Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 56 ( Serangan jantung )


__ADS_3

Papa Dirga hampir saja tergoda dengan bisikan Mawar, tapi Papa Dirga teringat dengan perkataan Laras, jika Papa Dirga harus bertaubat sebelum terlambat, karena tidak ada yang tau kapan ajal akan menjemput.


"Maaf Mawar, Om benar-benar tidak bisa melakukannya lagi, Om takut dosa. Bagaimana kalau saat kita melakukan maksiat, Tuhan mencabut nyawa Om? Om tidak ingin meninggal dunia saat melakukan perbuatan dosa," ujar Papa Dirga, sehingga membuat Mawar merasa takut juga.


"Ya sudah deh kalau begitu sekarang saja kita pulang ke Bogor," sebaiknya aku menggoda daur muda seperti Abi, dari pada menggoda Tua bangka yang sok suci, lanjut Mawar dalam hati.


Papa Dirga akhirnya mengantar Mawar ke rumahnya, dan Mawar merasa senang ketika Papa Dirga memberinya uang sebesar lima puluh juta rupiah.


"Makasih banyak ya Om, Om memang sangat baik," ucap Mawar dengan hendak memeluk tubuh Papa Dirga, tapi Papa Dirga mencoba menghindari Mawar.


"Mawar, itu terakhir kali saya memberikan uang sama kamu. Saya harap kamu tidak akan mengganggu saya lagi, kamu juga jangan mengganggu rumah tangga Abi dan Laras," ujar Papa Dirga, kemudian pergi dari rumah Mawar.


"Oke, aku tidak akan mengganggu Abi, tapi nanti Abi sendiri yang akan mengejar-ngejarku. Jadi jangan salahkan aku," ujar Mawar dengan tersenyum licik.


Papa Dirga akhirnya kembali ke Jakarta, dan keesokan paginya, Dokter yang melakukan tes DNA kepada dirinya, Mama Lasmi dan Laras, memberikan kabar jika hasil tes DNA sudah ke luar.


"Pa, Papa mau pergi kemana pagi-pagi begini?" tanya Mama Lasmi.


"Papa mau mengambil hasil tes DNA kita dengan Laras," jawab Papa Dirga.


"Kalau begitu Mama ikut. Mama juga ingin secepatnya mengetahui kebenaran tentang Laras."


"Ma, Papa juga bakalan langsung pulang, nanti kalau perlu Papa akan membawa Dokternya supaya membacakan hasil tes DNA nya di sini."


Mama Lasmi yang tidak percaya kepada Papa Dirga, bersikeras ingin ikut, sampai akhirnya Mama Lasmi memberikan usul supaya Papa Dirga menyuruh Dokternya yang datang ke rumah mereka.


"Kalau begitu sekarang juga Papa suruh Dokternya datang ke rumah kita untuk membacakan hasil tes DNA nya."

__ADS_1


Papa Dirga dengan berat hati menelpon Dokter supaya datang ke kediaman Dirgantara, karena Papa Dirga tidak ingin terus berdebat dengan Mama Lasmi.


Beberapa saat kemudian, Dokter pun datang, dan semuanya sudah berkumpul di ruang tamu untuk mendengar hasil tes DNA.


Laras sudah terlihat harap harap cemas, begitu juga dengan Papa Dirga dan Mama Lasmi yang sudah menunggu dengan jantung berdebar-debar.


"Kalau begitu sekarang saya akan membacakan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Tuan Dirga, Nyonya Lasmi dan Nona Laras," ujar Dokter.


Dokter membuka amplop hasil tes DNA, kemudian membacakannya.


"Hasil tes DNA antara Tuan Dirga dan Nona Larasati, seratus persen cocok, begitu juga dengan hasil tes DNA Nyonya Lasmi dan Nona Larasati yang memiliki tingkat kecocokan sebesar seratus persen juga. Jadi, Nona Larasati adalah Putri kandung dari Tuan Dirga dan Nyonya Lasmi," jelas Dokter.


Degg


Jantung Papa Dirga rasanya berhenti berdetak saat mendengar perkataan Dokter.


Mama Lasmi yang sudah mempunyai firasat jika Laras adalah Anak kandungnya yang hilang, langsung berhambur memeluk tubuh Laras.


