Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 42 ( Pengakuan Dosa )


__ADS_3

Laras terlihat berpikir ketika mendengar pertanyaan Abi, karena sebelumnya Laras sudah berkata kepada Tuan Dirga jika dirinya tidak akan mengatakan apa pun kepada Abi asalkan Tuan Dirga mau berubah, tapi Laras tidak menyangka jika sekarang Tuan Dirga membuka aibnya sendiri kepada Abi.


"Yah, Bunda tidak berhak menjawab semua itu, karena Papa Dirga yang lebih berhak menjawabnya, Bunda tidak mau di anggap sebagai tukang mengadu. Jadi, biar Ayah mengetahuinya langsung dari Papa Dirga," ujar Laras.


Setelah menghela nafas panjang, Tuan Dirga akhirnya kembali angkat suara.


"Baiklah Nak, kalau Abi ingin mengetahui semuanya, sekarang Papa akan melakukan pengakuan dosa. Abi benar, selama ini Mawar adalah selingkuhan Papa, tapi setelah Papa bertemu dengan perempuan lain, Papa berpaling hati dari Mawar dan memutuskan untuk mengejar perempuan tersebut, tapi ternyata perempuan tersebut tidak mudah untuk Papa dapatkan, karena dia selalu menolak Papa."


"Dan perempuan itu adalah Laras kan? istrinya Abi?" tanya Abi dengan tersenyum kecut.


"Nak, maafkan Papa, Papa tidak tau kalau Laras sudah menikah dengan Abi."


"Abi tau kalau Papa bukan tipe orang yang mudah untuk mengalah. Apa Papa berniat untuk berebut perempuan dengan Abi?"


"Awalnya Papa berniat seperti itu, tapi sekarang Papa sudah sadar bahwa tidak seharusnya Papa terus-terusan mengikuti hawa nafsu yang akan menjerumuskan Papa menuju jurang kehancuran, dan yang sudah membuat Papa sadar adalah Laras."


Saat ini Abi tidak tau harus berkata apa-apa lagi, karena pengakuan dosa yang dilakukan oleh Papa Dirga begitu mengejutkan dirinya.


"Apa Papa juga akan mengatakan semuanya kepada Mama?"


"Papa tidak mungkin mengakui semua kesalahan Papa terhadap Mama, karena Mama pasti akan merasa syok, dan Papa takut jika Mama semakin depresi. Apa Abi bisa membantu Papa untuk merahasiakan semuanya dari Mama?"


"Jika Abi menutupi semuanya dari Mama, berarti Abi sudah membantu Papa membohongi Mama," ujar Abi, dan Tuan Dirga sudah mengira jika Abi tidak akan pernah bisa berbohong, karena selama ini Abi adalah orang yang sangat jujur.


"Tapi jika berbohong demi kebaikan, Abi akan berusaha melakukannya, dengan syarat, Papa tidak akan pernah mengganggu istri Abi, dan Papa harus benar-benar bertaubat," sambung Abi.


"Makasih banyak Nak, Papa pasti akan berusaha untuk berubah. Papa malu, karena sebentar lagi Papa akan menjadi seorang Kakek," ujar Tuan Dirga dengan memeluk tubuh Abi.


Beberapa saat kemudian, Mang Diman masuk ke dalam rumah dengan membawa Daffa, tapi tiba-tiba Daffa meminta digendong oleh Tuan Dirga.

__ADS_1


"Jadi ini yang namanya Daffa? sini Nak, Kakek gendong," ujar Tuan Dirga yang langsung jatuh hati kepada Daffa.


Kenapa hatiku terasa hangat saat menggendong Daffa, perasaan ini seperti saat dulu aku menggendong Larasati, batin Tuan Dirga dengan terus menciumi wajah Daffa.


Laras dan Abi tersenyum melihat Tuan Dirga yang terlihat bahagia saat menggendong Daffa, dan akhirnya Tuan Dirga memutuskan untuk makan terlebih dahulu di rumah Abi sebelum pulang menuju Jakarta.


Abi terlihat bahagia saat bersama dengan keluarga kecilnya, dan sudah seharusnya aku juga ikut bahagia melihat kebahagiaan Anakku, meski pun hati ini masih merasa sulit untuk ikhlas melepas Laras, ucap Tuan Dirga dalam hati.


......................


Hari ini adalah hari terakhir Anya dan Rahman mengikuti seminar, dan Anya terlihat murung karena mereka harus pulang.


