
Rahman kembali terkejut mendengar permintaan Anya, karena dari sebelum menikah dengan Anya, Mawar juga terus mendesak Rahman supaya segera mendaftarkan pernikahan mereka.
Aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan, karena saat ini kedua istriku menginginkan aku mendaftarkan pernikahan dengan mereka secara Negara. Tidak mungkin kan aku mendaftarkan keduanya? bisa-bisa Anya akan mengamuk jika aku memilih Mawar, tapi jika aku mendaftarkan pernikahanku dengan Anya, nanti alasan apa yang akan aku berikan kepada Mawar jika dia kembali mendesak aku? dan pastinya cepat atau lambat Mawar akan mengetahui pernikahanku dengan Anya, batin Rahman yang saat ini berada dalam dilema.
"Sayang, nanti ya kita daftarkan pernikahan kita kalau Anak Mawar sudah lahir?" ujar Rahman, dan Anya langsung menatap tajam Rahman sehingga nyali Rahman menciut.
"Apa alasannya Mas menunggu Anak Mawar lahir?" tanya Anya.
"Anak Mawar kan harus memiliki Akta kelahiran, dan kami harus mendaftarkan Pernikahan kami secara Negara juga."
"Lalu bagaimana kalau nanti Anya juga hamil Mas? apa Mas tidak memikirkan nasib Anak kita?" ujar Anya dengan menangis supaya Rahman merasa iba.
"Sayang, jangan nangis dong, Mas tidak bisa melihat Anya menangis. Anya sabar dulu ya, Mas akan secepatnya mengurus semuanya," ujar Rahman.
Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi milikku, dimiliki oleh orang lain juga, ucap Anya dalam hati dengan tersenyum penuh kemenangan.
Kalau dipikir-pikir Anya lebih segala-galanya jika dibandingkan dengan Mawar, Anya cantik dan kaya, meski pun Anya hanya Anak angkat, tapi Papa Dirga sangat menyayanginya seperti Anak kandung sendiri, dan masa depan aku pasti akan lebih cerah ketika menjadi Suami Anya, apalagi kalau aku sampai dipecat oleh Abi, aku bisa meminta bantuan Anya supaya masuk ke dalam perusahaan Dirgantara grup. Sedangkan Mawar, dia hanya Anak Yatim Piatu, apalagi Mawar lebih memilih untuk berseteru dengan keluarga satu-satunya yaitu Laras. Kalau Mawar tau jika Laras adalah Istri dari Bos nya, pasti dia bakalan tidak punya muka lagi untuk bertemu Laras dan Abi, ucap Rahman dalam hati yang akan lebih memilih Anya dibandingkan dengan Mawar, karena Rahman merasa jika pernikahannya dengan Anya lebih menguntungkan dibandingkan dengan Mawar.
Saat ini Rahman dan Anya sudah sampai di halaman rumah orangtuanya Rahman, dan Anya terlihat bahagia karena akhirnya Rahman akan memperkenalkan Anya kepada kedua orangtuanya, meski pun hanya sebagai teman kantor.
"Assalamu'alaikum Bu, Pak," ucap Rahman dan Anya saat melihat pak Syarif dan Bu Ida tengah duduk di teras depan rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Nak. Siapa perempuan cantik ini?" tanya Bu Ida ketika Anya dan Rahman mencium punggung tangan Bu Ida dan Pak Syarif.
"Kenalin Bu, ini Anya, dan Anya adalah Istri Rahman," ujar Rahman, sontak saja membuat semuanya terkejut termasuk Anya, karena tadi Anya dan Rahman sudah sepakat jika Rahman akan memperkenalkan Anya hanya sebagai teman kantornya saja.
"Rahman, apa maksud kamu? apa kamu mau membunuh Bapak? kenapa lagi-lagi kamu melakukan kesalahan yang sama? apa belum cukup dengan karma yang sudah menimpa Nisa?" teriak Pak Syarif dengan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Pak, Rahman minta maaf, tapi kami berdua saling mencintai, dan Rahman janji jika Anya akan menjadi istri terakhir untuk Rahman."
