Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 39 ( Fakta yang mengejutkan )


__ADS_3

Rahman begitu terkejut ketika mendengar perkataan Anya jika nanti Rahman harus memilih antara Anya atau Mawar setelah Mawar melahirkan, karena awalnya Anya mengatakan jika dirinya rela dimadu bahkan menjadi istri kedua.


"Mas, kamu kenapa terkejut seperti itu mendengar perkataanku? awalnya aku memang rela dimadu, yang penting kita bisa menikah, tapi setelah aku pikir-pikir sepertinya tidak enak kalau aku berbagi Suami, apalagi dengan Mawar. Hanya membayangkan Mas tidur dengan perempuan lain saja aku tidak rela," ujar Anya dengan memeluk tubuh Rahman.


Anya sepertinya sangat mencintai Rahman, apa yang harus aku lakukan untuk membantu Putri kesayanganku? Seandainya rasa cintaku terhadap Mawar masih sebesar dulu, maka dengan senang hati aku pasti akan membantu Anya untuk memisahkan Rahman dan Mawar, tapi sekarang nama Mawar sudah tergantikan oleh Laras. Hanya dengan membayangkan wajahnya saja, aku sudah ingin sekali bertemu dengan Laras pujaan hatiku, ucap Tuan Dirga dalam hati.


"Anya sayang, untuk saat ini kamu tidak boleh terlalu memaksakan kehendakmu kepada Rahman, jangan sampai nanti Rahman berpaling dari kamu. Nanti kita bisa membicarakannya secara baik-baik setelah Mawar melahirkan."


"Tapi Pa, Anya sangat mencintai Mas Rahman, dan Anya tidak ingin melihat Mas Rahman bersama dengan perempuan lain."


"Sayang, Papa mengerti bagaimana perasaan Anya, begitu juga dengan Rahman, karena kami sama-sama seorang Pria, tapi untuk saat ini Anya harus mengerti posisi Rahman, pasti akan sangat sulit memilih antara Anya dan Mawar," ujar Tuan Dirga dengan mengelus lembut kepala Anya.


"Baiklah kalau seperti itu, Anya akan bersabar."


"Sayang, terimakasih ya atas pengertiannya," ujar Rahman dengan mengecup kening Anya.


Untung saja Tuan Dirga membantuku berbicara kepada Anya, ternyata selain pengusaha sukses, Tuan Dirga juga baik hati dan pengertian, ucap Rahman dalam hati, padahal Tuan Dirga melakukan semua itu, karena Tuan Dirga merasa bersalah kepada Rahman.


Kali ini aku membantu Rahman karena merasa bersalah terhadapnya, karena pada kenyataannya, aku sendiri telah berselingkuh dengan Mawar yang notabene nya masih berstatus istri dari Rahman, batin Tuan Dirga.


"Rahman, Anya, kalau begitu Papa siap-siap dulu ya, kebetulan hari ini bagian Papa yang mengisi acara seminar. Nanti kita mengobrol lagi setelah acara seminar selesai."


"Papanya Anya memang hebat. Semangat ya Pa, nanti kita makan siang bareng."


"Iya sayang, pasti. Papa akan selalu semangat, apalagi ada Putri kesayangan Papa yang selalu mendukung Papa," ujar Tuan Dirga kemudian melangkahkan kaki menuju belakang panggung.

__ADS_1


......................


Setelah kepergian Tuan Dirga, Anya kembali berbicara dengan Rahman, karena dari tadi Rahman terlihat melamun, dan tidak banyak bicara.


"Mas, apa Mas keberatan jika harus memilih antara Anya dan Mawar?"


"Bukan seperti itu sayang, hanya saja dulu Mas sudah melakukan kesalahan dengan mengkhianati Laras, dan sekarang Mas sudah mengulangi kesalahan yang sama dengan berselingkuh dari Mawar, bahkan Mas sampai menikah diam-diam di belakang Mawar. Jadi, Mas hanya merasa bersalah saja."


"Apa Mas menyesal karena telah menikahi Anya?" tanya Anya dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.


"Tidak mungkin seperti itu, Mas sangat mencintai Anya, jadi Mas tidak mungkin menyesal menikahi Anya," ujar Rahman dengan memeluk tubuh Anya supaya merasa lebih tenang.


"Kenapa dulu Mas bisa menceraikan Laras dan lebih memilih Mawar? tapi sekarang kenapa Mas terlihat keberatan jika harus memilih di antara Anya dan Mawar? apa kurangnya Anya dibandingkan dengan Mawar?"


