Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 47 ( Rencana Liburan )


__ADS_3

Mawar menghampiri Rahman yang saat ini sudah terlihat duduk bersama Anya.


"Mas Rahman, Anya, maaf ya kalian pasti sudah lama nungguin Mawar," ujar Mawar dengan mengipasi wajahnya yang berkeringat menggunakan tangannya.


"Tidak apa-apa kok, kami juga baru sampai," ujar Anya dengan tersenyum palsu.


Rahman yang melihat Mawar berkeringat, langsung mengelap keringat di wajah Mawar menggunakan tisu sehingga membuat Anya yang cemburu langsung menginjak kaki Rahman.


"Awww," teriak Rahman.


"Mas kenapa?" tanya Mawar yang merasa heran karena tiba-tiba Rahman berteriak.


"Tidak apa-apa sayang, Mas hanya digigit semut," ujar Rahman, dan Mawar tersenyum bahagia karena Rahman sudah kembali memanggil sayang kepadanya.


Anya langsung menatap tajam Rahman karena telah memanggil Mawar dengan sebutan sayang.


Kenapa aku jadi serba salah begini? bukannya tadi Anya sendiri yang meminta aku supaya meminta maaf kepada Mawar, batin Rahman kini bertanya-tanya.


"Mawar, Mas minta maaf ya, karena kemarin Mas sudah membentak kamu. Mas juga tadi pagi sudah ninggalin kamu dan berangkat kerja duluan. Mas harap kamu mengerti posisi Mas yang merasa capek saat pulang bekerja," ucap Rahman dengan menggenggam erat tangan Mawar.


"Tidak apa-apa Mas, Mawar mengerti, seharusnya sebagai seorang istri, Mawar yang melayani Mas Rahman, bukan Mas Rahman yang melayani Mawar. Sekarang Mawar akan berubah menjadi istri yang baik untuk Mas Rahman, supaya tidak ada Pelakor yang merebut Suami Mawar."


Anya yang mendengar perkataan Mawar, langsung tersedak minuman.


"Kamu baik-baik saja kan Anya?" tanya Mawar.


"Aku baik-baik saja kok," jawab Anya dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Kamu terlambat Mawar, karena sekarang Mas Rahman sudah menjadi milikku. Makanya kalau jadi istri itu harus melayani Suami dengan baik supaya tidak direbut pelakor, dan pelakor yang sudah merebut Suami kamu adalah aku, batin Anya dengan tersenyum licik.

__ADS_1


"Oh iya Anya, kemarin kamu kemana saja? kenapa telpon kamu sibuk terus?" tanya Mawar.


"Aku lagi telponan sama seseorang," dan orang itu adalah Suamiku sekaligus Suami kamu, lanjut Anya dalam hati.


"Kamu pasti sedang telponan dengan pacar kamu kan? kapan kamu mau ngenalin pacar kamu sama kita?" tanya Mawar yang merasa penasaran dengan pacar Anya.


"Nanti kalau pacarku tidak sibuk, karena pacarku sangat sibuk, sampai-sampai tidak mempunyai waktu untuk aku," sindir Anya dengan melirik Rahman.


"Kalau begitu kita ngobrolnya sambil makan saja, takutnya waktu istirahat keburu habis," ujar Rahman yang mencoba untuk mencairkan suasana.


"Anya, ternyata Kak Abi adalah Suami_" ujar Mawar yang ingin mengatakan jika Abi adalah Suami dari mantan istri Rahman, tapi perkataan Mawar terhenti karena Rahman mengedipkan matanya kepada Mawar sebagai isyarat kalau Mawar tidak boleh mengatakannya kepada Anya.


"Suami apa Mawar?" tanya Anya yang merasa heran.


"Suami Laras mantan Mandor di Pabrik," jawab Mawar, sehingga Rahman bisa bernapas lega.


"Oh itu, iya bener, Kakak iparku bernama Laras. Apa kamu mengenalnya?" Anya balik bertanya.


"Kenapa sih dari tadi perkataan kamu terputus terus?" tanya Anya yang merasa heran.


"Maksud aku Laras adalah perempuan beruntung karena bisa menikah dengan seorang Bos, padahal Laras kan sudah berstatus Janda beranak satu, tapi nasibnya memang beruntung sekali," ujar Mawar mencoba mencari alasan.


