Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 31 ( Perubahan sikap Anya )


__ADS_3

Laras dan Abi saat ini telah sampai di rumah mereka, dan Bi Surti langsung menghampiri mobil Abi untuk mengambil Daffa dari pangkuan Laras.


"Assalamu'alaikum Bi, bagaimana kabar semuanya, sehat?" tanya Laras.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah semuanya pada sehat Neng. Sini Den kecil sama si Mbah, kasihan Ibu nya pasti cape," ujar Bi Surti kemudian menggendong Daffa, sedangkan Mang Diman membantu Abi membawa koper dan oleh-oleh.


"Bi, bagaimana selama kami tidak ada di rumah, apa Anya tidak berbuat masalah?" tanya Abi.


"Tidak Mas, Bibi juga heran dengan perubahan sikap Non Anya, karena akhir-akhir ini Non Anya berubah menjadi lebih baik, bahkan Non Anya tidak pernah marah-marah, dan setiap malam Bibi sering mendengar Non Anya teleponan dengan seseorang."


"Alhamdulillah deh kalau begitu. Mungkin Anya sudah punya pacar, makanya sikap Anya berubah," ujar Abi.


"Semoga saja begitu, karena Bibi ngeri juga lihat Non Anya yang sering senyum-senyum sendiri."


"Bi, mungkin Anya sedang jatuh cinta, makanya Anya senyum-senyum sendiri," ujar Laras, kemudian semuanya melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah.


Laras dan Abi langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, apalagi Laras terlihat lemas karena beberapa kali muntah saat di perjalanan.


"Sayang, sebaiknya kita periksa keadaan Laras ke Dokter ya, tidak biasanya Laras sampai mabuk kendaraan seperti tadi," ujar Abi dengan memijit kening Laras yang masih terasa pusing.


"Mungkin Laras hanya kecapean saja Mas, istirahat sebentar juga pasti langsung sembuh. Mas sebaiknya istirahat juga, kasihan Mas pasti lebih cape dari Laras karena Mas kan habis nyetir."


"Nanti Mas tidurnya kalau Laras udah tidur," ujar Abi dengan terus memijit serta mengelus kepala Laras sampai akhirnya Laras tertidur.


Setelah Laras tertidur, Abi pun menyusul Laras menuju alam mimpi.


......................


Semakin hari, Anya dan Rahman semakin dekat, apalagi setiap malam mereka sering telponan untuk mengobrol.


"Anya, makan siang dulu yuk," ajak Rahman dengan menghampiri Anya di meja nya.


"Bentar lagi Mas tanggung, kerjaan Anya masih belum beres."


"Sini aku bantu," ujar Rahman, kemudian duduk di depan meja komputer Anya.

__ADS_1


"Mas Rahman, tadi Anya iseng-iseng bikin puding, Mas mau cobain tidak?" tanya Anya.


"Kamu rajin banget sih bikin puding segala?"


"Anya sengaja belajar masak supaya bisa menjadi istri yang baik kalau sudah menikah," ujar Anya dengan malu-malu.


"Pasti laki-laki yang menikahi kamu adalah lelaki beruntung, karena sampai sekarang Mawar tidak pernah mau belajar memasak."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang Anya suapi pudingnya ya, Mas Rahman pasti udah lapar kan?" ujar Anya, kemudian menyuapi Rahman, dan Rahman tidak menolak perlakuan Anya terhadapnya, karena Rahman juga merasa nyaman saat dekat dengan Anya.


"Kamu juga makan dong, sini aku suapi juga, puding buatan kamu ternyata enak juga ya, kamu pasti buatnya dengan cinta ya kan?" ujar Rahman, dan Anya tersipu malu mendengar perkataan Rahman.


Saat ini semua staf administrasi sedang ke luar untuk istirahat makan siang, makanya Rahman dan Anya lebih leluasa untuk mengobrol.


"Anya, apa sekarang kamu masih memiliki perasaan kepada Tuan Abi?" tanya Rahman.


"Entahlah Mas, karena sepertinya sekarang Anya memiliki perasaan terhadap seseorang selain Kak Abi."


"Bagus deh, kasihan juga kalau Tuan Abi dan istrinya sampai berpisah."


"Tapi lelaki yang sekarang Anya sukai sudah memiliki istri juga. Jadi, sepertinya Anya harus berusaha melupakannya."


"Lelaki itu_, rahasia dong," ujar Anya, karena Anya takut jika Rahman tidak memiliki perasaan yang sama.


