Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 12 ( Takdir cintaku )


__ADS_3

Beberapa saat kemudian datang Ibu pemilik kontrakan, karena sebelumnya Laras memberitahukan perihal Abi yang akan mengontrak rumah di sebelahnya.


"Nak Laras, memangnya siapa yang ingin mengontrak?" tanya Bu Aminah, karena Bu Aminah mengira jika Abi adalah Suaminya Laras.


"Ini Mas Abi Bu, teman saya."


"Saya kira Mas ini Suaminya Nak Laras, soalnya mirip sekali sama Daffa," ujar Bu Aminah.


"Mas Abi, teman saya Bu," ujar Laras dengan tersenyum.


Bu Aminah membuka pintu kontrakan, tapi rumah kontrakannya terlihat kotor.


"Nak Abi, maaf ya kontrakannya belum sempat saya bersihkan," ujar Bu Aminah.


"Tidak apa-apa Bu, nanti saya bersihkan sendiri. Laras bilang harga kontrakannya satu juta ya Bu?" tanya Abi.


"Iya Nak, kalau Nak Abi belum gajihan, bisa bayarnya nanti setelah gajihan saja. Saya percaya karena Nak Abi adalah teman Nak Laras."


"Insyaallah kalau uang satu juta saya ada Bu. Ini untuk satu bulan ke depan," ujar Abi dengan memberikan uang satu juta rupiah kepada Bu Aminah.


"Terimakasih ya Nak, semoga Nak Abi betah tinggal di sini," ujar Bu Aminah kemudian berpamitan kepada Laras dan Abi.


Abi tadinya ingin membayar untuk satu tahun, tapi Abi tidak ingin Laras merasa curiga terhadapnya.


"Mas Abi titip Daffa ya, biar Laras yang membersihkan rumahnya."


"Laras biar aku saja, aku tidak enak sudah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa Mas, biar Laras saja, kalau cuma bersihin rumah gak ngerepotin kok."


Abi mengajak main Daffa dengan terus melihat ke arah Laras yang saat ini sedang membersihkan rumah, dan Abi senyum-senyum sendiri, karena membayangkan jika Laras adalah Istrinya dan Daffa adalah Anaknya.

__ADS_1


Baru kali ini hatiku merasa sangat bahagia, sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta kepada Laras, dan entah kenapa aku merasa sudah sangat dekat dengan Daffa, dan aku langsung menyayangi Daffa, padahal kita baru pertama kali bertemu, ucap Abi dalam hati.


Setelah selesai membersihkan rumah kontrakan Abi, Laras mengambil makanan dan minuman ke rumah kontrakannya untuk Abi.


"Mas Abi sebaiknya makan dulu, Mas pasti lapar kan," ujar Laras dengan memberikan sepiring nasi dan juga sepiring lauk yang berisi pepes ayam, lalapan dan juga sambal, Laras juga membuat es jeruk untuk dirinya dan Abi.


"Laras, terimakasih ya, seharusnya aku yang mentraktir kamu makan, ini malah kebalik," ujar Abi dengan tersenyum.


"Gak apa-apa Mas, nanti Mas Abi bisa mentraktir Laras kalau sudah gajihan, Kasihan uang Mas Abi barusan sudah dipakai untuk membayar kontrakan," ujar Laras yang mengira jika uang Abi habis dipakai untuk membayar kontrakan, padahal uang satu juta untuk Abi tidak ada apa-apanya.


Abi makan masakan Laras dengan lahap, dan Abi terus memuji masakan Laras.


"Masakannya benar-benar enak, baru kali ini aku makan masakan seenak ini," puji Abi.


"Mas Abi bisa saja. Mungkin karena setiap hari Laras memasak untuk dagangan, karena sebelum masuk kerja, Laras berjualan makanan dulu di depan pabrik."


"Kamu adalah sosok perempuan hebat Laras. Aku salut sama kamu, karena kamu bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Daffa. Kalau boleh tau, memangnya Suami kamu kemana?"


"Aku tidak sehebat itu Mas, kalau aku hebat, mungkin Suamiku tidak akan berselingkuh dengan Adik kandungku sendiri," ujar Laras dengan tersenyum kecut.


