
Saat ini Anya yang merasa putus asa menumpahkan tangisannya dalam pelukan Rahman, karena Anya begitu menginginkan Abi memeluk tubuhnya untuk menenangkannya, sehingga dalam pandangan Anya, Rahman adalah Abi.
"Kak Abi, kenapa Kak Abi tega melakukan semua ini sama Anya? padahal Anya sangat mencintai Kak Abi."
"Anya sadar, aku buka Abi, aku Rahman. Jangan seperti ini, aku tidak mau kalau ada orang yang salah paham dengan hubungan kita."
Anya mendongakkan wajahnya melihat Rahman, dan Anya langsung melepaskan pelukannya terhadap Rahman dengan perasaaan malu.
"Maaf Mas Rahman, Anya tadi mengira jika Mas Rahman adalah Kak Abi."
"Tidak ada apa-apa, tapi jika memang kamu memiliki masalah, kamu bisa menceritakannya kepadaku, dan kamu juga bisa menganggap aku sebagai teman," ujar Rahman dengan mengelus lembut kepala Anya, sehingga Anya yang merasa haus dengan kasih sayang merasa nyaman mendapatkan perhatian dari Rahman.
"Terimakasih banyak ya Mas, Mas Rahman sudah perhatian terhadap Anya."
"Iya sama-sama, kamu jangan sungkan ya kalau mau cerita, siapa tau kamu akan merasa lebih baik jika menceritakan semuanya. Sekarang sebaiknya kamu minum dulu supaya merasa lebih tenang," ujar Rahman dengan memberikan segelas air putih kepada Anya.
"Terimakasih," ucap Anya dengan lirih.
Anya yang mulai merasa nyaman dengan Rahman, akhirnya bercerita tentang kekesalan dirinya kepada Abi dan juga keluarga kecilnya yang telah memamerkan kemesraan lewat sosial media, karena kebetulan sekarang sudah jam istirahat makan siang. Jadi, Anya dan Rahman bisa leluasa untuk mengobrol.
"Anya aku tau apa yang kamu rasakan, karena sebenarnya aku juga masih merasa cemburu apabila melihat mantan istriku bersama Suami barunya, tapi aku mencoba ikhlas untuk melepaskan dia bahagia dengan oranglain, karena aku sendiri yang sudah mengkhianati dia."
"Kenapa ya mas, sangat sulit sekali melupakan orang yang kita cintai?"
"Itu karena kita belum bisa move on dan mencoba membuka hati untuk oranglain. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri, meski pun aku sudah menikah dengan Mawar, tapi semakin lama, aku semakin menyesal karena telah membuang berlian demi batu kerikil, karena sifat Mawar yang selalu kekanak-kanakan semakin membuat aku susah melupakan mantan istriku."
"Mas Rahman yang sabar ya," ucap Anya dengan mengelus punggung Rahman, dan Rahman merasakan desiran hangat pada tubuhnya.
"Eh, kenapa aku juga malah jadi curhat sama kamu ya," ujar Rahman yang juga merasakan kenyamanan mengatakan semuanya kepada Anya, karena selama menikah dengan Mawar, Mawar tidak pernah bisa di ajak berbicara.
__ADS_1
"Gak apa-apa Mas, Mas Rahman juga kalau ada apa-apa bisa cerita sama Anya, dengan begitu kita bisa saling berbagi, dan sekarang perasaan Anya sudah merasa lebih baik setelah menceritakan semuanya kepada Mas Rahman. Terimakasih ya Mas," ujar Anya yang reflek memegang erat tangan Rahman.
"Terimakasih juga ya Anya, kamu sudah mau menjadi teman curhatku, karena selama ini aku selalu memendamnya sendirian."
"Iya sama-sama. Eh sekarang udah jam makan siang ya, makan dulu yuk Mas. Mas Rahman biasanya makan di mana?"
"Aku dan Mawar biasanya makan di warung nasi padang yang ada di depan, selain rasanya enak, harganya juga murah. Apa kamu mau coba?"
"Aku belum pernah sih makan di warung kecil seperti itu, tapi boleh deh aku coba, siapa tau sesuai dengan seleraku, tapi tempat dan makanannya bersih kan?"
"Aku jamin, selain enak, makanannya juga higienis, tempatnya juga bersih, makanya aku tiap hari makan di sana."
Rahman dan Anya memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, dan Rahman sampai lupa tidak menghubungi Mawar, padahal dari tadi Mawar sudah puluhan kali menelpon Rahman, tapi Rahman tidak mengangkat telpon Mawar karena handphonenya ia silent.