"Mas, kalau kita pulang sekarang, berarti kita akan berpisah dong setelah sampai Bogor?" rengek Anya.


"Sayang, kita kan masih bisa bertemu di kantor, lagian dua hari lagi juga libur. Bukannya kita mau honeymoon ke Bali?"


"Anya yang sabar ya, nanti setelah bayi Mawar lahir, kita akan memikirkan jalan keluarnya."


"Mas, apa kita beli rumah saja saat pulang dari sini? supaya kapan saja Mas bisa datang ke rumah kita."


"Sayang, Mas pasti tidak akan bisa menemani Anya setiap malam, apa alasan yang harus Mas berikan kepada Mawar? bagaimana kalau nanti Mawar sampai curiga kepada kita?"


"Yang Mas pikirkan hanya perasaan Mawar. Apa Mas tidak memikirkan perasaan Anya? Anya juga kan istri Mas Rahman."


Rahman tidak tau harus berkata apa lagi untuk membujuk Anya, karena setelah menikah dengan Anya, Anya semakin posesif kepadanya.


Aku pikir memiliki dua istri itu menyenangkan, tapi ternyata malah membuat aku semakin pusing saja, ucap Rahman dalam hati.


"Kenapa Mas diam saja? benar kan kalau yang Mas pikirkan hanya perasaan Mawar?" ujar Anya yang tiba-tiba menangis.

__ADS_1


Cup


Rahman akhirnya mencium bibir Anya, karena Rahman tidak tau harus bagaimana lagi untuk membujuk istrinya, dan keduanya melepas ciuman setelah pasokan oksigen pada tubuh mereka berkurang.


"Sayang, Anya jangan berpikir macam-macam ya, Mas sangat mencintai Anya, dan Mas juga memikirkan perasaan Anya, tapi untuk sekarang kita harus bersabar dulu," ujar Rahman dengan membawa Anya ke dalam pelukannya.


Setelah bercerai dengan Laras, hidupku menjadi semakin kacau. Apalagi sekarang Laras dan Abi adalah ipar sekaligus Bos ku. Bagaimana cara aku menghadapi Laras dan Abi saat aku bertemu dengan mereka? padahal dulu aku dan Mawar sudah bersikap buruk terhadap Laras dan Abi. Apa mereka tidak akan menyimpan dendam kepada aku dan Mawar? semoga saja Abi tidak sampai memecatku dari perusahaannya, ucap Rahman dalam hati.


Setelah acara seminar selesai, Rahman dan Anya akhirnya pulang ke Bogor, meski pun Rahman harus membujuk Anya dengan berbagai cara supaya Anya tidak terus-terusan cemberut.


"Sayang, Anya bisa anterin Mas pulang kan?"


"Boleh Mas, tapi Anya mau Mas Rahman kenalin Anya ke keluarga Mas. Bagaimana?"


"Sayang, saat ini Bapak sakit struk gara-gara masalah rumah tangga Nisa dan juga Mas yang sudah mencoreng wajah Bapak dengan memberikan aib pada keluarga, bahkan sampai saat ini Nisa masih belum sembuh dari depresi, setelah keguguran karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Suaminya."


Anya nampak berpikir ketika mendengar perkataan Rahman, sampai akhirnya terbesit ide jahat dalam pikiran Anya yang sudah sangat terobsesi untuk memiliki Rahman seutuhnya.


Adik Mas Rahman sampai depresi dan keguguran saat mengetahui Suaminya selingkuh. Sepertinya aku punya ide untuk menyingkirkan Mawar dari hidup Mas Rahman. Mungkin jika Mawar mengetahui tentang Mas Rahman yang berselingkuh denganku, bahkan kami sampai menikah, kondisi Mawar akan lebih buruk dari Nisa, ucap Anya dalam hati dengan tersenyum penuh arti.


"Untuk saat ini Anya akan mengalah Mas, tapi ijinkan Anya bertemu dengan keluarga Mas, nanti Mas bisa memperkenalkan Anya sebagai teman kantor Mas Rahman."


"Makasih banyak ya sayang, Anya memang sangat pengertian," ucap Rahman dengan menangkup kedua pipi Anya.


"Tapi Anya memiliki satu syarat lagi."


"Apa?"


"Untuk saat ini, Anya tidak akan mengatakan tentang pernikahan kita kepada Mawar, tapi Mas harus segera mendaftarkan pernikahan kita secara Negara. Bagaimana?"

__ADS_1


__ADS_2