Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 45 ( Di atas langit, masih ada langit )


__ADS_3

Hati Mawar terasa hancur ketika mendengar perkataan Rahman, karena ternyata di mata Rahman, Mawar hanyalah sebuah batu kerikil yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Laras yang Rahman anggap sebagai berlian.


Apa yang harus aku lakukan? Mas Rahman sudah berubah, dan sekarang aku sudah tidak memiliki tempat untuk mengadu, karena setelah kedua orangtuaku meninggal dunia, hanya Kak Laras yang aku miliki, tapi aku sudah menyakiti keluargaku satu-satunya. Sekarang rasanya aku sudah hidup sebatang kara. Kamu harus tenang Mawar, kamu masih memiliki Om Dirga dan Anya yang bisa kamu andalkan, batin Mawar.


Mawar kemudian mencoba menelpon Tuan Dirga, tapi Mawar tidak dapat menghubunginya, karena Tuan Dirga sudah memblokir nomor Mawar.


"Om Dirga kemana sih? padahal aku pengen curhat sekalian minta uang bulanan. Sebaiknya sekarang aku telpon Anya saja," gumam Mawar, kemudian Mawar menekan nomor Anya, tapi nomor Anya sibuk, karena saat ini Anya sedang telponan dengan Rahman.


"Kenapa sih orang-orang tidak ada ketika aku membutuhkan mereka?" gumam Mawar yang merasa kesal, apalagi ketika Mawar melihat sekeliling rumahnya yang seperti kapal pecah, sampai akhirnya Mawar memutuskan untuk membereskan rumah sebelum Rahman memarahinya.


"Ternyata beres-beres rumah capek juga ya, sebaiknya aku istirahat dulu," ujar Mawar dengan membaringkan tubuhnya di atas sofa, sampai akhirnya Mawar pun ketiduran.


......................


Keesokan paginya, Rahman yang baru ke luar dari dalam kamarnya merasa kesal ketika melihat Mawar yang masih tertidur di atas sofa, karena semalam Rahman tidak memindahkan Mawar ke dalam kamar.


"Mawar bangun," teriak Rahman, dan saat ini Rahman sudah bersiap untuk berangkat bekerja.


"Mas, memangnya sekarang sudah jam berapa?"


"Kamu lihat sendiri sekarang sudah jam enam. Seharusnya sebagai seorang istri, kamu sudah menyiapkan semua kebutuhanku, jangankan nyiapin sarapan, bangun saja kamu harus aku bangunin. Kalau begitu kamu berangkat kerja naik angkot saja, aku mau berangkat sekarang," ujar Rahman dengan melangkahkan kaki ke luar dari dalam rumahnya, tanpa memperdulikan Mawar yang terus berteriak meminta Rahman supaya menunggunya.


Setelah sampai Pabrik, Rahman langsung menyunggingkan senyuman, karena saat ini Anya sudah terlihat menunggunya dengan membawakan makanan untuk mereka sarapan.


"Sayang, maaf ya kamu pasti lama menunggu kedatanganku," ujar Rahman dengan memeluk tubuh Anya.


"Tidak apa-apa Mas, kasihan Mas Rahman pasti masih cape karena kita baru pulang kemarin. Sekarang sebaiknya kita sarapan dulu, Mas pasti belum sarapan kan?" ujar Anya dengan mengajak Rahman duduk.


"Bagaimana aku mau sarapan, Mawar saja baru bangun karena aku bangunin. Aku kesel banget sama dia, seharusnya dari dulu aku bersikap tegas sama Mawar supaya Mawar tidak bersikap seenaknya."


"Mas, untuk sekarang sebaiknya kita baik-baikin dulu si Mawar, sebentar lagi kita kan mau honeymoon ke Bali, kalau Mas galak-galak sama Mawar, nanti dia gak mau berangkat, dan kita juga gak bakalan bisa berangkat, karena Mawar pasti curiga kalau kita hanya liburan berdua saja."

__ADS_1


"Iya juga sih, nanti dia pasti bakalan curiga tentang hubungan kita. Aku udah gak sabar ingin mengatakan tentang hubungan kita kepada Mawar," ujar Rahman dengan kembali memeluk tubuh Anya.


Aku sebenarnya bahagia kalau melihat Mawar menderita, tapi setelah melihat kondisi Nisa, aku jadi takut kalau Mawar akan berbuat nekad seperti Nisa. Jadi, untuk saat ini, aku akan membiarkan Mawar menikmati hari-hari terakhirnya bersama Mas Rahman, batin Anya dengan tersenyum licik.


......................


Hari ini Abi akan mengungkap jati dirinya sebagai pemilik perusahaan, dan Abi tengah bersiap untuk berangkat menuju Pabrik.


"Sayang, gak apa-apa kan Ayah ke pabrik dulu?" tanya Abi kepada Laras yang saat ini tengah sarapan bersamanya, karena sekarang kondisi Laras sudah mulai membaik setelah meminum obat dari Dokter kandungan, juga susu untuk mengurangi mual dan muntah.