"Tidak sayang, Anya lebih segala-galanya dibandingkan dengan Mawar, hanya saja saat ini Mawar dalam keadaan hamil, makanya Mas tidak tega jika harus menceraikannya, meski pun dulu Mas dan Mawar hanya menikah secara siri, karena saat itu Mas masih belum memiliki surat cerai dengan Laras dari Pengadilan Agama."


"Iya, karena surat cerai dari Pengadilan Agama baru ke luar bulan kemarin, dan Mas belum sempat mengurus pengajuan pernikahan secara Negara dengan Mawar."


Ternyata Mawar juga masih berstatus istri siri Mas Rahman? sebaiknya aku segera meminta Mas Rahman supaya mengesahkan pernikahan kami secara Negara, dengan begitu Mas Rahman akan menjadi milikku seutuhnya, dan dengan mudah aku bisa menyingkirkan Mawar dari kehidupan Mas Rahman, batin Anya dengan tersenyum licik.


"Sekarang sebaiknya kita mengikuti seminarnya, siapa tau nanti Mas bisa menjadi Pengusaha sukses seperti Tuan Dirga."


"Anya pasti akan membantu Mas menjadi sukses seperti Papa, dan mulai sekarang Mas harus membiasakan diri memanggil Papa juga, karena Papa Dirga sudah menjadi Mertua Mas."


"Iya sayang, makasih banyak ya sayang, Anya memang selalu pengertian," ujar Rahman dengan mencium tangan Anya.

__ADS_1


......................


Acara seminar hari ini, selesai pada pukul satu siang, dan Tuan Dirga kembali menghampiri Anya dan Rahman untuk makan siang.


"Nak, bagaimana kabar Kakak kamu?" tanya Tuan Dirga yang mengajak Anya dan Rahman mengobrol di sela-sela menikmati makan siang mereka.


"Kak Abi dan keluarganya baik-baik saja Pa, dan mungkin sebentar lagi Papa akan mendapatkan Cucu dari Kak Abi, karena kemarin katanya Kakak ipar mual muntah terus, makanya Kak Abi tidak bisa menghadiri acara seminar."


"Bagaimana Menantu Papa, dia bersikap baik kan sama Anya?"


"Laras orangnya baik, padahal awalnya Anya tidak suka kepada Laras karena telah merebut Kak Abi dari Anya. Laras juga terlihat sangat mencintai Kak Abi, begitu juga dengan Kak Abi yang sangat mencintai Laras dan menyayangi Daffa, meski pun Daffa hanya Anak sambungnya, tapi Kak Abi menyayangi Daffa seperti Anak kandungnya sendiri, apalagi Ayah kandung Daffa tidak pernah bertanggung jawab memberikan nafkah untuk Daffa."


Degg


Jantung Rahman rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Anya.


Kenapa nama Istri Tuan Abi bisa sama dengan Laras mantan istriku? bahkan Anak istri Tuan Abi juga bernama Daffa. Tapi setahuku Abi Suaminya Laras mantan istriku adalah seorang teknisi, batin Rahman bertanya-tanya.


"Mas, baik-baik saja kan?"


"Mas tidak apa-apa sayang, hanya saja nama istri Tuan Abi, sama seperti istri Abi yang teknisi itu," ujar Rahman yang tidak mungkin mengatakan jika nama Istri Abi sama seperti nama mantan istrinya, bahkan Anak sambung Abi juga memiliki nama yang sama dengan nama Anaknya dari Laras.


"Oh iya, Anya belum cerita ya sama Mas, kalau Kak Abi sebelumnya sudah berpura-pura menjadi teknisi supaya bisa menilai kinerja Karyawan. Sebenarnya Kak Abi melarang Anya mengatakan tentang hal ini kepada siapa pun juga, tapi sekarang Mas sudah menjadi Suami Anya, jadi tidak ada yang harus Anya tutup-tutupi lagi dari Mas Rahman."


Rahman semakin terkejut ketika mendengar fakta jika Suami Laras adalah orang kaya, bahkan Rahman sendiri bekerja di Perusahaan milik mantan istrinya.

__ADS_1


A_apa, jadi selama ini aku bekerja di perusahaan milik Suami dari mantan istriku? dan sekarang, aku malah jadi Adik iparnya Laras dan Abi. Kenapa Dunia ini sempit sekali? batin Rahman saat ini berada dalam dilema, apalagi Rahman takut jika Anya sampai marah jika mengetahui kalau Rahman adalah mantan Suami Laras.


__ADS_2