Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 35 ( Suami Siaga )


__ADS_3

Abi melajukan mobilnya secara perlahan, karena Abi takut Laras dan bayi dalam kandungannya sampai kenapa-napa.


"Sayang, kecepatan mobilnya kalau segini tidak terlalu kencang kan?"


"Tidak Mas, lagian jalannya juga bagus, jadi Mas tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu," ujar Laras dengan tersenyum bahagia ketika melihat tingkah Abi yang begitu over protektif terhadapnya.


Setelah sampai halaman rumah, Abi langsung mengangkat tubuh Laras.


"Mas, bantu jalan aja gak usah digendong."


"Tapi tadi Dokter bilang kehamilan di trimester pertama masih sangat lemah, jadi Mas ingin menjaga Laras dan bayi kita dengan baik. Laras tidak boleh bangun dari tempat tidur, dan kalau mau apa-apa Laras harus mengatakannya sama Mas, karena Mas_"


Ucapan Abi terhenti ketika Laras mencium pipi Abi.


"Udah gak usah bawel, lagian ini bukan pertama kali Laras hamil, bahkan dulu saat hamil Daffa, Laras tidak pernah berhenti bekerja. Jadi, Mas jangan terlalu khawatir yang berlebihan ya," ujar Laras dengan tersenyum.


"Iya sayang, tapi Mas bakalan terus menjaga dan mengawasi Laras 24 jam."


"Iya, iya, makasih ya Suamiku sayang."


Setelah Abi menurunkan Laras di atas sofa, Abi melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil makanan.


"Sayang, Laras makan dulu ya, Laras kan harus minum obat."


Laras kembali merasa mual ketika melihat nasi yang Abi bawa.


"Mas, jauhin nasinya," ujar Laras dengan menutup mulut dan hidungnya, sehingga Abi kembali menyimpan nasi ke dapur.


Mang Diman dan Bi Surti yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengajak Daffa bermain di taman, merasa heran dengan tingkah Abi yang mondar mandir seperti setrikaan.


"Mas Abi kenapa dari tadi bolak balik terus kayak setrikaan?" tanya Bi Surti.


"Abi bingung Bi, Laras gak mau makan nasi, katanya nasinya bau, padahal Abi cium nasinya gak bau, Bibi juga baru masak nasi tadi Subuh kan?"


"Apa saat ini Neng Laras sedang hamil?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Bi, Daffa sebentar lagi akan punya Adik."


"Pantas saja Neng Laras merasa bau saat mencium aroma nasi, kalau perempuan hamil memang sering merasa seperti itu. Selamat ya Mas, Neng, sebentar lagi kalian berdua akan kembali menjadi orangtua."


"Makasih banyak ya Bi," ucap Laras dengan memeluk tubuh Bi Surti, karena Laras tau jika Bi Surti pasti merasa sedih, sebab Bi Surti tidak pernah merasakan rasanya menjadi seorang Ibu.


"Bi, Laras tau bagaimana perasaan Bibi, karena sejatinya setiap perempuan pasti ingin menjadi seorang Ibu."


"Iya Neng, sejak dulu Bibi selalu merasa iri apabila mendengar oranglain hamil, tapi sekarang Bibi sudah memiliki Den kecil, ditambah lagi bayi yang saat ini berada dalam kandungan Neng Laras, jadi Bibi tidak akan merasa kesepian lagi, karena rumah ini akan semakin ramai."


"Iya Bi, sebentar lagi kita akan bertambah personil. Semoga saja bayinya kembar, biar rumah menjadi semakin ramai," ujar Abi yang di Amini oleh semuanya.


"Oh iya Mas, dulu saat mendiang Mama Mas Abi ngidam, beliau juga sering merasa mual kalau mencium aroma nasi, jadi mendiang Nyonya mengganti nasi dengan bubur Ayam," ujar Bi Surti.


"Kalau begitu Abi sekarang mau masak bubur ayam buat istri dan Anak Abi, karena kalau beli di luar, Abi takut makanannya tidak higienis," ujar Abi kemudian kembali melangkahkan kaki menuju dapur, padahal Bi Surti baru saja mau bilang biar Bi Surti saja yang membuat bubur untuk Laras.


"Sepertinya calon Ayah sangat bersemangat sekali, padahal Bibi baru saja mau bilang biar Bibi saja yang membuat buburnya."


