Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 17 ( Pembalasan Reza )


__ADS_3

Mawar memilih menjadi staf administrasi memegang Line Laras, supaya Mawar bisa dengan mudah mengerjai Laras, sedangkan Rahman menjadi staf administrasi di Kantor.


"Sekarang aku bisa dengan mudah mengerjai kamu Laras," gumam Mawar dengan tersenyum licik.


Mawar terus memikirkan rencana jahat terhadap Laras, tapi Abi selalu waspada untuk menjaga Laras dari kejahatan Mawar.


"Laras, kamu harus hati-hati terhadap Mawar, karena aku yakin kalau dia mempunyai rencana jahat terhadapmu," ujar Abi ketika Abi dan Laras istirahat makan siang.


"Terimakasih atas perhatiannya ya Mas. Laras tau kalau Mawar pasti sengaja meminta di tempatkan menjadi staf administrasi di line Laras, tapi Mas Abi tenang saja, karena Laras tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Laras lagi, termasuk Mawar, karena Laras yang sekarang bukan Laras yang dulu lagi."


"Aku percaya kamu bisa mengatasi Mawar, dan aku tidak akan membiarkan Mawar berhasil menyakiti kamu lagi," ujar Abi, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Laras, sehingga jantung Laras berpacu dengan cepat.


"Mas mau ngapain?" tanya Laras dengan gugup."


"Kamu kalau makan itu yang bener, kayak Anak kecil saja sampai belepotan begini," ujar Abi dengan mengusap lembut sudut bibir Laras menggunakan jempolnya.


"Terimakasih," ucap Laras dengan wajah bersemu merah.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita masuk, sebentar lagi bel masuk pasti berbunyi," ujar Abi.


Saat ini Laras dan Abi berjalan masuk ke dalam pabrik sambil mengobrol. Mereka berdua terlihat bercanda dan tertawa, sehingga membuat Mawar merasa iri dengan kehidupan Laras yang terlihat bahagia.


Mawar sengaja menumpahkan air di depan meja kerjanya, karena Laras pasti akan lewat ke sana.


"Kamu pasti akan jatuh Kakakku tersayang," gumam Mawar dengan tersenyum licik.


Laras yang tidak melihat genangan air di teras, akhirnya terpeleset, dan Mawar yang melihatnya sudah tersenyum bahagia.


"Laras awas," teriak Abi, kemudian dengan sigap menangkap tubuh Laras.


"Laras, kamu baik-baik saja kan? kenapa bisa ada air yang tumpah di atas lantai? ini pasti perbuatan kamu kan Mawar? kamu sengaja ingin mencelakai Laras?" ujar Abi.


"Kamu tidak boleh menuduh tanpa bukti. Memangnya kamu punya bukti apa hemm?"

__ADS_1


"Kamu ingin bukti? bagaimana kalau kita cek rekaman CCTV? di sini pasti banyak CCTV kan? jadi kita bisa melihat siapa yang sudah menumpahkan air di lantai," ujar Abi.


Sial, kenapa aku tidak ingat kalau di sini ada CCTV? aku pasti akan terbukti bersalah kalau sampai mereka melihat CCTV, batin Mawar.


Laras sebenarnya merasa sedih karena sekarang hanya ada rasa benci pada hati Mawar terhadap dirinya, padahal dulu Laras dan Mawar saling menyayangi.


Mawar, kenapa hubungan persaudaraan kita menjadi seperti ini? Kakak kangen Mawar yang dulu. Kenapa sekarang kamu menjadi berubah? ucap Laras dalam hati dengan menitikkan airmata.


"Laras, sebaiknya kita ke ruang CCTV untuk mencari bukti kejahatan Mawar."


"Sudahlah Mas jangan diperpanjang lagi, aku juga tidak apa-apa."


"Kamu tidak apa-apa karena tadi aku berhasil menangkap tubuhmu. Bagaimana kalau tadi tidak ada aku di samping kamu, pasti kamu sudah jatuh Laras.


"Selama ada Mas Abi di samping Laras, Laras pasti akan baik-baik saja," ucap Laras dengan tersenyum, sehingga membuat Abi menjadi salah tingkah.


Aku pasti tidak akan bisa mengerjai Laras jika masih ada Abi di sampingnya. Aku harus memikirkan cara supaya bisa memisahkan Abi dengan Laras, batin Mawar.


......................


