
Tuan Dirga merasa malu mendengar perkataan Laras, karena dirinya sadar betul jika selama ini sudah melakukan banyak sekali kesalahan.
"Apa salah jika aku memiliki perasaan cinta? bukannya cinta itu adalah sebuah Anugerah?" tanya Tuan Dirga.
"Cinta memang anugerah, tapi cinta juga akan menjadi musibah jika perasaan itu kita miliki untuk orang yang salah. Apa Tuan tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Istri dan Anak Tuan apabila mengetahui kelakuan bejat Tuan selama ini? padahal mereka begitu membangga-banggakan Tuan sebagai panutan mereka, apalagi Mas Abi pernah bilang jika Tuan adalah Suami yang selalu setia, padahal pada kenyataannya Setiap Tikungan Ada," sindir Laras, sehingga membuat Tuan Dirga semakin merasa malu.
"Laras, apa kamu akan mengatakan yang sebenarnya kepada Abi?" tanya Tuan Dirga yang sebenarnya merasa takut jika Laras membuka rahasianya selama ini.
"Saya tidak akan mengatakan apa pun kepada Mas Abi, asalkan Tuan berhenti bermain perempuan. Akan tetapi, jika Tuan masih saja melakukan semua itu, jangan salahkan saya jika saya membongkar aib Tuan. Saya merasa kasihan kepada istri Tuan, karena saya juga seorang perempuan, bahkan saya pernah merasakan bagaimana rasanya dikhianati, dan itu sangat menyakitkan. Jadi, saya tidak ingin perempuan di luar sana, merasakan apa yang dulu pernah saya rasakan," ujar Laras dengan menitikkan airmata ketika mengingat penderitaannya di masalalu.
"Laras, tapi itu akan sangat sulit untuk aku lakukan," ujar Tuan Dirga.
"Jika ada kemauan pasti akan ada jalan. Apa Anda akan menunggu waktu untuk bertaubat ketika Anda sudah akan masuk ke dalam liang lahat? selagi Anda memiliki kesempatan, sebaiknya Anda segera bertaubat sebelum semuanya terlambat, karena kita tidak pernah tau kapan ajal akan menjemput," ujar Laras, dan Tuan Dirga terlihat mencerna perkataan Laras.
Beberapa saat kemudian Abi datang membawa dua gelas jus mangga, dan satu gelas susu untuk Ibu hamil.
"Lagi ngobrolin apa sih, kok kelihatannya serius sekali?" tanya Abi dengan memeluk tubuh Laras yang saat ini berada di sampingnya.
"Kami sedang mengobrol tentang kesehatan Mama Lasmi," ujar Laras yang terpaksa membohongi Abi.
"Oh iya Pa, bagaimana kesehatan Mama?" tanya Abi.
"Depresi Mama masih sering kambuh, apalagi ketika Mama mengingat Laras, dan Mama masih sering kabur untuk mencari keberadaan Laras."
"Kasihan Mama, Mama pasti sangat merindukan Anak kandungnya."
__ADS_1
"Papa juga tidak tau harus melakukan apa lagi untuk mencari keberadaan Laras yang menghilang tanpa jejak."
"Papa yang sabar ya, kami juga pasti akan terus membantu mencari keberadaan Laras. Semoga saja Laras masih hidup, dan bisa segera kembali berkumpul dengan kita," ujar Abi yang di Amini oleh semuanya.
"Padahal dulu waktu kamu masih kecil, kamu sudah jatuh hati pada Laras yang masih bayi, dan Abi bilang, akan menjadikan Laras sebagai pengantin Abi jika sudah besar nanti. Makanya dulu Papa, Mama dan juga kedua orangtua Abi, memutuskan untuk menjodohkan Abi dan Laras jika sudah dewasa, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain," ujar Tuan Dirga yang terlihat sedih.
"Pa, meski pun Abi tidak ditakdirkan menikah dengan Laras Anak kandung Papa, tapi sekarang Abi sudah memiliki Laras yang lain, dan nanti jika Laras Anak kandung Papa ketemu, Abi akan menganggapnya sebagai Adik kandung Abi sendiri. Mungkin saja sekarang Laras sudah memiliki Suami dan Anak, usianya juga sudah 30 tahun kan?"
"Entahlah Nak, Papa rasanya sudah putus harapan."
