Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 40 ( Kenapa harus Laras? )


__ADS_3

Tuan Dirga memutuskan akan pergi ke Pabrik terlebih dahulu untuk bertemu dengan Abi, dan Tuan Dirga juga ingin mencari keberadaan Laras.


"Oh iya Pa, sekarang Papa mau langsung pulang atau mau ke mana dulu?" tanya Anya.


"Papa sepertinya akan ke Pabrik dulu untuk menemui Abi dan keluarganya, Papa belum mengucapkan selamat atas pernikahannya, sekarang kan Anya tidak akan marah kalau Papa mengucapkan selamat pada Abi dan istrinya."


"Tentu saja, karena sekarang Anya sudah memiliki Mas Rahman, jadi Anya tidak akan memikirkan Kak Abi lagi."


"Papa bahagia kalau kalian berdua bahagia, dan ini Papa kasih sebagai kado pernikahan untuk kalian," ujar Tuan Dirga dengan memberikan sebuah kartu ATM yang berisi uang senilai dua ratus juta rupiah.


"Terimakasih banyak Pa, Papa memang yang terbaik, apalagi minggu depan Anya akan berlibur ke Bali. Tidak apa-apa kan kalau Anya memakai jet pribadi milik Dirgantara Grup?"


"Tidak apa-apa sayang, itu semua kan milik Anya juga, jadi Anya tidak perlu sungkan jika menginginkan sesuatu. Kalau begitu Papa pulang sekarang ya, selamat bersenang-senang untuk kalian berdua. Semoga Papa juga bisa segera menimang Cucu dari Anya," ujar Tuan Dirga dengan memeluk tubuh Anya.


"Semoga saja Pa, Anya juga berharap seperti itu."


"Rahman, saya titip Putri saya, tolong kamu jaga dan jangan pernah sakiti Anya," ujar Tuan Dirga dengan menepuk bahu Rahman, kemudian Tuan Dirga menyuruh Supirnya untuk melajukan mobilnya menuju Abimana Grup.


Tuan Dirga sengaja tidak memberitahukan kepada Abi tentang kedatangannya karena berpikir ingin memberi kejutan untuk Abi dan keluarganya.


"Abi pasti akan terkejut jika aku datang ke rumahnya. Aku juga akan sekalian mencari keberadaan Laras, karena Mawar bilang kalau Laras pujaan hatiku, bekerja di Abimana Grup juga," gumam Tuan Dirga dengan terus mengembangkan senyuman.


Setelah menempuh dua jam perjalanan, Tuan Dirga sampai di rumah Abi dan Laras.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bi, Mang," ucap Tuan Dirga yang melihat Bi Surti dan Mang Diman sedang mengajak Daffa bermain di halaman rumah.


"Wa'alaikumsalam, Tuan Besar, kenapa mau ke sini tidak bilang dulu? tau begitu, saya pasti masak buat Tuan," ujar Bi Surti.


"Tidak perlu merepotkan Bi, saya juga ke sini cuma mampir sebentar kok, pengen ketemu Abi sama Menantu saya. Oh iya Bi, apa ini adalah Anak sambung Abi?" tanya Tuan Dirga saat melihat Daffa.


"Iya Tuan, ini namanya Den Daffa, kalau begitu silahkan Tuan masuk, biar saya panggilkan Tuan muda," ujar Bi Surti kemudian masuk ke dalam rumah untuk memanggil Abi dan Laras.


Kenapa aku merasa pernah melihat Anak sambung Abi ya? tapi di mana? batin Tuan Dirga kini bertanya-tanya.


Bi Surti mempersilahkan Tuan Dirga untuk duduk, dan beberapa saat kemudian Abi dan Laras ke luar dari dalam kamar mereka.


Tuan Dirga begitu terkejut ketika melihat Laras yang saat ini digandeng oleh Abi, begitu juga dengan Laras.


"Assalamu'alaikum Pa," ucap Abi dengan memeluk tubuh Tuan Dirga.