"Hemm, sekarang sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya sama aku? kalau begitu aku bakalan kasih hukuman," ujar Rahman dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Anya, sehingga jantung Anya sudah berdebar-debar, karena mengira jika Rahman akan menciumnya.


"Ini hukumannya," ujar Rahman dengan menggelitik pinggang Anya, sehingga Anya tertawa lepas, dan minta ampun kepada Rahman.


"Ampun Mas, ampun, udah berhenti, aku gak kuat, gimana kalau nanti aku sampai pipis di celana," ujar Anya dengan terus tertawa.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu ruang kerja Anya dan Rahman.


Setelah Anya menyuruhnya masuk, orang yang mengetuk pintu pun masuk, dan itu adalah OB yang Anya suruh membeli nasi padang di depan.


"Bu, ini makanannya," ujar OB dengan memberikan kantong kresek yang berisi kotak makanan kepada Anya.

__ADS_1


"Makasih ya Mas, kembaliannya buat Mas aja," ujar Anya.


"Terimakasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu," ujar OB, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari ruang staf administrasi.


"Mas, makan siang dulu yuk," ajak Anya kepada Rahman.


"Kamu kapan pesannya?"


"Tadi sebelum istirahat, aku sengaja nyuruh OB beli ke depan, soalnya kalau kita ke depan dulu, nanti gak bakalan keburu makan siang, karena waktu istirahatnya pasti keburu habis," jawab Anya.


"Makasih banyak ya, kamu memang pengertian," ucap Rahman.


"Seharusnya aku yang bilang makasih, karena Mas Rahman selalu membantu pekerjaanku," ujar Anya, kemudian menyuapi Rahman makan, karena saat ini Rahman masih mengerjakan pekerjaan Anya.


Rahman sesekali mencuri pandang terhadap Anya, karena Rahman juga memiliki perasaan yang sama dengan Anya, tapi Rahman sadar betul dengan statusnya saat ini, apalagi Rahman takut jika persahabatannya dengan Anya rusak karena rasa cinta yang ia miliki.


"Anya, kamu makan juga dong, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Sekarang kerjaan kamu udah beres, jadi giliran kamu yang aku suapi," ujar Rahman, kemudian menyuapi Anya, dan Anya terus menatap lekat wajah Rahman dengan jantung yang berdetak kencang.


Apa aku sudah benar-benar jatuh cinta sama Mas Rahman? kamu harus bisa membuang perasaan ini Anya, bagaimanapun juga Mas Rahman adalah Suami Mawar, jadi tidak seharusnya kamu menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Kenapa sih aku selalu jatuh cinta dengan orang yang salah? batin Anya kini berada dalam dilema.


"Anya, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rahman yang melihat Anya terus saja melamun.


"Anya baik-baik saja Mas. Makasih banyak ya atas semuanya."


"Iya sama-sama, gak usah terus bilang terimakasih, kayak sama siapa aja. Ya sudah, kalau begitu sekarang aku kembali ke meja ku lagi ya," ujar Rahman, kemudian Anya dan Rahman sama-sama berdiri untuk bertukar tempat duduk, tapi Anya yang hilang keseimbangan tiba-tiba menabrak tubuh Rahman hingga keduanya terjatuh di atas lantai dengan posisi Rahman berada di bawah Anya, dan bibir keduanya yang saling menempel.


Rahman yang sudah tidak bisa menahan perasaannya kepada Anya, langsung menekan tengkuk leher Anya, sehingga membuat ciuman mereka semakin dalam.


Rahman tidak mengira jika Anya membalas ciumannya, dan saat ini keduanya terhanyut dalam permainan yang mereka buat.


Tet..tet..tet.


Suara bel masuk terdengar berbunyi, sehingga membuat keduanya tersadar dengan perbuatan yang mereka lakukan.


Rahman membantu Anya bangun dari atas tubuhnya, dan akhirnya Rahman mengungkapkan perasaan yang ia miliki terhadap Anya.

__ADS_1


"Anya, Maafkan aku, aku tidak bisa menahan perasaanku, karena ternyata aku sudah jatuh cinta sama kamu," ucap Rahman dengan lirih, kemudian kembali duduk di kursinya, sedangkan saat ini Anya terus memegangi bibirnya dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.


Apa barusan hanya halusinasiku saja saat mendengar Mas Rahman mengatakan perasaannya kepadaku? batin Anya kini bertanya-tanya.


__ADS_2