
Setelah Laras dan Abi selesai membersihkan diri dan juga Shalat Dzuhur berjamaah, mereka baru ke luar dari dalam kamarnya untuk menemui Daffa dan juga makan siang.
Laras dan Abi sepakat masih akan menyembunyikan identitas Abi yang sebenarnya, apalagi Laras takut jika akan banyak karyawati di Pabrik yang mendekati Abi jika mengetahui kalau Abi adalah orang kaya, sedangkan Abi masih ingin menilai kinerja Karyawannya.
"Sepertinya istriku yang cantik ini sudah mulai jatuh cinta sama aku ya? kelihatannya takut sekali kalau ada perempuan lain yang merebut Suaminya," goda Abi, dan Laras hanya tersipu malu mendengarnya.
"Daffa sayang, udah makan belum?" tanya Abi ketika melihat Daffa yang saat ini sedang di ajak bermain oleh Bi Surti.
"Udah Mas, tadi Daffa makan banyak sekali ya Nak," jawab Bi Surti.
Abi dan Laras menciumi pipi Daffa yang semakin hari semakin chubby, dan Daffa yang melihat Abi, langsung merengek meminta digendong oleh Ayah sambungnya tersebut.
"Daffa kangen ya sama Ayah, sini Ayah gendong," ujar Abi, kemudian membawa Daffa duduk di meja makan, sedangkan Laras terlihat menyiapkan makan siang untuk Abi.
Anya yang melihat Abi dan Laras duduk di meja makan, langsung saja menghampiri mereka dan ikut bergabung untuk makan siang.
"Kalian kenapa sih baru ke luar dari dalam kamar? memangnya kalian gak kerja lagi?" tanya Anya yang terlihat kesal.
"Kami barusan habis kerja keras supaya Daffa bisa cepet punya Adik," jawab Abi dengan tersenyum, dan Anya yang mendengarnya langsung menjatuhkan gelas yang dia pegang.
Prang
Gelas yang Anya jatuhkan kini pecah di atas lantai.
"Non Anya tidak perlu sampai terkejut seperti itu. Mas Abi dan Neng Laras kan pasangan pengantin baru, wajar saja kalau mereka masih hangat-hangatnya," ujar Bi Surti dengan memunguti pecahan gelas yang berserakan di atas lantai.
"Bibi tau aja," ujar Abi dengan cengengesan.
"Tau lah, dulu Bibi sama Mamang juga kan pernah muda."
__ADS_1
"Besok Abi mau ngajak Laras sama Daffa pergi liburan, sekalian bulan madu juga., Kasihan istri Mas Abi yang cantik ini pasti cape kerja terus."
Anya yang masih belum menerima pernikahan Abi dan Laras langsung pergi begitu saja meninggalkan meja makan, karena nafsu makan Anya rasanya sudah hilang ketika melihat kemesraan Abi dan Laras.
"Anya tunggu," teriak Laras yang hendak mengejar Anya, tapi Abi melarang Laras.
"Tidak apa-apa sayang, berikan waktu untuk Anya berpikir, karena bagaimanapun juga, dia harus bisa menerima kenyataan kalau selamanya aku tidak akan pernah bisa dia miliki. Sebaiknya sekarang kita makan dulu, Mas sudah lapar sekali setelah olahraga siang," ujar Abi dengan cengengesan, dan Laras memutar malas bola matanya.
"Sini, Den Daffa sama si Mbah lagi, Ayahnya mau makan dulu," ujar Bi Surti, tapi Daffa terus saja menempel sama Abi, dan tidak mau melepaskan pelukannya.
"Udah, gak apa-apa Bi, mungkin Daffa masih kangen sama Ayahnya."
"Tapi Mas Abi kan mau makan dulu "
"Biar istri saya yang menyuapi saya makan," ujar Abi dengan tersenyum.
Laras akhirnya makan siang sambil menyuapi Abi makan, dan Abi merasa sangat bahagia karena saat ini Abi memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia, sehingga senyuman terus mengembang pada bibirnya.
Anggi meminta ijin pulang kepada atasannya, karena Anggi merasa tidak enak badan.
"Sepertinya aku masuk angin deh. Coba saja Laras masih tinggal bersamaku, pasti bakalan ada yang ngerokin sama mijitin aku," gumam Anggi yang merindukan kebersamaannya dengan Laras.