Setelah Anya dan Rahman sampai di warung nasi padang, di sana sudah terlihat Mawar yang menunggu Rahman.
"Mas kemana saja sih? dari tadi aku telpon gak di angkat-angkat?"
"Terus Mas ngapain aja? kenapa baru ke luar sekarang? padahal dari tadi aku sudah nunggu di sini sampai lumutan," gerutu Anya.
Rahman terlihat berpikir, karena tidak mungkin Rahman mengatakan yang sebenarnya kepada Mawar jika sebenarnya Rahman habis mengobrol terlebih dahulu dengan Anya, karena Mawar pasti akan marah dan salah paham.
Anya yang mendengar pertanyaan Mawar sudah takut jika Rahman akan mengatakan yang sebenarnya, apalagi tadi Anya sempat memeluk Rahman.
Bagaimana ini? kalau sampai Mawar tau Mas Rahman dan aku habis mengobrol, dia pasti akan murka, ucap Anya dalam hati.
"Aku habis menyelesaikan laporan dulu, soalnya laporannya akan diperiksa setelah jam istirahat selesai. Untung saja ada Anya yang bantuin pekerjaan aku. Ya kan Anya?" ujar Rahman.
"I_iya bener Mawar, kami baru menyelesaikan laporan yang akan segera diperiksa oleh Manager," ujar Anya yang membenarkan perkataan Rahman, meski pun saat ini Anya terlihat gugup.
__ADS_1
"Oh, seperti itu. Terimakasih ya Anya, kamu sudah membantu Suamiku," ucap Mawar.
"Iya sama-sama Mawar, Mas Rahman kan Suami kamu, jadi sudah seharusnya aku membantu pekerjaan Suami teman aku."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita makan. Aku tadi udah pesen, Mas mau pesen apa."
"Aku lauknya sama Ayam bakar aja. Anya, kamu mau pesan apa? biar aku sekalian pesenin," ujar Rahman.
"Aku samain aja Mas, ini uangnya biar aku aja yang traktir kalian," ujar Anya dengan memberikan uang seratus ribu kepada Rahman.
"Gak usah Anya, kali ini biar aku saja yang traktir, kebetulan hari ini kami gajian," ujar Rahman dengan berlalu untuk memesan makanan.
Kenapa ya aku merasa Mas Rahman dan Anya terlihat dekat? padahal Mas Rahman baru mengenal Anya? aku mikir apa sih, gak mungkin Mas Rahman dan Anya sampai selingkuh, apalagi Anya sudah cinta mati sama Kakak angkatnya, begitu juga dengan Mas Rahman yang sangat mencintaiku, ucap Mawar dalam hati.
Anya terlihat ragu saat melihat nasi padang yang saat ini ada di hadapannya.
"Makanannya bersih kok, aku sama Mawar saja tiap hari makan di sini," ujar Rahman.
"Iya Anya, kamu tidak perlu ragu seperti itu, kalau kamu udah nyoba, pasti kamu bakalan ketagihan," tambah Mawar.
Anya secara perlahan mencoba memasukan makanan ke dalam mulutnya, dan ternyata sesuai dengan selera Anya, sampai akhirnya Anya makan dengan lahap.
"Ternyata rasanya enak sekali ya, kalau begitu tiap hari aku bakalan makan di sini saja," ujar Anya, dan Anya yang makan dengan cepat sampai tersedak makanan.
"Kamu kalau makan pelan-pelan Anya," ujar Rahman dengan menepuk perlahan tengkuk leher Anya.
"Ini minum dulu airnya," sambung Rahman dengan memberikan segelas teh manis dingin kepada Anya, tentu saja semua perlakuan Rahman kepada Anya membuat hati Mawar terasa sakit, tapi Mawar mencoba menahannya, karena tidak mau jika Anya sampai memutuskan hubungan persahabatannya dengannya.
"Terimakasih banyak ya Mas," ucap Anya yang merasa tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh Rahman, bahkan Anya merasakan getaran aneh dalam dadanya.
__ADS_1
Sabar Mawar, Mas Rahman pasti hanya menganggap Anya sebagai teman kerja saja. Kalau aku sampai marah sama Anya, bisa-bisa Anya tidak jadi memberikan semua yang aku minta sebagai imbalan untuk membantu memisahkan Mas Abi dengan istrinya, batin Mawar.