"Gak apa-apa Yah, lagian jarak dari sini ke Pabrik cuma beberapa langkah saja. Ngomong-ngomong sekarang teknisi tampan penampilannya sudah berbeda ya," ujar Laras dengan tersenyum.


"Sekarang kan mandor cantik nya sudah berhasil Ayah dapatkan, jadi tidak ada alasan untuk menyembunyikan identitas Ayah yang sebenarnya."


Laras sebenarnya merasa khawatir, karena Laras takut jika Abi akan berselingkuh darinya seperti yang dulu pernah Rahman lakukan.


"Sayang, Ayah tau kalau Bunda merasa khawatir kan kalau Ayah sampai berbuat macam-macam seperti yang dulu pernah Rahman lakukan?"


"Maaf Yah, tidak seharusnya Bunda mempunyai pikiran seperti itu, karena dasar dari sebuah rumah tangga adalah saling jujur dan saling percaya."


"Makasih banyak ya Yah, Ayah selalu mengerti Bunda."


"Bunda jangan terlalu banyak pikiran ya, niat Ayah membina rumah tangga adalah ibadah, dan setelah menikah, seorang Suami memiliki kewajiban untuk membahagiakan istri dan juga Anak-anaknya, insyaallah rezeki Ayah juga akan semakin berlimpah, karena kebahagiaan Bunda adalah prioritas yang paling utama. Jika Ayah sampai menyakiti hati Bunda, berarti Ayah telah menyakiti diri sendiri, karena seorang istri dibuat dari tulang rusuk Suaminya," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras.


Setelah selesai sarapan, Abi pamit kepada Laras, kemudian melangkahkan kaki menuju pabrik.


Mawar yang datang terlambat sampai menubruk Abi karena jalan dengan terburu-buru.


"Kalau jalan itu pake mata, aku jadi terlambat gara-gara kamu," ujar Mawar yang malah menyalahkan Abi.


"Dimana-mana jalan itu pake kaki," ujar Abi yang merasa kesal terhadap Mawar.

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu untuk meladeni karyawan rendahan seperti kamu," ujar Mawar dengan angkuhnya.


"Ingat Mawar, di atas langit masih ada langit. Seharusnya kamu tidak bersikap sombong, karena kesombongan hanya akan membawa kamu menuju kehancuran," ujar Abi dengan melangkahkan kaki menuju ruang Manager.


"Kamu hanya seorang teknisi, jadi kamu tidak usah belagu," teriak Mawar, kemudian masuk ke dalam Pabrik.


......................


"Selamat pagi Tuan," ucap Manager ketika melihat Abi masuk ke dalam ruangannya.


"Pagi Pak. Bagaimana kondisi Pabrik sekarang? sejak istri saya hamil, saya belum mengeceknya," ujar Abi.


Manager memberikan laporan keuangan kepada Abi, kemudian Abi memeriksanya secara teliti.


"Alhamdulillah, semakin hari omset kita semakin meningkat," ucap Abi.


"Mungkin karena Tuan akan memiliki bayi, jadi rezeki Tuan semakin banyak," ujar Manager.


"Iya Pak, Alhamdulillah, ternyata benar kalau banyak Anak banyak rezeki, dan setelah menikah rezeki saya semakin bertambah."


"Tuan, apa sekarang Tuan sudah siap untuk memperkenalkan diri sebagai pemilik Pabrik?"


"Iya Pak, sekarang sudah saatnya saya mengungkap identitas saya yang sebenarnya."


"Kalau begitu, mari saya antar Tuan untuk menemui semua Karyawan," ujar Manager dengan mempersilahkan Abi berjalan terlebih dahulu.


Semua mata kini menatap heran kepada Abi, karena sebelumnya Abi hanya seorang teknisi dengan penampilan sederhana, tapi sekarang penampilan Abi berubah, dan terlihat seperti seorang Bos.


"Ngapain sih si teknisi sok-soan jalan bareng dengan Manager, pake merubah penampilan segala, kalau udah miskin ya miskin aja, gak usah berlaga seperti Bos," gumam Mawar yang merasa kesal melihat Abi.


Manager meminta perhatiannya kepada semua Karyawan, karena Manager akan mengumumkan tentang siapa Abi sebenarnya.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya, kalian sebelumnya pasti sudah mengenal orang yang saat ini berada di samping saya sebagai salah satu teknisi di Pabrik ini, tapi sekarang saya akan mengumumkan tentang siapa identitas sebenarnya Tuan Abi. Tuan Abi sebenarnya adalah pemilik Abimana Grup, dan beliau sengaja berpura-pura menjadi teknisi supaya bisa menilai sendiri kinerja Karyawan," ujar Manager, sontak saja semuanya merasa terkejut dengan yang dikatakan oleh Manager, apalagi Mawar, dan Mawar begitu syok saat mengetahui identitas Abi yang sebenarnya.


"A_apa?"


__ADS_2