"Di Dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, yang penting kita sudah berusaha disertai do'a. Yah, minggu depan bukannya Pabrik libur selama satu minggu ya? apa tidak sebaiknya kita mengunjungi Mama? siapa tau jika Mama bertemu dengan kita, kondisi kesehatan Mama akan membaik," ujar Laras.
"Memangnya Bunda kuat kalau kita ke Jakarta?"
"Jarak dari sini ke Jakarta kan tidak terlalu jauh Yah, paling juga sekitar dua jam perjalanan."
"Makasih banyak Suamiku sayang, Ayah memang benar-benar Suami idaman," ujar Laras dengan memeluk tubuh Abi, sehingga membuat Tuan Dirga merasakan api cemburu.
Kenapa hati ini masih terasa sakit ketika melihat Laras bersama lelaki lain? terlebih lagi lelaki itu adalah Anakku sendiri. Apa aku harus mengubur perasaan cintaku untuk Laras? karena kata-kata Laras seperti sebuah tamparan untukku, sehingga rasanya aku tidak memiliki wajah lagi di depan Laras, ucap Tuan Dirga dalam hati.
"Nak, sebaiknya Papa pulang sekarang saja, Papa tidak mau mengganggu waktu kalian."
"Kenapa Papa tidak menginap di sini saja? sudah lama kan kita tidak mengobrol?"
Tuan Dirga melirik Laras yang sepertinya tidak suka dengan keberadaannya.
__ADS_1
"Lain kali saja Nak, kasihan juga Mama kalau Papa tidak pulang."
"Papa benar Yah, seorang istri pasti akan selalu menunggu Suaminya pulang," sindir Laras kepada Tuan Dirga, sehingga membuat Tuan Dirga menjadi salah tingkah.
"Selama ini Papa adalah panutan untuk Abi karena Papa adalah Suami yang baik dan setia. Abi ingin menjadi sosok hebat seperti Papa."
Mungkin kamu tidak akan pernah berkata seperti itu jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya, karena Papa yang selalu kamu bangga-banggakan adalah seorang lelaki bejat Nak. Benar kata Laras, mungkin sekarang sudah saatnya aku bertaubat, karena yang namanya umur tidak ada yang tau. Sebaiknya sekarang aku memulainya dengan mengakui semua kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Kasihan Abi jika aku terus menyembunyikan kebusukanku dari keluargaku sendiri, batin Tuan Dirga.
"Nak, Papa harap, Abi tidak menjadi seperti Papa, karena Papa tidak sebaik yang Abi pikirkan."
"Apa maksud Papa? kenapa Papa berbicara seperti itu?" tanya Abi yang merasa heran dengan perkataan Tuan Dirga.
"Mungkin selama ini Papa adalah sosok Ayah yang baik, tapi sebenarnya Papa bukanlah Suami yang setia, karena Papa sudah banyak melakukan kesalahan di belakang Mama kamu. Tapi hari ini, ada seseorang yang sudah menyadarkan Papa," ujar Tuan Dirga dengan tertunduk malu.
Laras tidak pernah mengira jika Tuan Dirga akan berbicara jujur kepada Abi secepat ini.
"Ke_kenapa bisa seperti itu?" tanya Abi yang langsung berdiri, karena Abi merasa begitu terpukul mendengar perkataan Tuan Dirga.
"Yah, sebaiknya Ayah duduk dulu," ujar Laras dengan membantu Abi untuk Duduk.
"Bunda, tapi Papa sudah mengecewakan Abi. Bagaimana kalau sampai Mama mengetahui tentang semua ini? Mama pasti akan sangat kecewa, bahkan mungkin Mama akan bertambah depresi," ujar Abi dengan mengacak rambutnya secara kasar.
"Yah, Bunda sangat tau apa yang Ayah rasakan saat ini, tapi setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa, dan kita harus menghargai seseorang yang sudah mengakui kesalahannya, karena pasti sulit untuk mengakui sebuah kesalahan."
Abi kembali teringat dengan perkataan Laras sebelumnya, jika Laras pernah mengatakan tentang Tuan Dirga selingkuhan Mawar, sampai akhirnya Abi melontarkan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Bunda, apa Tuan Dirga yang dulu pernah Bunda ceritakan selingkuhan Mawar adalah Papa?"