk ikhlas menerima takdir Nisa," ujar Nisa dengan memeluk tubuh Pak Syarif, dan Pak Syarif sangat bersyukur karena kondisi kejiwaan Nisa sudah mulai membaik.
"Pak, apa tidak sebaiknya kita menguburkan Jenazah bayi Mawar dan Rahman sekarang? kasihan kalau tidak segera dikuburkan," tanya Mang Diman.
"Iya Pak, lebih cepat lebih baik, tapi saya ingin mencoba menggendong Cucu saya untuk yang pertama dan terakhir kalinya," ujar Pak Syarif yang mencoba berdiri dari kursi roda dengan dibantu oleh Nisa.
Pak Syarif terkejut karena tubuhnya tiba-tiba bisa digerakkan.
"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Engkau telah memberikan kesembuhan kepada kami," ucap Pak Syarif dengan menangis, kemudian Pak Syarif melakukan sujud syukur.
"Iya Nak, karena segala penyakit itu datangnya dari hati. Jika hati kita bersih, insyaallah pasti segala penyakit akan sembuh. Bapak juga sebelumnya sering mengeluh dan belum ikhlas menerima penyakit yang diberikan kepada Bapak, tapi ternyata setelah Bapak ikhlas menerimanya, Allah SWT mencabut penyakit yang diberikan kepada Bapak. ternyata ikhlas adalah obat dari segala penyakit."
Pak Syarif mencoba menggendong jenazah bayi Mawar yang diberi nama Rizki menuju mobil Ambulance, setelah itu, Pak Syarif, Nisa, Mang Diman, Bi Surti dan juga beberapa tetangga Pak Syarif, mengantar jenazah Rizki menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
......................
Rahman yang belum ikhlas dengan takdirnya, terus saja mengamuk dengan memukuli kakinya.
"Istighfar Nak, ikhlaskan semuanya," ujar Bu Ida dengan menangis memeluk tubuh Rahman.
"Sekarang Rahman sudah cacat Bu, Rahman sudah menjadi manusia tidak berguna," teriak Mawar.
__ADS_1
Bu Ida menekan tombol untuk memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Rahman.
"Pak Rahman, kami turut berduka atas cobaan yang diberikan kepada Pak Rahman. Semoga Bapak diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menerima semuanya," ucap Dokter dengan memeriksa kondisi tubuh Rahman.
Rahman tiba-tiba merasakan gatal yang begitu hebat pada se*langkangannya, dan Rahman terus mencoba menggaruknya.
"Dok, kenapa tiba-tiba saya merasa gatal seperti ini?" tanya Rahman.
"Pak, sebaiknya jangan terus digaruk, karena jika terus digaruk, itu akan memperparah penyakit yang Bapak derita."
"A_apa maksud Dokter?" tanya Rahman.
"Bapak terkena penyakit HIV aids," jawab Dokter, dan Rahman yang mendengarnya bagaikan tersambar petir di siang bolong.
"Bu, katakan kalau semua perkataan Dokter tidak benar? sekarang Rahman sudah cacat? kenapa Rahman juga harus menanggung penyakit yang sangat berat?" ujar Rahman dengan terus mengacak rambutnya secara kasar.
"Ikhlas Nak, Rahman harus ikhlas menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah SWT, mungkin ini adalah teguran untuk kita yang sudah banyak melakukan dosa," ujar Bu Ida.
Rahman terus terbayang dengan kesalahannya di masalalu terhadap Laras dan Daffa, Rahman juga kembali teringat kekejamannya terhadap Mawar yang sudah dia usir dalam keadaan mengandung.
"Ibu benar, ini adalah karma untuk Rahman, Tuhan menghukum Rahman karena sudah melakukan banyak dosa, dan sebentar lagi Rahman pasti akan mati karena akan terus digerogoti penyakit," ujar Rahman dengan menangis.
"Jangan seperti itu Nak, setiap penyakit pasti akan ada obatnya, dan kita harus berterimakasih kepada Laras dan Abi yang sudah berkenan membantu biaya pengobatan Rahman."
"A_apa? bagaimana mungkin orang yang telah Rahman sakiti masih mau membantu Rahman?"
"Iya Nak, mereka memiliki hati yang begitu mulia, dan Ibu merasa malu karena dulu sudah menyakiti Laras," ujar Bu Ida, kemudian menceritakan semuanya kepada Rahman, Bu Ida juga menceritakan tentang rumah Rahman yang akan dijual untuk biaya pengobatan penyakit Rahman.
__ADS_1
Padahal aku sudah menyakiti Laras dan menelantarkan Daffa, tapi mereka masih mau menolongku. Mungkin hukuman ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan dosa yang telah aku lakukan di masalalu, batin Rahman.