
Anggi menyesali perbuatannya terhadap Laras setelah mengetahui semua kebusukan Reza, dan Anggi terus saja kepikiran dengan Laras.
Ternyata rasanya sangat sakit ketika melihat orang yang kita cintai mengkhianati kita, bahkan di depan mata kita sendiri. Aku dan Reza masih berstatus pacaran, sedangkan dulu Laras sudah menikah dengan Rahman saat Rahman mengkhianatinya dengan Mawar. Pasti saat itu hati Laras sangat hancur melebihi yang aku rasakan saat ini, batin Anggi.
Anggi merasa malu sekaligus merasa bersalah karena sudah memfitnah Laras dan Abi, bahkan Anggi sampai tega mengusir Laras dari rumah kontrakannya.
"Aku harus meminta maaf kepada Laras dan Abi karena tidak percaya dengan perkataan mereka, aku juga sudah sangat berdosa karena telah memfitnah Laras dan Abi melakukan tindakan tidak senonoh. Kenapa aku sampai terhasut oleh lelaki bejat seperti Reza? Apa Laras dan Abi masih mau memaafkanku?" gumam Anggi, kemudian memutuskan untuk kembali ke Pabrik karena Anggi mendengar perkataan orang-orang jika Laras dan Abi tinggal di rumah yang berada di wilayah Pabrik.
Anggi langsung masuk melewati gerbang, karena saat ini sedang pergantian shift kerja Karyawan, jadi pintu gerbang terbuka.
Anggi sampai hujan-hujanan karena ingin segera meminta maaf kepada Laras atas semua perbuatannya.
Setelah sampai di depan pintu rumah Abi dan Laras, Anggi mengetuk pintu dengan tangan yang gemetaran.
Laras yang mendengar suara ketukan pintu pun langsung membukanya.
"Anggi, ayo masuk, kenapa kamu hujan-hujanan? wajah kamu juga terlihat pucat sama gemetaran begini. Apa kamu sedang sakit?" tanya Laras yang merasa khawatir melihat keadaan Anggi, kemudian Laras menempelkan punggung tangannya pada dahi Anggi.
"Anggi kamu sampai demam seperti ini. Tunggu sebentar ya, aku mau mengambil handuk dulu," ujar Laras, tapi Anggi menahan Laras, kemudian menjatuhkan tubuhnya dan memegangi kaki Laras.
"Anggi bangun, apa yang kamu lakukan? kamu tidak boleh seperti ini," ujar Laras dengan membantu Anggi kembali berdiri.
Abi yang sedang menggendong Daffa hanya melihat dari kejauhan, karena Abi masih merasa kesal terhadap Anggi.
"Laras, maafkan aku, aku sudah berdosa terhadap kamu dan Abi. Ternyata kalian benar kalau Reza adalah lelaki bejat, aku menyesal karena telah percaya dengan omongannya, bahkan aku sampai mengusir kamu dari kontrakan hanya demi lelaki bajingan seperti Reza. Tadi aku memergoki Reza sedang melakukan tindakan yang tidak senonoh di dalam kontrakanku," ujar Anggi dengan menangis.
__ADS_1
"Sudahlah Anggi, yang penting kamu sudah tau kelakuan bejat Reza. Sekarang kamu tenang dulu ya, aku mau mengambil handuk sama pakaian ganti dulu supaya kamu tidak masuk angin," ujar Laras, kemudian menuju kamarnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu Laras membuatkan teh manis hangat untuk Anggi.
Laras membantu Anggi mengelap rambut dan juga badannya.
"Sekarang kamu ganti dulu pakaiannya supaya tidak masuk angin."
"Laras, kenapa kamu masih saja baik terhadapku? padahal aku sudah berbuat jahat sama kamu."
"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Sebaiknya sekarang kamu ganti pakaian dulu, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ujar Laras dengan menggandeng Anggi menuju kamar tamu.
Abi semakin kagum terhadap sosok Laras, karena Laras adalah sosok yang baik hati dan pemaaf. Meski pun Laras sudah sering disakiti, tapi Laras selalu memaafkan, dan Abi tau kalau dalam hati kecilnya Laras masih menyayangi Mawar dan sangat merindukannya, meski pun Mawar selalu menyakiti hati Laras.
