Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 64 ( Karma itu Nyata )


__ADS_3

Mama Lasmi sangat bersyukur karena Laras memiliki hati yang begitu mulia, bahkan Laras masih bersedia untuk membantu orang-orang yang pernah menyakitinya.


"Bu, memangnya berapa biaya yang Ibu butuhkan untuk pengobatan Mas Rahman?" tanya Laras dengan mengajak Bu Ida duduk.


"Rahman membutuhkan biaya lima puluh juta untuk biaya operasi dan pengobatannya, tapi itu belum semuanya dihitung, karena Rahman harus melakukan berobat jalan untuk mengobati penyakit HIV aids yang di deritanya. Ibu baru bisa membayar sebesar tiga puluh juta, itu pun hasil dari menggadaikan rumah Rahman."


"Itulah akibatnya kalau lelaki yang sering gonta ganti pasangan. Untung saja Anak saya sudah bercerai dari lelaki bejat seperti Rahman, amit amit kalau sampai Rahman menularkan penyakit terkutuk seperti itu kepada Laras," sindir Mama Lasmi yang masih merasa kesal terhadap Rahman dan keluarganya.


"Ma, kita tidak boleh berkata seperti itu, kasihan saat ini Mas Rahman sedang terkena musibah, dan bagaimanapun juga, Mas Rahman adalah Ayah kandung Daffa," ujar Laras, dan akhirnya Mama Lasmi tidak berkomentar lagi.


"Nak, Ibu tau kalau selama ini keluarga Ibu sudah menyakiti hati Laras, dan Ibu benar benar minta maaf. Ibu menyesal atas semua kejahatan yang pernah kami lakukan kepada Laras dan Daffa."


"Bu, setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita semua supaya tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan," ujar Laras dengan mengelus lembut punggung tangan Bu Ida, dan Bu Ida begitu malu dengan semua kebaikan Laras.


"Nak, Ibu juga minta maaf karena Ibu terpaksa menggadaikan rumah Rahman tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Laras, padahal rumah itu hasil jerih payah Laras juga."


"Bu, Laras ikhlas jika Ibu ingin menjual rumah yang Laras dan Mas Rahman bangun untuk biaya pengobatan Mas Rahman."


"Tapi di sana ada hak Daffa juga," ujar Bu Ida dengan terus menundukkan kepalanya.


"Alhamdulillah Daffa sudah memiliki rumah, karena Mas Abi sudah membelikannya, jadi Ibu tidak perlu memikirkan hak Daffa."


Abi menghampiri Laras setelah sebelumnya mengambil uang ke dalam kamarnya.


"Bu, ini ada uang lima puluh juta untuk biaya pengobatan Rahman, semoga Rahman lekas sembuh ya," ujar Abi dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang lima puluh juta kepada Bu Ida.


Bu Ida sampai melakukan sujud syukur karena telah mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Rahman.


"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih berkenan memberikan pertolongan kepada hamba dengan mengirimkan orang-orang baik. Terima Kasih banyak Nak, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian," ujar Bu Ida dengan mencium tangan Abi dan Laras.


"Bu jangan seperti ini, seharusnya kami yang mencium tangan Ibu," ujar Laras dengan memeluk tubuh Bu Ida.


......................

__ADS_1


Mawar yang dibawa ke Rumah Sakit karena pendarahan, terus saja menjerit kesakitan, karena saat ini Mawar akan melahirkan, padahal usia kandungannya baru tujuh bulan, belum lagi posisi bayinya sungsang.


"Sakit, sakit," teriak Mawar.


"Istighfar Bu, banyak berdo'a semoga bayi Ibu segera ke luar," ujar Dokter.


"Kenapa bayi setan ini masih belum ke luar juga? Kamu hanya menyusahkan aku saja," teriak Mawar dengan memukuli perutnya sehingga Dokter menyuruh Perawat untuk mengikat tangan Mawar pada pinggir ranjang.


"Dokter, cepat operasi saya, saya sudah tidak kuat menahan sakit," teriak Mawar lagi.


"Maaf Bu, kaki bayi Anda sudah ke luar setengahnya dan kami tidak bisa melakukan operasi," ujar Dokter yang masih memikirkan cara supaya bayi Mawar bisa segera lahir.


"Lakukan apa saja Dok, yang penting bayi setan ini segera ke luar dari perut saya."


