
Sepanjang perjalanan menuju Puncak, Daffa terus saja mengoceh, sehingga suasana di dalam mobil menjadi ramai.
"Anak Ayah sekarang sudah mulai belajar bicara ya," ujar Abi dengan mengelus kepala Daffa, tapi Abi melihat Laras terus saja melamun, sehingga Abi memutuskan untuk mencari sarapan dulu dan mengajak Laras untuk bicara.
Ketika Abi melihat warung bubur, Abi langsung menghentikan mobilnya.
"Sayang, sebaiknya kita sarapan dulu," ujar Abi, kemudian turun terlebih dahulu.
Abi membukakan pintu mobil untuk Laras, kemudian Abi menggendong Daffa.
Setelah Abi memesan dua porsi bubur, Abi mengajak Laras untuk duduk.
"Sayang, kenapa dari tadi Laras terlihat melamun terus?" tanya Abi.
"Mas, sepertinya kita sudah bersikap keterlaluan kepada Anya? bagaimanapun juga Anya adalah Adik angkat Mas Abi. kedua orangtua Mas Abi pasti kecewa jika mengetahui tentang semua ini," ujar Laras.
"Sayang, Mama pasti akan mengerti posisi kita, sedangkan Papa, meski pun Anya salah, Papa pasti akan selalu membelanya, bahkan Papa beberapa kali sampai meminta Mas supaya menikahi Anya."
"Mas Abi yang sabar ya, Laras sangat memahami perasaan Mas Abi, pasti Mas Abi merasa bimbang menghadapi semuanya."
"Makasih ya sayang, Laras memang selalu pengertian. Mungkin dulu Mas sering merasa seperti itu, tapi setelah kita menikah, Mas tidak takut lagi menghadapi apa pun rintangan yang menghalangi cinta kita, karena Mas memiliki Laras dan Daffa yang akan selalu memberikan kekuatan kepada Mas," ujar Abi dengan menggenggam erat tangan Laras.
"Sebagai seorang istri, sudah seharusnya Laras mendukung Suami Laras. Oh iya Mas, kapan kita akan menemui kedua orangtua Mas Abi?"
"Nanti setelah kondisi Mama membaik ya, soalnya penyakit depresi Mama saat ini sedang kambuh."
"Jadi Mama Mas Abi sakit?"
"Iya sayang, Mama mengalami depresi ketika putrinya diculik oleh mantan Karyawan Papa yang merasa sakit hati karena terkena PHK, dan sampai saat ini Mama masih menjalani pengobatan, tapi depresinya masih sering kambuh."
__ADS_1
"Bagaimana ceritanya Putri mereka bisa sampai diculik?"
"Saat itu Mama dan Papa mengajak bayi mereka jalan-jalan di taman, tapi Papa meninggalkan Mama bersama Putrinya karena ada meeting dadakan. Ketika Mama membalikan badan untuk membeli makanan, ada seseorang yang mengambil bayinya dengan cepat, kemudian membawanya kabur, dan ketika Polisi menyelidikinya dengan melihat CCTV di wilayah tersebut, ternyata bayi Mama sudah diculik oleh Karyawan Papa."
"Apa Karyawan yang menculik bayi kedua orangtua Mas Abi sudah berhasil ditangkap?"
"Saat Polisi menuju rumah si Penculik, mantan Karyawan Papa ditemukan tewas karena bunuh diri, dan sampai sekarang Larasati hilang tanpa jejak."
"Jadi nama bayi kedua orangtua angkat Mas Abi adalah Larasati?"
"Iya benar, namanya Larasati Putri Dirgantara."
Laras merasa kasihan dengan nasib yang menimpa kedua orangtua angkat Abi yang telah kehilangan putrinya, dan entah kenapa Laras tiba-tiba menitikkan airmata mendengar cerita Abi.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan? kenapa kamu terlihat sedih? apa karena nama Anak Mama yang hilang bernama Larasati juga?" tanya Abi dengan menghapus airmata yang menetes pada pipi Laras.
"Iya Mas, Laras merasa sedih ketika mendengar cerita Mas Abi, karena Laras juga seorang Ibu, dan Laras tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan mereka."
"Umur Larasati juga sama dengan Laras ya. Semoga saja kedua orangtua Mas, masih bisa bertemu dengan Larasati," ujar Laras yang di Amini oleh Abi.
Setelah Laras dan Abi selesai sarapan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Puncak.