"Kamu benar, Laras seperti Cinderela yang menikah dengan Pangeran. Untung saja aku sudah berhasil move on dari Kak Abi, karena kalau tidak, aku akan terus berusaha untuk merebut Kak Abi dari Laras," ujar Anya.


Sekarang giliran aku yang akan merebut Abi dari Laras, jadi aku tidak perlu bersaing dengan kamu Anya, dan pastinya aku akan lebih mudah mendapatkan Abi, batin Mawar.


"Oh iya Anya, bagaimana rencana kita berlibur ke Bali? aku sudah tidak sabar ingin segera Baby moon dengan Mas Rahman?" tanya Mawar.


"Bukannya besok kita sudah libur kerja ya? bagaimana kalau besok saja kita berangkatnya?" karena aku juga sudah tidak sabar ingin segera honey moon dengan Mas Rahman, lanjut Anya dalam hati.

__ADS_1


"Ide bagus tuh, kalau begitu nanti saat pulang kerja, aku bakalan langsung packing-packing pakaian. Makasih banyak ya, kamu sudah baik sekali mengajak kami liburan, kamu memang teman tebaikku," ucap Mawar dengan menggenggam erat tangan Anya.


Kamu bisa bilang begitu karena kamu belum tau siapa aku sebenarnya, kalau kamu tau aku adalah madumu, kamu pasti akan membenci aku Mawar, tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta kepada Mas Rahman, aku juga sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu dan Mas Rahman, jadi tidak ada yang perlu aku sesali lagi, batin Anya.


Pada saat Anya, Mawar dan Rahman berencana untuk liburan ke Bali, Laras dan Abi sedang membereskan pakaiannya untuk pergi mengunjungi kedua orangtua angkat Abi.


"Sayang, Bunda tidak perlu membawa pakaian banyak-banyak, Mama sudah menyediakan pakaian baru untuk Bunda dan Daffa, kalau untuk Ayah, pakaian Ayah masih banyak di rumah Mama," ujar Abi.


"Bunda jadi tidak enak dong sudah ngerepotin Mama."


"Mama justru bahagia karena kita akan berkunjung ke rumahnya, bahkan Mama berharap kita bisa tinggal di Jakarta supaya Mama tidak merasa kesepian, apalagi sekarang Anya tinggal di sini." ujar Abi.


"Yah, bukannya Bunda tidak ingin tinggal di Jakarta, tapi Ayah tau sendiri kan bagaimana hubungan Bunda dengan Papa Dirga yang kurang baik? meski pun Papa Dirga sudah bilang kalau beliau akan berubah, dan akan melupakan Bunda, tapi tetap saja Bunda akan merasa canggung."


"Iya sayang, sebaiknya kita tinggal di sini atau di Vila yang berada di Puncak saja supaya lebih leluasa," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras.


Beberapa saat kemudian Anya terlihat pulang ke rumah Abi, dan Anya langsung melontarkan sindiran.


"Bisa tidak kalian kalau mau bermesraan di dalam kamar saja? mata Anya rasanya sakit."


"Yang penting bukan hati kamu yang sakit," celetuk Abi.


"Sekarang Anya sudah berhasil move on dari Kak Abi, bahkan besok Anya mau berangkat honeymoon ke Bali," ujar Anya yang sudah keceplosan.


"Kakak tidak salah dengar kan? memangnya kamu sudah menikah pake mau honeymoon segala? kamu jangan macam-macam Anya, sebagai seorang perempuan, kamu harus bisa menjaga harkat dan martabat kamu."


"Iya iya, Anya hanya bercanda kok, Kakak gak usah ceramah. Kalau begitu Anya mau packing-packing dulu."


"Jadi beneran kamu mau liburan ke Bali? memangnya kamu tidak mau pulang ke Jakarta buat nengokin Mama?"

__ADS_1


"Nanti saja kalau Anya pulang liburan dari Bali, lagi pula yang ada dalam otak Mama hanya Larasati, jadi Mama tidak pernah memperdulikan Anya," ujar Anya kemudian bergegas masuk ke dalam kamar sebelum Abi kembali menceramahinya.


__ADS_2