"Tidak apa-apa Bi, Mas Abi memang Suami Siaga, dan Laras sangat bahagia mendapatkan cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari Suami Laras."


......................


Abi yang sedang memasak bubur, mendapatkan telpon dari Manager yang menanyakan tentang kebenaran Anya dan Rahman yang akan mengikuti seminar di Puncak menggantikan Abi.


📞"Tuan, apa benar Tuan menyuruh Anya dan Rahman untuk menggantikan Tuan seminar di Puncak?" tanya Manager.


📞"Iya Pak, saya tidak bisa berangkat, karena saat ini istri saya sedang tidak enak badan. Jadi, saya tidak bisa meninggalkannya. Saya juga menyuruh istri saya untuk berhenti bekerja karena istri saya tengah hamil muda, tolong Bapak urus Surat pengunduran diri istri saya ya," ujar Abi.


📞"Baik Tuan, tapi siapa yang akan menggantikan posisi Nyonya menjadi mandor?"


📞"Bapak angkat saja Anggi sebagai gantinya, karena saya sudah melihat sendiri kinerjanya yang bagus."


📞"Baik Tuan, kalau begitu saya akan memproses semuanya. Maaf kalau sudah mengganggu waktunya, dan saya ucapkan selamat atas kehamilan Nyonya."


"Iya, makasih banyak Pak," ucap Abi, kemudian menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


Setelah bubur Ayam yang dimasak oleh Abi matang, Abi membawa bubur tersebut untuk Laras, kemudian Abi menyuapi Laras makan.


"Ternyata benar Bi, kalau bubur Ayam, Laras mau memakannya," ujar Abi yang terlihat bahagia.


"Sepertinya bayi Mas Abi ngikutin Ayahnya saat dulu berada dalam kandungan," ujar Bi Surti.


"Sayang, sekarang minum obatnya ya," ujar Abi dengan memberikan Laras minum obat, setelah itu Abi menggandeng Laras menuju kamar supaya Laras bisa beristirahat.


......................


Rahman mengirim pesan kepada Mawar untuk memberikan kabar jika Rahman akan berangkat ke Puncak menghadiri seminar selama tiga hari, padahal selain mengikuti seminar, Rahman juga akan menikah dengan Anya.


Mawar dengan berat hati merelakan Rahman berangkat ke Puncak, karena Mawar tidak mungkin melarang Rahman jika sudah menyangkut urusan pekerjaan.


"Sayang, aku bahagia sekali, karena akhirnya kita bisa jalan berdua," ucap Anya dengan bersandar pada bahu Rahman yang saat ini tengah menyetir mobil milik Anya.


"Aku juga sayang, aku sangat bahagia, karena sebentar lagi kita berdua akan segera menikah."


"Mas, tadi aku udah sempet tanya sama teman aku yang tinggal di Puncak, katanya kalau mau menikah siri dulu, ada Penghulu di dekat rumahnya yang bisa menikahkan kita."


"Terus sekarang kita mau kemana dulu?"


"Kita langsung ke rumah teman aku aja, karena barusan aku dapat kabar kalau pembukaan seminarnya di undur menjadi besok."


"Sepertinya ini keberuntungan untuk kita," ucap Rahman dengan mencium tangan Anya.


Rahman menepikan mobilnya, saat melihat toko mas, kemudian Rahman turun untuk membeli Mas kawin, padahal Anya sudah melarang Rahman supaya tidak perlu repot-repot memberikannya semua itu, tapi Rahman tidak mau jika semuanya harus ditanggung oleh Anya.


"Mas Rahman tidak perlu memberikan apa pun kepada Anya, karena Anya sudah memiliki semuanya. Yang penting, Mas Rahman memberikan cinta yang tulus kepada Anya, karena itu sudah lebih dari cukup."


"Sayang, Mas tau kalau Anya sudah memiliki segalanya, tapi untuk Mas kawin, Mas ingin membelinya dengan jerih payah Mas sendiri, karena itu sudah menjadi kewajiban Suami yang harus diberikan kepada istrinya. Akan tetapi, Mas minta maaf karena Mas belum bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk Anya."


"Tidak apa-apa Mas, apa pun yang Mas Rahman berikan, Anya akan dengan senang hati menerimanya."


Setelah Rahman membeli sebuah cincin seberat lima gram untuk mas kawinnya dengan Anya, Rahman dan Anya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Puncak.

__ADS_1


__ADS_2