Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 38 ( Merestui pernikahan Anya dan Rahman )


__ADS_3

Rahman akhirnya terbangun setelah waktu menunjukan pukul delapan malam, dan Rahman langsung menyunggingkan senyuman ketika melihat Anya yang saat ini terlelap dengan memeluk tubuhnya.


Secara perlahan Rahman mendekatkan wajahnya dengan wajah Anya, kemudian Rahman mencium bibir ranum Anya, sehingga membuat Anya terbangun.


"Sayang, maaf ya aku sudah membangunkan kamu," ucap Rahman.


"Tidak apa-apa Mas, Anya juga udah lapar. Memangnya sekarang jam berapa?"


Rahman melihat jam tangan yang ia pakai, karena tadi Rahman ketiduran sampai lupa membuka jam tangannya.


"Sekarang udah jam delapan, kalau begitu kita cari makan dulu yuk, tapi Mas belum mandi, gak apa-apa kan kalau Mas mandi dulu?"


"Gak apa-apa kok, Mas mandi dulu aja," ujar Anya.


Anya yang merasa malas untuk turun ke bawah memilih untuk menelpon layanan hotel, kemudian Anya memesan beberapa makanan supaya di antar ke kamarnya.


Ketika Rahman ke luar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada, Anya begitu terpesona melihat roti sobek pada perut Rahman.


"Sepertinya roti sobeknya enak," ujar Anya dengan memegang perut Rahman.


"Sayang, katanya udah lapar? kenapa Anya malah menggoda Mas? bisa-bisa nanti Anya yang Mas makan," bisik Rahman, sehingga pipi Anya memerah seperi tomat.


Rahman kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Anya, kemudian Rahman mencium bibir Anya, sampai akhirnya kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut bertukar saliva.


Ketika Rahman hendak membuka pakaian Anya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok..tok..tok.


Rahman dan Anya terpaksa melepaskan ciuman mereka.


"Siapa sih yang ganggu," gerutu Rahman.


"Tunggu sebentar ya Mas, tadi Anya pesan makanan untuk kita, soalnya Anya males ke bawah," ujar Anya, kemudian membuka pintu dan mengambil makanan yang ia pesan.


"Sekarang kita mau ngapain dulu?" tanya Anya dengan malu-malu.

__ADS_1


"Mas mau makan kamu dulu aja," ujar Rahman dengan mengangkat tubuh Anya, kemudian membaringkannya di atas ranjang pengantin mereka.


Rahman kembali menyambar bibir Anya, dan bukan hanya itu saja, tapi Rahman menelusuri setiap jengkal tubuh Anya, sehingga membuat Anya mengeluarkan dessahan yang terdengar seksi di telinga Rahman dan membuat Rahman semakin bersemangat.


Saat ini keduanya sudah sama-sama polos, dan Rahman memulainya dengan mencium titik-titik sensitif pada tubuh Anya.


"Mas sakit," ucap Anya dengan menitikkan airmata ketika Rahman memulai permainannya.


"Tahan sebentar ya sayang, sakitnya gak lama kok," ujar Rahman.


Semakin lama rengekan sakit Anya berubah menjadi rengekan manja, sampai akhirnya terdengar suara dessahan dan errangan yang bersahutan menemani malam pertama Rahman dan Anya.


"Mas Rahman," teriak Mawar dengan terbangun dari tidurnya, karena Mawar kembali bermimpi Anya dan Rahman menikah.


"Kenapa aku selalu bermimpi tentang Mas Rahman dan Anya menikah ya? tidak mungkin mereka mengkhianatiku, ini semua pasti hanya mimpi buruk saja," gumam Mawar dengan mengeluarkan keringat yang membanjiri tubuhnya.


Mawar semakin gelisah ketika mengingat ucapan Abi yang mengatakan jika hasil merebut pasti akan ada yang merebut juga.


"Tidak, aku tidak boleh seperti ini, karma itu tidak ada, dan Mas Rahman tidak akan mungkin mengkhianati pernikahan kita, karena Mas Rahman sangat mencintaiku, bahkan Mas Rahman sampai rela menceraikan Kak Laras demi aku. Aku harus segera menyuruh Mas Rahman untuk mendaftarkan pernikahan kita, karena dulu kita hanya menikah siri," gumam Mawar.


......................