Aku beruntung karena memiliki Bidadari Surga secantik dan sebaik kamu Laras, batin Abi dengan tersenyum bahagia.
Setelah mengganti pakaian, Anggi ke luar dari kamar tamu dan menghampiri Laras yang saat ini sedang bersama Abi dan Daffa.
"Sudahlah Anggi, kita lupakan semuanya, meski pun jujur aku masih merasa kesal sama kamu, tapi aku belajar dari istriku yang cantik ini, kalau kita tidak boleh menyimpan kebencian kepada seseorang, karena itu adalah salah satu penyakit hati yang hanya akan menyiksa kita," ujar Abi.
"Terimakasih Abi, Laras, kalian memang sangat baik, aku merasa sangat malu karena kalian masih saja baik kepadaku meski pun aku sudah berbuat jahat terhadap kalian."
"Sudahlah Anggi, jangan terlalu dipikirkan ya, sekarang sebaiknya kamu minum teh nya mungpung masih hangat," ujar Laras, dan saat ini Anggi merasa lega karena Laras dan Abi sudah memaafkan kesalahannya.
Laras mengajak Anggi untuk makan malam bersama di rumahnya, tapi Anggi merasa tidak enak, sehingga Anggi menolak ajakan Laras.
"Anggi, kamu ikut makan malam di sini ya," ujar Laras.
__ADS_1
"Tidak Laras, aku tidak mau merepotkan kalian."
"Anggi, kamu itu sudah seperti saudara untukku, dan anggap saja ini sebagai syukuran karena akhirnya hubungan kita sudah kembali baik," ujar Laras dengan memeluk tubuh Anggi.
Laras menggandeng Anggi menuju meja makan, dan Bi Surti saat ini sedang menata makanan di atas meja.
"Bi, panggil Mang Diman untuk makan malam bersama kita," ujar Laras.
Bi Surti dan Mang Diman merasa bahagia, karena Laras dan Abi memperlakukan mereka seperti keluarga, meski pun Laras sudah mengetahui identitas Abi yang sebenarnya, dan tau jika Mang Diman dan Bi Surti hanyalah Asisten rumah tangga di rumah Abi, tapi Laras masih tetap menghormati Bi Surti dan Mang Diman.
Abi bahkan menyuruh Mang Diman dan Bi Surti untuk tetap memanggilnya dengan sebutan Mas, karena dari dulu Abi selalu tidak enak dipanggil dengan sebutan Tuan muda.
Anya yang merasa lapar terpaksa ke luar dari dalam kamarnya, apalagi Anya mencium aroma masakan.
"Kenapa di sini banyak orang miskin? seharusnya kalian sadar diri, kalau kalian tidak pantas satu meja makan dengan majikan," celetuk Anya yang memang tidak tau sopan santun, karena Tuan Dirga selalu memanjakan Anya, sehingga Anya tumbuh menjadi sosok yang arogan.
"Anya, tutup mulut kamu, seharusnya kamu bersikap sopan terhadap seseorang yang lebih tua," ujar Abi.
"Mereka bukan orangtuaku, kenapa aku harus bersikap sopan?"
"Mang, Bi, maafkan Anya ya," ujar Abi yang merasa tidak enak terhadap Bi Surti dan Mang Diman.
"Tidak apa-apa Mas, lagian dia juga hanya numpang di rumah ini, jadi Bibi tidak terlalu memikirkan perkataannya," ujar Bi Surti yang memang tidak suka terhadap Anya.
"Kamu hanya Pembantu di rumah ini, jadi gak usah berlagak seperti majikan. Sebentar lagi aku pasti akan menjadi Nyonya rumah di sini, dan aku pasti akan memecat kalian berdua," ujar Anya.
__ADS_1
"Kalau kamu bermimpi jangan terlalu tinggi, karena jika terjatuh itu akan sangat sakit," sindir Laras yang akhirnya angkat suara juga.