"Sayang, Alhamdulillah Nak, ternyata benar kalau Laras adalah Anak kandung Mama. Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah kembali mempertemukan hamba dengan putri hamba yang sudah tiga puluh tahun hilang," ucap Mama Lasmi dengan menangis dalam pelukan Laras, begitu juga dengan Laras yang menangis antara bahagia dan tidak percaya jika Laras masih memiliki kedua orangtua.


"Rencana Tuhan memang selalu indah, dan harapan Mama, Papa juga mendiang orangtua Abi untuk menikahkan Abi dengan Larasati akhirnya menjadi kenyataan," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras dan Mama Lasmi.


Jadi ternyata lelaki yang selama ini selalu membuat aku kesal adalah Ayah kandungku sendiri? aku tidak tau harus bersikap seperti apa terhadap Papa Dirga, karena aku masih merasa canggung terhadapnya, batin Laras.


"Nak, apa Laras tidak mau memeluk Papa?" tanya Mama Lasmi, dan Laras masih terlihat ragu, karena meski pun di antara dirinya dan Papa Dirga memiliki hubungan darah, tapi sebelumnya Papa Dirga pernah memiliki perasaan cinta untuk Laras.


"Sayang, kalau memang Bunda mau peluk Papa, Ayah tidak apa-apa kok, bagaimanapun juga Papa adalah Papa kandung Bunda," ujar Abi.

__ADS_1


Secara perlahan, Laras, dengan digandeng oleh Abi dan Mama Lasmi melangkahkan kakinya untuk menghampiri Papa Dirga. Akan tetapi, saat Laras yang masih terlihat ragu hendak memeluk Papa Dirga, tiba-tiba tubuh Papa Dirga ambruk, sehingga membuat semuanya merasa terkejut.


"Pa, Papa kenapa?" tanya Laras dengan menangis, dan saat ini kepala Papa Dirga berada dalam pangkuan Laras.


"Larasati, Putri kecil Papa, maafkan Papa Nak, Papa adalah Ayah yang bejat, bahkan Papa tidak bisa mengenali Putri Papa sendiri," ucap Papa Dirga dengan suara yang terdengar lirih.


"Abi, sebaiknya sekarang kita segera bawa Papa ke Rumah Sakit," teriak Mama Lasmi yang terlihat panik.


"Tidak Nak, jangan bawa Papa ke Rumah Sakit, karena waktu Papa sudah tidak banyak lagi, dan Papa ingin menghabiskan sisa hidup Papa bersama kalian."


"Papa jangan berbicara seperti itu, Papa pasti akan sembuh. Mas cepat panggil Dokter," teriak Laras dengan airmata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Ma, maafin Papa, karena selama ini Papa sudah melakukan banyak kesalahan kepada Mama. Papa bukan Suami yang baik, bahkan Papa sering bermain perempuan tanpa sepengetahuan Mama, Pa_pa menyesal Ma," ucap Papa Dirga dengan suara yang sudah semakin melemah.


"Pa, Mama pasti akan memaafkan semua kesalahan Papa, tapi Papa harus kuat, sebentar lagi Dokter akan datang, dan Papa harus bertahan."


"Ma, Papa sudah tidak kuat. Sekarang Papa bisa pergi dengan tenang karena Larasati Putri Dirgantara sudah kembali, dan Papa yakin kalau Anak kandung kita akan menjaga Mama dengan baik. Ikhlaskan kepergian Papa. Abi, tolong jaga Mama, Laras, dan Cucu cucu Papa. Papa percaya sama kamu Nak, bahwa Abi akan menjaga mereka dengan baik."


"Pa, Abi berjanji akan menjaga semuanya dengan baik, Papa jangan terlalu banyak pikiran, yang penting sekarang Papa harus sembuh dulu."


"Larasati Putri kecil Papa, Papa sayang sekali sama kamu Nak, Papa bahagia karena di akhir hidup Papa, Papa diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Putri kandung yang selalu Papa cari," ucap Papa Dirga dengan mencium tangan Laras, setelah itu Papa Dirga mengembuskan nafas terakhirnya.


"Pa, bangun Pa," teriak Laras dengan menggoyangkan tubuh Papa Dirga.


Abi memeriksa denyut nadi Papa Dirga, tapi denyut nadinya sudah berhenti.


"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Abi dengan menitikkan airmata, sehingga membuat semuanya semakin menangis histeris mendengar perkataan Abi.

__ADS_1


__ADS_2