Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 46 ( Apa yang kita tanam, itu juga yang akan kita tuai )


__ADS_3

Jantung Mawar rasanya berhenti berdetak ketika mengetahui semua kebenaran tentang Abi, bahkan Mawar hampir saja pingsan.


Tidak, tidak mungkin Abi Suami Laras adalah pemilik perusahaan tempat aku bekerja. Aku tidak terima jika Laras menjadi orang kaya, sedangkan sekarang aku hidup menderita. Bagaimana kalau nanti Abi berniat untuk memecatku? Mulai sekarang, aku harus bersikap baik kepada Abi, dan berusaha untuk mendekatinya, batin Mawar.


Abi memberikan sambutan untuk mengucapkan terimakasih atas kinerja semua karyawannya.


"Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras dan kerjasama dari semua karyawan dan karyawati PT. Abimana Grup, karena tanpa kerja keras dan dukungan semuanya, Abimana Grup tidak akan sukses sampai sekarang. Mohon maaf jika sebelumnya saya sudah berpura-pura menjadi teknisi, karena saya ingin menilai sendiri kinerja dari semua karyawan di sini, dan saat itu saya juga sebenarnya sedang mengejar cinta salah satu Karyawati di sini yang Alhamdulillah sekarang sudah menjadi istri saya," ujar Abi dengan tersenyum, kemudian terdengar riuh karyawan yang bersorak dan bertepuk tangan.


"Semoga Abimana grup semakin maju, dan semoga tidak ada lagi karyawan atau pun karyawati yang bersikap sombong apalagi sampai membeda-bedakan seseorang dari statusnya, karena harta dan jabatan hanyalah titipan yang tidak akan pernah kita bawa mati," ujar Abi yang sengaja menyindir Mawar.


Abi menutup sambutannya dengan ucapan Salam, dan semua Karyawan Abimana Grup kembali bertepuk tangan.


Anggi tidak percaya jika Abi adalah pemilik Pabrik tempat dirinya bekerja, sampai akhirnya Anggi memberanikan diri untuk menghampiri Abi, dan Anggi ingin mengucapkan terimakasih, karena Abi sudah mengangkat Anggi menjadi seorang Mandor menggantikan posisi Laras.


"Tuan Abi, maaf saya sudah mengganggu waktunya," ucap Anggi yang merasa malu, apalagi sebelumnya Anggi sudah bersikap tidak baik dengan memfitnah Abi dan Laras.


"Kamu tidak perlu sungkan kepadaku Anggi, apalagi kamu sudah Laras anggap sebagai saudaranya sendiri."


"Tuan, saya mau mengucapkan terimakasih banyak kepada Tuan dan Nyonya Laras, karena kalian sudah mengangkat saya menjadi salah satu Mandor di sini," ucap Anggi.


"Anggi, aku harap kamu bersikap seperti biasa saja terhadap kami, tidak perlu mengganti panggilan seperti itu. Aku mengangkat kamu menjadi Mandor, tidak ada sangkut pautnya dengan Laras, bahkan Laras masih belum tau kalau kamu yang menggantikannya, karena saat ini istriku tengah hamil muda, dan kemarin Laras sempat mual muntah yang berlebihan, jadi aku belum sempat menceritakan semuanya," ujar Abi dengan tersenyum bahagia ketika mengingat jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Ayah.


Anggi yang mendengar kabar Laras hamil lagi, merasa sangat bahagia juga.


"Alhamdulillah, saya turut bahagia. Selamat ya, semoga Ibu dan bayinya selalu diberikan kesehatan," ucap Anggi yang di Amini oleh Abi.


"Makasih banyak atas do'anya Anggi. Terimakasih juga atas kerja keras kamu selama ini, dan aku mengangkatmu sebagai mandor, karena kinerjamu yang bagus. Jadi, tetap pertahankan ya," ucap Abi.


"Siap Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Anggi, kemudian kembali menuju line nya.

__ADS_1


Mawar yang sudah memiliki rencana untuk mendekati Abi, langsung saja menghampirinya.


"Tuan Abi, saya mau minta maaf karena tadi saya sudah bersikap kurang ajar," ucap Mawar.


"Apa aku tidak salah dengar seorang Mawar bersedia untuk meminta maaf?" Sindir Abi.


"Tuan, saya tidak tau kalau Tuan adalah pemilik perusahaan, dan tadi saya telah melakukan kesalahan karena sudah berbuat kurang aja kepada Tuan."


"Jadi kalau aku bukan pemilik perusahaan, kamu bisa seenaknya menghina oranglain? aku harap, mulai sekarang kamu akan bersikap baik terhadap siapa pun itu tanpa melihat status."


"Iya Tuan, saya pasti akan melakukan semua yang diperintahkan oleh Tuan."