Kasihan Laras, sepertinya luka yang ditorehkan oleh mantan Suaminya begitu dalam. Pasti berat harus menerima kenyataan jika Suaminya berselingkuh dengan Adik kandungnya sendiri, ucap Abi dalam hati.


"Tidak apa-apa Mas, kita kan teman, dan bagi Laras, teman adalah saudara. Jadi, Mas Abi tidak perlu sungkan seperti itu kepada Laras. Mas Abi juga tidak perlu mengasihani laras, karena Laras yakin dibalik musibah pasti akan ada hikmah yang tersembunyi."


Laras benar, seandainya Laras tidak bercerai dengan Suaminya, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Laras. Semoga Laras adalah takdir cintaku, batin Abi.


"Kalau ada apa-apa kamu juga bisa cerita sama aku, karena aku juga tidak memiliki banyak sahabat, bahkan kamu adalah teman perempuan pertama untukku," ujar Abi dengan tersenyum tulus, dan hati Laras terasa menghangat ketika melihat senyuman Abi.


Tidak Laras, kamu tidak boleh jatuh hati semudah itu, apalagi kamu baru bertemu dengan Abi. Kamu juga jangan terlalu banyak berharap, karena semua itu hanya akan menyakiti hatimu saja apabila semuanya tidak sesuai dengan keinginanmu, batin Laras yang masih menutup rapat hatinya untuk lelaki mana pun.


......................

__ADS_1


Keesokan paginya, Laras mengantarkan makanan terlebih dahulu ke rumah Abi untuk sarapan.


"Assalamu'alaikum Mas," ucap Laras.


"Wa'alaikumsalam," ujar Abi dengan mengucek matanya, dan Abi masih terlihat mengantuk karena semalam Abi tidak bisa tidur.


"Mas kesiangan ya?" tanya Laras.


"Iya Laras, mungkin karena aku belum terbiasa di tempat baru," ujar Abi, karena biasanya Abi tidur di kasur yang empuk dan kamar yang luas juga fasilitas serba ada.


"Mas Abi sebaiknya ke kamar mandi dulu mungpung baru jam lima lebih, jadi Mas Abi masih bisa Shalat Subuh. Oh iya, ini sarapan buat Mas Abi, kalau begitu Laras pulang dulu ya, Laras belum selesai bungkus nasi sama masakan," ujar Laras dengan kembali melangkahkan kaki ke rumah kontrakannya.


"Makasih ya Laras," ujar Abi dengan sedikit berteriak.


"Iya sama-sama Mas," teriak Laras juga, karena Laras sudah masuk ke dalam rumah.


"Laras bener-bener perempuan baik, Laras bahkan mengingatkan aku untuk Shalat, padahal selama ini aku sangat jauh dari Tuhan. Sebaiknya mulai sekarang aku harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bukannya orang baik akan berjodoh dengan orang baik juga," gumam Abi, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Anggi merasa penasaran dengan sosok Abi yang Laras ceritakan.


"Laras, Abi ganteng gak?" tanya Anggi.


"Ganteng Anggi, Abi kan laki-laki," jawab Laras.


"Kamu gak asyik banget sih, aku nanya serius Laras."


"Memangnya kalau Abi ganteng kamu mau ngapain? jangan bilang kamu mau deketin dia? inget kamu udah punya Reza."


"Siapa bilang aku mau deketin Abi, aku justru berharap Abi berjodoh sama kamu, karena dari cerita yang aku dengar dari kamu, Abi sepertinya cocok jadi Ayah Daffa."


"Kamu jangan berpikir macam-macam Anggi, aku tidak pantas untuk Mas Abi, apalagi statusku Janda beranak satu. Jadi, mana mungkin Mas Abi juga naksir sama aku."

__ADS_1


"Laras, kamu harus tau, siapa pun laki-laki yang mendapatkan kamu, dia adalah laki-laki paling beruntung di Dunia ini. Apalagi kamu sudah memiliki Anak, jadi beli satu dapat gratis satu," ujar Anggi, dan Laras tertawa mendengar candaan Anggi.


Terimakasih Tuhan, karena telah mengirimkan orang-orang baik yang selalu ada untukku, ucap Laras dalam hati.


__ADS_2