Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 55 ( Terkena gangguan mental )


__ADS_3

Tidak memerlukan waktu lama untuk Papa Dirga sampai di Bali, karena Papa Dirga menggunakan helikopter supaya bisa langsung mendarat di Rumah Sakit.


"Rahman, bagaimana keadaan Anya?" tanya Papa Dirga saat masuk ke dalam kamar perawatan Rahman dan Anya.


"Anya masih belum sadarkan diri Pa," jawab Rahman dengan tertunduk sedih.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu sampai tidak bisa melindungi Putri kesayanganku?" teriak Papa Dirga dengan menarik kerah baju Rahman.


Anya yang mendengar teriakan Papa Dirga, secara perlahan mulai membuka matanya.


"Pa, jangan sakiti Mas Rahman, Mas Rahman tidak bersalah," ucap Anya dengan lirih, terlebih lagi kondisi Anya masih sangat lemah.


"Anya sayang, apa masih ada yang sakit? Anya jangan khawatir, Papa akan segera mencari penjahat yang sudah merampok kalian," ujar Papa Dirga dengan memeluk tubuh Anya.


Anya yang kembali teringat dengan kejadian tragis yang menimpanya, langsung berteriak histeris, kemudian mendorong tubuh Papa Dirga hingga terjatuh di atas lantai.


"Jangan sentuh aku, kalian jahat, jangan sentuh aku. Mas Rahman, tolong Mas, Anya takut," teriak Anya dengan menutup kedua telinganya.


Rahman bergegas turun dari ranjang pesakitannya, kemudian Rahman memeluk tubuh Anya supaya merasa lebih tenang.


"Sayang, Mas ada di sini, maafin Mas karena tidak bisa melindungi kamu."


"Mas, aku sudah kotor, aku sudah tidak pantas untuk Mas Rahman," gumam Anya, dan Anya terus saja bergumam karena kejadian semalam membuat Anya begitu terpukul sehingga menyebabkan gangguan mental.


Beberapa saat kemudian, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Anya, tapi Anya kembali berteriak histeris, dan saat ini hanya Rahman yang bisa menenangkan Anya.


"Dok, bagaimana keadaan Putri saya? kenapa dia bisa menjadi seperti itu?"


"Maaf Tuan, sepertinya kejadian yang menimpa Putri Anda menyebabkan dia terkena gangguan mental."


"Kenapa Anya harus mengalami nasib buruk? kasihan sekali kamu Nak. Dok, tolong sembuhkan Anak saya. Lakukan yang terbaik untuk penyembuhannya, dan berapa pun biayanya, pasti akan saya bayar."


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Pasien, tapi saat ini Pasien hanya tidak takut kepada Suaminya, jadi sebaiknya Pasien harus selalu ditemani oleh Suaminya. Kalau begitu kamu permisi dulu, kalau ada apa-apa, Anda bisa memanggil kami," ujar Dokter, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari kamar perawatan Anya dan Rahman.


Rahman akhirnya memberanikan diri untuk meminta tolong kepada Papa Dirga.

__ADS_1


"Pa, apa Rahman bisa minta tolong?"


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Papa Dirga yang sebenarnya masih merasa kesal terhadap Rahman yang tidak bisa melindungi Putri kesayangannya.


"Saat ini Mawar masih berada di Vila milik Papa, dan dia pasti khawatir karena kami tidak ada di Vila. Apa Papa bisa mengantar Mawar pulang ke Bogor? dan berikan alasan yang tepat kepada Mawar tentang keberadaan kami, karena sampai saat ini Mawar masih belum mengetahui tentang pernikahan Rahman dan Anya, dan Rahman tidak mau kalau kejadian yang menimpa Anya sampai diketahui oleh siapa pun."


Papa Dirga nampak berpikir, karena Papa Dirga juga tidak ingin kejadian yang menimpa Anya sampai diketahui oleh orang lain, sampai akhirnya Papa Dirga menyetujui permintaan Rahman.


"Baiklah, Papa akan mengabulkan keinginanmu, tapi Papa harap kamu bisa menjaga Anya dengan baik, karena saat ini hanya kamu orang satu-satunya yang membuat Anya merasa aman," ujar Papa Dirga.


"Rahman pasti akan menjaga Anya meski pun nyawa Rahman taruhannya."


"Anya sayang, Papa pergi dulu ya. Rahman, kalau ada apa-apa kamu hubungi Papa, dan ini handphone buat kamu, kamu juga simpan kartu ini untuk keperluan kamu dan Anya."


"Terimakasih banyak Pa," ucap Rahman, dan Papa Dirga hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian melangkahkan kaki untuk ke luar dari kamar perawatan Anya dan Rahman.


......................


Papa Dirga memutuskan untuk menemui Mawar yang saat ini masih berada di Vila miliknya, dan Mawar yang melihat Papa Dirga datang, langsung berhambur memeluk tubuh Papa Dirga.


"Mawar, jangan seperti ini, kita bukan Muhrim," ujar Papa Dirga dengan mencoba melepaskan diri dari Mawar.