Anggi merasa bingung saat mencari kunci kontrakannya, karena kunci kontrakan yang biasanya ia simpan di bawah keset tidak ada.
"Kemana ya kuncinya? apa tadi aku lupa tidak mengunci kontrakan?" gumam Anggi, kemudian secara perlahan membuka pintu kontrakan, tapi langkah Anggi terhenti ketika melihat dua pasang sandal di depan pintu.
"Ternyata aku lupa tidak menguncinya. Lho, bukannya ini sandal Reza? mungkin Reza lagi istirahat di dalam, dia kan sering ke sini kalau aku lagi kerja. Reza juga tau kalau aku suka nyimpen kunci di bawah keset, tapi yang satu lagi sandal siapa ya? kelihatannya ini sandal perempuan," gumam Anggi, kemudian masuk ke dalam rumah kontrakannya.
Anggi langsung membulatkan mata juga menutup mulutnya ketika melihat Reza sedang bercumbu dengan perempuan lain di dalam kontrakannya.
__ADS_1
"Reza, apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Anggi dengan mata yang memerah karena menahan amarah dan juga sakit pada hatinya.
"Tunggu sebentar, tanggung nih," jawab Reza yang belum menyadari kedatangan Anggi, karena saat ini posisi Reza membelakangi Anggi.
Airmata Anggi luruh sudah dan saat ini Anggi menjatuhkan tubuhnya di atas lantai ketika mendengar suara errangan Reza saat mencapai *******.
"Dasar lelaki bajingan kamu Reza, kamu adalah lelaki paling bejat yang pernah aku kenal," teriak Anggi, sehingga memancing para tetangga di kontrakannya datang.
Keringat dingin kini membasahi tubuh Reza setelah Reza turun dari tubuh perempuan yang baru saja dia gagahi, karena saat ini di belakangnya sudah banyak orang berkumpul melihat dirinya yang sudah berbuat tidak senonoh di rumah kontrakan Anggi.
"Anggi, aku bisa menjelaskan semuanya sayang," ujar Reza yang saat ini langsung duduk bersimpuh di depan tubuh Anggi, bahkan Reza masih belum mengenakan sehelai benang pun, sehingga diteriaki oleh warga.
"Dasar tidak bermodal, kamu tidak mampu menyewa hotel ya, sampai-sampai kamu menjadikan rumah pacar kamu untuk berbuat Zina," teriak salah seorang Warga.
"Sayang, jangan dengarkan mereka, aku tidak_" ucapan Reza langsung Anggi potong.
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi Reza, karena semuanya sudah sangat jelas, dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tega-teganya kamu mengkhianati cintaku Reza, bahkan kamu melakukan tindakan tidak senonoh di kontrakanku. Selama ini aku sudah buta dan tuli karena tidak percaya dengan ucapan Laras dan Abi. Sebenarnya saat itu kamu kan yang sudah memfitnah mereka, dan saat itu kamu yang sudah berusaha menodai Laras, tapi Abi keburu datang menyelamatkannya, sehingga Abi memukuli kamu. Lelaki bajingan kamu Reza," ujar Anggi dengan memukuli Reza menggunakan tas nya.
Reza dan perempuan yang sudah bermain gila dengannya menjadi bulan-bulanan warga, Reza dipukuli hingga babak belur, sedangkan perempuan yang bersamanya harus rela kehilangan rambutnya yang panjang, karena Ibu-ibu yang marah mencukur rambutnya hingga pendek.
Setelah Ketua RT datang untuk menghentikan warganya yang sudah main hakim sendiri, Reza dan selingkuhannya dibawa menuju balai Desa, dan kedua orangtua Reza dipanggil oleh kepala Desa.
Plak
Reza mendapatkan tamparan keras pada pipinya dari Papanya, karena orangtua Reza merasa malu dengan kelakuan Reza yang sudah mencoreng nama baik keluarga, apalagi orangtua Reza merupakan orang terpandang di Desa tersebut.
"Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga Reza. Papa akan mengirim kamu ke Pesantren, karena Papa tidak mau kamu menikahi seorang ja*lang yang sudah terbiasa menjajalkan tubuhnya."
Anggi yang menyaksikan semuanya hanya diam dengan airmata yang terus membasahi pipinya.
__ADS_1
Anggi juga dipanggil oleh Kepala Desa sebagai Saksi, karena kejadian tidak senonoh yang dilakukan Reza terjadi di kontrakannya.