"Sayang, kamu masih sakit ya?" tanya Rahman ketika melihat Anya meringis kesakitan.


"Iya Mas, padahal dua jam lagi kita harus menghadiri seminar," jawab Anya.


"Ya sudah, kalau begitu Mas bantu Anya ke kamar mandi," ujar Rahman dengan menggendong tubuh Anya ke kamar mandi.


Setelah Anya dan Rahman selesai bersiap, mereka menuju tempat seminar yang tidak jauh dari Hotel tempat mereka menginap.


Rahman menggandeng Anya, dan mereka terus berpegangan tangan dengan erat, sampai akhirnya terdengar suara seseorang yang memanggil Anya.


"Anya sayang, kamu datang juga?" tanya Tuan Dirga.


Rahman yang mendengar lelaki paruh baya memanggil istrinya dengan panggilan sayang, langsung cemberut dan melepaskan pegangan tangannya terhadap Anya.

__ADS_1


"Papa," teriak Anya dengan berhambur memeluk tubuh Tuan Dirga.


Papa? jadi itu adalah Tuan Dirga? apa yang harus aku lakukan? bagaimana kalau Tuan Dirga sampai mengetahui pernikahanku dan Anya? beliau pasti akan marah dan mengatakan semuanya kepada Mawar, ucap Rahman dalam hati.


"Anya, siapa lelaki itu Nak, sepertinya dia sangat spesial?" tanya Tuan Dirga, karena dari tadi Tuan Dirga melihat Anya dan Rahman terus berpegangan tangan.


"Pa, Papa janji ya tidak akan marah sama Anya? Papa juga tidak boleh mengatakan tentang semua ini kepada siapa pun termasuk Mawar," ujar Anya.


"Iya sayang, Papa janji."


Anya kembali mendekati Rahman, kemudian Anya menggenggam erat tangan Rahman, dan mengajaknya menemui Tuan Dirga untuk ia kenalkan.


Rahman sudah menggelengkan kepalanya sebagai kode supaya Anya tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Tuan Dirga, tapi Anya yang sudah benar-benar mencintai Rahman, merasa tidak rela jika harus mengatakan bahwa Rahman adalah Suami Mawar.


"Pa, kenalin, ini namanya Mas Rahman, dan Mas Rahman adalah Suami Anya."


"A_apa maksud kamu Nak? apa dia adalah Rahman Suami Mawar?"


"Iya Pa, tapi Anya dan Mas Rahman saling mencintai, sehingga kami memutuskan untuk menikah, dan kemarin kami sudah menikah secara siri terlebih dahulu."


Tuan Dirga langsung mengacak rambutnya secara kasar karena beliau tidak mengerti dengan jalan pemikiran Anya.


Kenapa semuanya bisa seperti ini? kenapa Anya harus menikah dengan Suami Mawar, bagaimana kalau mereka sampai mengetahui perselingkuhan aku dengan Mawar? Anya bisa move on dari Abi, tapi malah merebut Suami oranglain. Apa mungkin semua ini adalah karma untuk Aku dan Mawar, karena pada kenyataannya, aku juga sudah berselingkuh dengan istri Rahman yang sekarang sudah menjadi Menantuku, batin Tuan Dirga berada dalam dilema.


"Pa, kenapa Papa diam aja, Papa tidak marah kan sama kami? Anya mohon sama Papa, tolong restui pernikahan kami, karena Mas Rahman adalah sumber kebahagiaan Anya."


"Sayang, sebaiknya kita duduk dulu, dan kita harus membicarakan tentang semua ini," ujar Tuan Dirga.


Setelah Tuan Dirga mengajak Anya dan Rahman duduk, Tuan Dirga kembali angkat suara.


"Nak, Papa memang kecewa sama kalian, tapi sekarang semuanya sudah terlambat, dan Papa tidak bisa melakukan apa pun lagi selain merestui pernikahan kalian."


Mata Anya langsung berbinar ketika mendengar perkataan Tuan Dirga.


"Makasih banyak Pa, Papa memang Papa terbaik di Dunia ini."

__ADS_1


"Sampai kapan kalian akan merahasiakan semua ini dari Mawar?"


"Mungkin sampai Mawar melahirkan Pa, karena nanti Mas Rahman harus memilih antara Anya atau Mawar," ujar Anya sehingga membuat Rahman merasa terkejut.


__ADS_2