"Apa yang kamu tanam, itu juga yang akan kamu tuai, dan aku mengatakan semua itu bukan untukku, tapi untuk diri kamu sendiri. Jadi, berubahlah untuk diri kamu sendiri, bukan untuk orang lain."


Mawar diam ketika medengar perkataan Abi, meski pun dalam hatinya Mawar ingin sekali melawan perkataan Abi.


"Dan satu lagi yang harus kamu tau, kalau aku bukan orang yang bisa kamu jilat, jadi jangan berpura-pura bersikap baik kepadaku. Kamu meminta maaf karena takut aku pecat kan? Kamu tenang saja, aku akan tetap bersikap profesional selama kinerja kamu bagus dan kamu harus bersikap profesional juga," ujar Abi, kemudian berlalu meninggalkan Mawar yang terlihat kesal.


Sekarang Om Dirga menghilang begitu saja, dan Mas Rahman sepertinya sudah tidak peduli lagi terhadapku. Untuk saat ini, satu-satunya cara adalah aku harus merebut Abi dari Laras. Lihat saja Abi, aku akan pastikan kamu bertekuk lutut di hadapanku, karena siapa pun tidak ada yang bisa menolak pesona Mawar, batin Mawar dengan tersenyum licik.


Setelah Abi selesai mengecek kondisi pabrik, Abi memutuskan untuk langsung pulang, karena Abi sudah merindukan Laras dan Daffa.


"Ayah kok udah pulang lagi?" Tanya Laras yang saat ini sedang membereskan rumah.


"Memangnya Bunda tidak kangen sama Ayah? Padahal Ayah pulang karena kangen sama Bunda, Daffa, dan si kembar," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras, kemudian mencium perutnya yang sudah mulai membesar.


"Bukannya seperti itu Yah, Bunda juga kangen, malah kangennya pake banget. Memangnya Ayah udah selesai mengecek semuanya?"


"Sudah sayang, Bunda tidak perlu khawatir, karena semuanya sudah beres."

__ADS_1


"Yah, bagaimana reaksi Karyawan ketika mengetahui kalau Ayah adalah pemilik Abimana Grup."


"Pastinya mereka terkejut, bahkan Mawar langsung meminta maaf, karena tadi pagi sudah bersikap tidak sopan," ujar Abi, dan Laras terlihat khawatir ketika Abi mengatakan tentang Mawar, karena Laras sudah tau sifat licik Mawar yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang dia mau.


"Bunda percaya kan sama Ayah?"


"Tentu saja Bunda percaya, tapi masalahnya Bunda tidak percaya dengan Mawar, karena Mawar pasti akan berusaha untuk mendekati Ayah, apalagi Papa Dirga sudah tidak dapat Mawar hubungi," ujar Laras, karena Tuan Dirga memblokir nomor Mawar di hadapan Laras dan Abi.


"Sayang, perselingkuhan itu terjadi apabila keduanya saling menginginkan, sedangkan Ayah, sedikit pun Ayah tidak tertarik kepada Mawar, untuk apa Ayah mencari batu kerikil jika sudah memiliki berlian. Jadi, tidak ada yang perlu Bunda khawatirkan, lagian Mawar juga sudah memiliki Rahman. Sekarang sebaiknya Bunda istirahat dulu, jangan sampai si kembar merasa kecapean karena Bunda nya terus beres-beres," ujar Abi dengan membawa Laras untuk duduk.


......................


Saat ini bel istirahat telah berbunyi, dan Anya menyuruh Rahman untuk menelpon Mawar dan mengajaknya makan siang.


"Mas, sebaiknya Mas telpon Mawar, dan ajak dia makan siang."


"Kenapa kita harus ngajak Mawar sih?"


"Karena Mas Rahman harus meminta maaf kepada Mawar. Bukannya kemarin Mas sudah membentak Mawar? Bahkan tadi pagi Mas sudah meninggalkan Mawar dan menyuruhnya untuk berangkat sendiri."


"Sayang, Mas tidak mau meminta maaf sama Mawar."


"Bukannya Mas sendiri yang meminta supaya hubungan kita dirahasiakan dari Mawar? Bagaimana kalau nanti Mawar membatalkan liburannya ke Bali? Kita gak jadi honeymoon dong?"


Rahman terlihat berpikir, sampai akhirnya Rahman terpaksa menelpon Mawar.


Mawar yang mendapatkan telpon dari Rahman langsung tersenyum bahagia, kemudian Mawar bergegas ke luar menuju rumah makan padang yang berada di sebrang Pabrik.


"Mas Rahman pasti menyesal karena telah membentakku, dan sekarang Mas Rahman pasti akan meminta maaf, makanya Mas Rahman sampai mengajakku makan siang," gumam Mawar dengan terus mengembangkan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2