Bu Ida mencoba menenangkan Pak Syarif, karena sebenarnya Bu Ida tidak menyukai sikap Mawar, bahkan Bu Ida sudah beberapa kali menyuruh Rahman untuk menceraikan Mawar.
"Pak, apa salahnya jika Rahman menikah lagi? dari pada Rahman berzina seperti yang dulu dia lakukan bersama Mawar. Lagian Ibu tidak suka dengan Mawar yang sudah memperlakukan Anak kita seperti Pembantu."
"Bapak ini seperti tidak tau Mawar saja, jelas-jelas Mawar tidak akan setuju jika Rahman meminta ijin dulu. Lagian dulu juga Mawar sudah merebut Rahman dari Laras, jadi sekarang giliran Mawar yang harus menerima karmanya. Ibu masih ingat kalau dia selalu berkata jika tidak ada karma di Dunia ini. Sekarang Ibu bahagia karena akhirnya Mawar mendapatkan karma juga. Memang benar kata orang kalau hasil merebut pasti akan ada yang merebut juga," ujar Bu Ida dengan tertawa.
"Istighfar Bu, tidak seharusnya Ibu tertawa di atas penderitaan oranglain, apalagi Mawar adalah Menantu kita sendiri."
"Sudahlah Pak, biar si Mawar tau rasa. Rahman, sebaiknya sekarang bawa Istri kamu masuk ke dalam, kita lanjutin ngobrolnya di dalam," ujar Bu Ida dengan mendorong kursi roda Pak Syarif.
"Mas, Anya lupa belum mengambil oleh-oleh untuk Ibu."
"Ya sudah, kalau begitu Mas ambil dulu oleh-olehnya," ujar Rahman dengan kembali melangkahkan kaki menuju mobil.
__ADS_1
Anya tersenyum bahagia, karena Anya mendapatkan lampu hijau dari keluarga Rahman, terutama Ibunya.
Aku tidak menyangka jika Mas Rahman akan mengakui pernikahan kami, bahkan Ibu Mas Rahman terlihat sangat setuju dan menyukaiku. Kalau begitu aku harus mengambil hati keluarga Mas Rahman dengan memberikan banyak hadiah, supaya mereka lebih mendukung hubunganku dengan Mas Rahman dibandingkan dengan Mawar. Siap-siap Mawar, sebentar lagi kamu akan ditendang dari kehidupan Mas Rahman, ucap Anya dalam hati.
"Bu, ini ada sedikit oleh-oleh, kebetulan kami baru pulang dari Puncak mengikuti seminar. Ini juga khusus Anya beli untuk Ibu," ujar Anya dengan memberikan satu set perhiasan untuk Bu Ida.
Mata Bu Ida langsung berbinar ketika melihat perhiasan yang begitu indah, dan pastinya memiliki harga yang mahal.
"Nak, terimakasih banyak ya, padahal kita baru bertemu, tapi Anya sangat baik. Ngomong-ngomong ini emas asli kan?" tanya Bu Ida.
"Itu asli kok Bu, di sana juga ada surat-suratnya. Ini juga untuk Ibu, kebetulan tadi Anya baru mengambil uang," ujar Anya dengan memberikan segepok uang sebesar sepuluh juta rupiah, sehingga membuat mata Bu Ida semakin berbinar.
"Rahman pintar sekali memilih istri, coba saja dari dulu Rahman memilih istri yang seperti Anya, Ibu pasti tidak akan darah tinggi harus menghadapi Menantu yang durhaka seperti Mawar."
Pak Syarif menghela nafas panjang ketika melihat istrinya yang masih saja terbuai oleh hiasan Dunia,
"Nak, terimakasih banyak atas hadiah yang telah Nak Anya berikan kepada kami, tapi Nak Anya harus tau jika sebaik-baiknya perhiasan terindah adalah seorang istri yang saleha, dan Bapak harap Nak Anya akan menjadi istri yang saleha untuk Rahman. Semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan terakhir."
"Iya Pak, Anya akan berusaha menjadi istri saleha supaya tidak ada yang berusaha merebut Mas Rahman dari Anya."
"Apa sekarang kalian berdua akan memberitahukan tentang pernikahan kalian kepada Mawar?"
__ADS_1