Jadi Tuan Dirga selingkuhan Mawar adalah Papa Mas Abi? kenapa harus lelaki hidung belang itu yang menjadi Mertuaku. Mas Abi pasti sedih jika mengetahui kalau Papanya adalah seorang Buaya darat, padahal Mas Abi selalu membangga-banggakan Papanya yang setia terhadap Mamanya. Sebaiknya aku berpura-pura tidak mengenal Tuan Dirga saja, karena aku tidak mau membuat Mas Abi sakit hati jika mengetahui tentang semua kebenarannya, batin Laras.


"Wa'alaikumsalam Nak," jawab Tuan Dirga yang masih saja terlihat bingung ketika melihat perempuan yang dirinya cintai berada di samping Anak angkatnya.


"Bagaimana kabar Papa? kenapa Papa tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau Papa mau datang ke sini?"


"Papa baik Nak, kebetulan Papa baru pulang menghadiri acara seminar yang di adakan di Puncak, bahkan tadi Papa bertemu dengan Adik kamu di sana. Makanya Papa langsung ke sini untuk memberi kejutan kepada kalian." Tapi ternyata Papa yang diberi kejutan oleh kalian, lanjut Tuan Dirga dalam hati.

__ADS_1


"Abi sampai lupa mengenalkan istri Abi. Pa, ini Laras istrinya Abi, dan sayang, kenalin ini Papa Dirga, Papa yang selalu membuat aku bangga," ujar Abi dengan terus mengembangkan senyuman.


Seandainya Mas Abi tau kelakuan bejat Papanya, pasti hati Mas Abi akan sangat hancur dan Mas Abi tidak akan terus membangga-banggakan Papanya, batin Laras.


Laras mencium punggung tangan Tuan Dirga, karena bagaimanapun juga Tuan Dirga telah menjadi Mertuanya.


Kenapa harus Laras? kenapa harus perempuan yang aku cintai yang menjadi istrinya Abi? bagaimana ini, aku merasa tidak rela melihat Laras bersanding dengan lelaki lain, terlebih lagi lelaki itu adalah Anak angkatku yang sudah aku anggap seperti Anak kandungku sendiri, batin Tuan Dirga.


"Sayang, Ayah ambil dulu air minum buat Papa ya, Bunda tunggu di sini. Ingat, Bunda jangan banyak gerak, karena saat ini Bunda masih hamil muda," ujar Abi, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minuman, karena Abi tidak mau mengganggu Bi Surti yang sedang menyetrika.


Degg


Jantung Tuan Dirga rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Abi.


Jadi sekarang Laras sedang hamil Anak Abi? aku masih tidak rela perempuan yang aku cintai menjadi Menantuku, tapi aku tidak mungkin berebut seorang perempuan dengan Anakku sendiri. Aku harus bagaimana? batin Tuan Dirga saat ini berada dalam dilema.


Ketika Laras hendak duduk, Tuan Dirga tiba-tiba memegang tangan Laras.


"Laras tunggu, kita harus berbicara, karena aku tidak rela kamu menikah dengan Abi," ujar Tuan Dirga.


"Jaga batasan Anda Tuan, saya menghargai Anda karena Anda adalah Ayah dari Suami saya, tapi jika Anda berbuat tidak sopan, saya tidak akan segan-segan mengatakan kepada Mas Abi tentang perselingkuhan Anda dengan Mawar," ujar Laras yang merasa kesal terhadap Tuan Dirga.


"Laras, aku sangat mencintai kamu. Kenapa kamu menikah dengan lelaki lain? terlebih lagi lelaki itu adalah Anakku sendiri. Kamu benar-benar sudah membuatku patah hati Laras."

__ADS_1


"Harusnya Anda sadar dengan yang Anda ucapkan Tuan, apa Anda tidak malu berkata seperti itu? saya lebih pantas menjadi Anak Anda, tapi sepertinya Anda tidak tau umur. Sekarang ini saya adalah Menantu Anda, dan tolong jaga sikap Anda. Kasihan sekali Mas Abi pasti kecewa jika sampai mengetahui kelakuan bejat Ayah yang selalu dia bangga-banggakan," sindir Laras dengan tersenyum mengejek.


__ADS_2