"Om tidak usah sok suci, kenapa baru sekarang Om berkata seperti itu? apa semua itu karena Laras? Om pasti tau kan kalau Laras sudah menjadi Menantu Om?" ujar Mawar dengan tersenyum sinis.


Laras memang sudah menjadi Menantuku, bahkan kemungkinan besar Laras adalah Anak kandungku, batin Papa Dirga yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depan matanya.


"Kenapa Om melamun? apa Om mau bekerjasama dengan Mawar untuk memisahkan Laras dan Abi?"


"Apa maksud kamu Mawar?"


"Sekarang Om sudah tidak mau lagi kan berhubungan dengan Mawar? kalau begitu, kita bisa bekerjasama untuk memisahkan Abi dan Laras, supaya nanti Om bisa mendapatkan Laras, dan Mawar bisa mendapatkan Abi."


"Jangan gila kamu Mawar, aku tidak mungkin memisahkan Laras dan Abi, karena aku tidak ingin memisahkan Anakku yang saling mencintai."


"Abi hanya Anak angkat Om kan? kenapa Om begitu peduli dengan perasaan Abi?"

__ADS_1


"Abi memang hanya Anak angkat Om, tapi kemungkinan besar, Laras adalah Anak kandung Om yang hilang," ujar Papa Dirga, dan Mawar begitu syok mendengar perkataan Papa Dirga.


"Tidak, tidak mungkin kalau Laras adalah Anak kandung Om, karena Laras adalah Kakak kandung Mawar, jadi Om tidak perlu mencari alasan kalau Om hanya tidak ingin membantu Mawar."


"Om juga tadinya tidak percaya jika Laras adalah Anak kandung Om yang hilang, tapi saat Laras bertemu dengan Istri Om, Istri Om langsung mempunyai firasat jika Laras adalah Putri kami yang dulu hilang saat bayi."


"Lalu Om percaya begitu saja dengan perkataan istri Om?"


"Kamu tidak tau kalau wajah Laras begitu mirip dengan wajah istri Om saat muda dulu, makanya Om sampai jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Laras."


"Bukan berarti karena wajah Laras mirip dengan Istri Om, Om bisa percaya jika Laras adalah Anak kandung Om."


"Tapi bukan hanya wajahnya saja yang mirip, karena Laras memiliki tanda lahir bulan sabit pada bahunya yang sama persis dengan yang dimiliki oleh Larasati."


"Mungkin itu hanya kebetulan saja Om. Om kenapa sih percaya hanya karena tanda Lahir yang Laras miliki sama dengan Larasati?"


"Untuk itu Om dan Istri akhirnya melakukan tes DNA supaya bisa mengetahui kebenarannya, dan tiga hari lagi hasil tes DNA akan segera ke luar.


Apa mungkin Laras memang Anak kandungnya Om Dirga? dan orangtuaku memberi nama Larasati karena melihat kalung yang Laras pakai saat bayi. Dimana kalung itu sekarang? aku harus segera membuangnya sebelum Laras memperlihatkan kalung miliknya kepada Om Dirga. Tapi bagaimana jika hasil DNA menyatakan kalau Laras adalah Anak kandung dari Om Dirga? aku harus mencari cara untuk memalsukan hasil tes DNA Laras, karena aku tidak rela jika Laras hidup bahagia, dan menjadi Anak orang kaya, apalagi selama ini dia selalu saja beruntung, batin Mawar yang tengah memikirkan cara untuk berbuat jahat kepada Laras.


"Mawar, Om harap kamu tidak akan mengganggu rumah tangga Laras dan Abi, karena kalau kamu masih berusaha mengganggu mereka, kamu akan berurusan dengan Om."


"Mawar tidak bisa janji Om, karena Mawar harus mendapatkan apa yang Mawar mau dengan cara apa pun."


"Kamu sudah gila Mawar, pantas saja Rahman sampai ber_" perkataan Papa Dirga terhenti karena Mawar yang ingat dengan keberadaan Rahman dan Anya.


"Om, Mawar baru ingat kalau Anya dan Mas Rahman hilang. Apa Om tau keberadaan mereka?"


Papa Dirga terlihat memikirkan cara untuk memberikan alasan kepada Mawar supaya Mawar tidak merasa curiga dengan perselingkuhan Anya dan Rahman.


"Sebenarnya Om menyuruh Rahman dan Anya untuk menyelesaikan urusan bisnis di Singapura, dan tadi malam mereka baru saja berangkat, makanya Om datang ke sini untuk mengajak kamu pulang ke Bogor."


"Kenapa Mas Rahman tidak mengatakannya langsung kepada Mawar?"


"Semalam Rahman tidak mau mengganggu kamu yang sudah tidur. Sebaiknya sekarang juga kita pulang ke Bogor supaya tidak kemalaman di jalan."

__ADS_1


"Apa Om tidak mau menghabiskan waktu dulu dengan Mawar? Mawar kangen sama Om, sudah lama juga kita tidak berbagi keringat di atas ranjang," bisik Mawar pada telinga Papa Dirga.


__ADS_2