Dokter tidak memiliki pilihan lain selain menggunting alat ke*lamin Mawar hingga robek sampai ke lubang a*nus, dan Mawar menjerit ketika Dokter melakukan semua itu.


Bayi Mawar akhirnya dapat di tarik ke luar, tapi saat ini kondisi bayi tersebut sudah meninggal dunia karena harus terlahir prematur.


"Innalillahi...mohon maaf Bu, kami tidak bisa menyelamatkan Bayi Anda," ujar Dokter yang merasa kasihan dengan bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Mawar.


"Dia lebih baik mati daripada harus memiliki Ibu seorang Narapidana, karena dia pasti akan malu dalam seumur hidupnya," ujar Mawar dengan tertawa sekaligus menangis.


Dokter dan Perawat merasa kasihan terhadap Mawar, karena saat ini Mawar sudah hilang kewarasannya.


Setelah selesai menjahit jalan lahir Mawar yang robek, Dokter ke luar dari ruang bersalin.


"Dok, bagaimana keadaan Pasien?" tanya Polisi wanita yang menjaga Mawar.


"Sepertinya Pasien mengalami gangguan kejiwaan, karena saat ini dia terus saja mengamuk, menangis, dan sesekali tertawa. Sebaiknya Pasien dimasukan ke dalam Rumah Sakit jiwa supaya bisa mendapatkan pengobatan," ujar Dokter.


"Kalau begitu Dokter buat saja surat keterangan untuk Pasien, supaya saya bisa melaporkan keadaan Pasien kepada atasan saya," ujar Polisi Wanita yang menjaga Mawar.


......................

__ADS_1


Bu Ida yang sudah mendapatkan uang untuk pengobatan Rahman, bergegas kembali ke Rumah Sakit, kemudian Bu Ida menuju bagian Administrasi untuk membayar sisa tagihan Rumah Sakit.


"Bu, bagaimana operasi Anak saya?" tanya Bu Ida kepada petugas bagian administrasi.


"Operasinya berjalan lancar Bu, dan saat ini Pak Rahman sudah dipindahkan ke kamar perawatan," jawab petugas Rumah Sakit kemudian memberitahu Bu Ida nomor kamar perawatan Rahman.


Setelah Bu Ida mengetahui kamar perawatan Rahman, Bu Ida menghampiri Rahman yang masih belum sadarkan diri.


"Nak, bangun Nak, Rahman harus segera sembuh," ujar Bu Ida dengan mengusap lembut kepala Rahman.


Bu Ida terus menangisi nasib buruk yang menimpa Rahman, dan Bu Ida yang sudah menyadari semua kesalahannya memutuskan untuk Shalat, dan meminta ampun kepada Sang Pencipta atas semua kesalahan dan dosa yang telah dirinya dan keluarganya perbuat selama ini.


Bu Ida menangis dalam sujud, kemudian menadahkan kedua tangannya untuk memohon ampun serta kesembuhan untuk Suami dan juga kedua anaknya.


"Ya Allah, selama ini hamba sudah banyak melakukan dosa, ampunilah semua dosa yang telah hamba dan keluarga hamba perbuat. Terimalah taubat hamba, berikanlah kesembuhan kepada semua keluarga hamba," ujar Bu Ida dengan menangis, dan beberapa saat kemudian Rahman secara perlahan membuka matanya.


"Bu," ucap Rahman dengan lirih.


Bu Ida yang mendengar suara Rahman langsung menghampiri Rahman.


"Alhamdulillah Nak, Rahman akhirnya sadar juga," ucap Bu Ida dengan menghapus airmata yang terus mengalir pada pipinya.


"Bu, kenapa kaki Rahman tidak bisa digerakkan?" tanya Rahman yang terus mencoba menggerakkan kakinya.


"Nak, Rahman harus sabar, Rahman harus kuat, ikhlaskan semuanya, karena kedua kaki Rahman patah saat tertabrak mobil, dan sekarang kaki Rahman sudah di amputasi," ujar Bu Ida dengan menangis.


Degg


Jantung Rahman rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Bu Ida.


"Tidak, tidak mungkin Rahman cacat, Ibu pasti berbohong kan?" teriak Rahman.


Rahman menarik selimut yang menutupi kedua kakinya, dan Rahman yang merasa syok ketika melihat kedua kakinya sudah di amputasi, langsung menjerit, karena saat ini kaki nya yang tersisa hanyalah sebatas lutut.

__ADS_1


"Tidaaaaaaaaaak"


__ADS_2