Jarak dari Pabrik ke Puncak hanya memakan waktu sekitar dua jam saja, dan saat ini Laras, Abi dan Daffa sudah sampai di halaman vila milik Abi.
"Udara di sini sejuk sekali ya Mas, masih belum tercemar polusi udara," ujar Laras dengan merentangkan kedua tangannya, kemudian menghirup udara dalam-dalam, sedangkan Daffa yang baru bangun tidur, langsung meminta di gendong oleh Abi.
"Sekarang Anak Ibu pengen nempel terus sama Ayah ya," ujar Laras dengan mencium pipi Daffa.
"Ayahnya juga pengen nempel terus sama Ibunya," celetuk Abi, dan Laras langsung mencubit pinggang Abi karena merasa gemas.
__ADS_1
"Istri Mas yang cantik ini sepertinya udah gak sabar sekali, sampai gemas gitu sama Ayahnya Daffa," goda Abi.
"Mas, jangan godain terus, nanti aku ngambek beneran."
"Jangan dong, Mas gak mau kalau sampai nanti malam harus tidur di luar, apalagi cuaca di sini sangat dingin, jadi Mas butuh selimut hidup," ujar Abi dengan terkekeh, dan Laras memutar malas bola matanya.
Abi mengajak Laras dan Daffa untuk masuk ke dalam vila, sedangkan koper mereka di bawa masuk oleh penjaga vila.
"Sayang, gimana, Laras suka gak vila nya?"
"Suka sekali Mas, apalagi pemandangan di sini sangat indah," ujar Laras yang terus melihat hamparan kebun teh dari jendela vila.
"Kalau begitu, Laras simpan sertifikatnya ya, karena vila ini sengaja Mas beli sebagai kado pernikahan kita," ujar Abi dengan memberikan map yang berisi sertifikat vila kepada Laras.
"Tapi Mas, ini terlalu mahal," ujar Laras yang baru pertama kali mendapatkan kado dalam seumur hidupnya, dan Laras merasa begitu terharu sekaligus bahagia dengan semua perlakuan Abi.
"Sayang, meski pun Mas memberikan semua aset yang Mas miliki, itu semua tidak akan sebanding dengan kamu yang begitu spesial. Jadi, hadiah kecil ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan permata hati Mas yang cantik ini," ujar Abi dengan memeluk Laras, dan Laras merasa bersyukur memiliki Suami yang begitu mencintainya dan juga menyayangi Daffa.
Terimakasih Tuhan karena telah mengirimkan Mas Abi dalam kehidupan Laras. Semoga selamanya Mas Abi tidak akan pernah berubah, dam hanya maut yang dapat memisahkan kami, ucap Laras dalam hati.
Setelah selesai makan siang, Abi mengajak Laras dan Daffa untuk berjalan-jalan di
sekitar vila, dan Abi memotret kebersamaan mereka lalu mengunggahnya di sosial media miliknya, begitu juga dengan Laras.
Saat melihat fhoto yang Abi unggah, Anya langsung melempar handphonenya hingga hancur, karena Anya begitu geram dengan kebahagiaan yang diperlihatkan oleh Abi. Sedangkan Rahman menitikkan airmata ketika melihat potret kebahagiaan Laras dengan Suami barunya tersebut, dan Rahman merasakan sesak dalam dadanya.
Laras dan Daffa terlihat sangat bahagia, dan Abi juga terlihat tulus menyayangi mereka. Maafkan aku Laras, dulu saat aku berumah tangga denganmu, aku tidak pernah mengajak kalian pergi liburan, jangankan pergi liburan, bahkan untuk mengajak kalian jalan-jalan ke Pasar pun aku tidak pernah melakukannya, karena aku selalu sibuk dengan obsesiku terhadap Mawar, ucap Rahman dalam hati yang selalu menyesali semuanya.
Anya sengaja Abi tempatkan di bagian administrasi yang berada di kantor, supaya Anya tidak sering bertemu dengan Laras, karena Abi takut kalau Anya akan mengganggunya.
__ADS_1
Saat ini Anya satu ruangan dengan Rahman, sehingga Rahman terkejut ketika melihat Anya melempar handphonenya secara tiba-tiba.
"Anya, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rahman dengan menghampiri Anya, tapi tiba-tiba Anya langsung memeluk tubuh Rahman, sehingga membuat Rahman merasa terkejut.