Sebaiknya aku berbicara kepada Manager supaya mengijinkanku pulang, entah kenapa perasaanku tidak enak, batin Abi, kemudian mencari Manager untuk meminta ijin pulang, karena saat ini Abi hanyalah Karyawan biasa.


Laras yang sudah sampai rumah, mengucapkan Salam ketika hendak masuk ke dalam rumah, dan ternyata Anggi sudah bersiap untuk berangkat kerja, di sana juga terlihat ada Reza yang sedang memainkan handphonenya.


"Anggi, Daffa lagi tidur ya?" ujar Laras yang tidak melihat keberadaan Daffa.


"Iya Laras, Daffa baru saja tidur. Kalau begitu kami berangkat dulu ya," ujar Anggi.


Setelah Anggi dan Reza berangkat, Laras merebahkan diri terlebih dahulu sebelum membersihkan diri, bahkan Laras tidak sempat mengunci pintu.


Beberapa saat kemudian, setelah mengantar Anggi, Reza kembali ke rumah kontrakan untuk melancarkan aksinya menggoda Laras, dan Reza langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah kontrakan.


Laras yang ketiduran, akhirnya terbangun karena merasakan ada seseorang yang menggerayangi tubuhnya.

__ADS_1


"Reza, apa-apaan kamu? berani sekali kamu menyentuhku," teriak Laras kemudian menampar Reza, tapi Reza langsung membungkam mulut Laras menggunakan tangannya.


"Diam kamu Laras, dulu kamu sudah mempermalukanku di depan Anggi, dan sekarang aku akan membalas perbuatan kamu. Kamu juga pasti kesepian kan? jadi aku akan memberikan kamu kehangatan," ujar Reza yang sudah tidak sabar untuk melampiaskan hasratnya kepada Laras, sampai-sampai Reza menarik kemeja Laras hingga kancingnya berserakan di lantai.


Laras terus memberontak, bahkan Laras sempat menendang dan juga mencakar Reza, tapi tenaga Laras tidak sebanding dengan Reza, sampai akhirnya Reza berhasil melepas kemeja Laras.


Laras sudah menangis karena saat ini dirinya tidak berdaya, dan Laras terus berdo'a semoga ada seseorang yang menolongnya.


Brak


Suara pintu terbuka karena tendangan seseorang, dan orang itu adalah Abi.


Abi sempat mendengar suara Laras yang berteriak minta tolong, dan Abi berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan Laras.


"Dasar lelaki bajingan, bisa-bisanya kamu berbuat tidak senonoh terhadap perempuan yang aku cintai," ujar Abi dengan menarik tubuh Reza yang berada di atas tubuh Laras, kemudian Abi membabi buta memukuli Reza.


"Berani sekali kamu memukuliku, kamu tidak tau siapa aku hemm?" teriak Reza kemudian membalas pukulan Abi.


"Siapa pun kamu, aku tidak peduli. Jika kamu berani menyentuh orang-orang yang aku sayangi, aku tidak akan tinggal diam saja."


Laras yang masih ketakutan terus duduk dipojokan dengan menangis.


"Sekarang kamu pergi dari sini sebelum kesabaranku habis. Kalau sampai aku melihat kamu datang ke sini lagi, aku tidak akan segan-segan mematahkan kaki dan tanganmu," ujar Abi yang sudah berhasil mengalahkan Reza sampai babak belur.


Reza lari terbirit-birit karena takut dengan perkataan Abi, dan Abi yang melihat Laras ketakutan, secara perlahan mendekati Laras.


"Jangan sentuh aku," teriak Laras dengan menangis saat Abi memegang bahunya.


"Laras ini aku, aku tidak akan pernah menyakitimu. Maaf aku baru datang," ujar Abi.


"Mas Abi," ucap Laras dengan mendongakkan wajahnya melihat Abi, kemudian Laras memeluk tubuh Abi dengan erat.


"Kamu jangan takut Laras. sekarang kamu sudah aman, dan aku akan selalu menjagamu," ujar Abi dengan mengelus lembut rambut Laras.

__ADS_1


"Mas Abi, terimakasih banyak ya, Mas sudah menyelamatkan Laras. Laras tidak tau apa jadinya seandainya Mas Abi tidak datang menyelamatkan Laras."


"Laras, aku akan selalu menjaga kamu dan Daffa, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian."


__ADS_2