Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 57 ( Selamat jalan Papa )


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Dokter keluarga Dirgantara yang di telpon oleh Abi, akhirnya sampai juga.


"Dok, tolong selamatkan Suami saya," ujar Mama Lasmi.


Dokter bergegas memeriksa kondisi Papa Dirga, tapi Dokter terlihat menghela nafas panjang, karena Papa Dirga sudah meninggal dunia.


"Maaf Nyonya, tapi Tuan sudah meninggal dunia karena mengalami serangan jantung," ucap Dokter dengan lirih.


"Tidak, tidak mungkin Suami saya meninggal dunia," teriak Mama Lasmi, kemudian pingsan karena tidak kuat mendengar berita meninggalnya Papa Dirga.


"Ma, bangun Ma," ujar Laras yang begitu terpukul melihat kondisi kedua orangtuanya. Padahal Laras baru saja mengetahui tentang kedua orangtua kandungnya, tapi Laras harus menerima kenyataan pahit tentang kematian Papa Dirga yang meninggal dalam pangkuannya.


Abi memanggil semua penjaga rumah dan Asisten rumah tangga untuk membantu memindahkan jenazah Papa Dirga, dan juga memindahkan Mama Lasmi ke dalam kamar.


"Sayang, yang sabar ya, Papa pasti bisa istirahat dengan tenang, karena Papa sudah bertemu dengan Anak kandung yang selalu ia rindukan, bahkan Papa mengembuskan nafas terakhir dalam pangkuan Bunda," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras.


"Kenapa Tuhan begitu cepat memanggil Papa? padahal kita baru saja mengetahui semua kebenarannya Yah."


"Sayang, ikhlaskan semuanya, karena sejatinya semua yang hidup pasti akan mati," ujar Abi dengan mengeratkan pelukannya kepada Laras, karena saat ini Laras begitu rapuh.


Abi beberapa kali mencoba menelpon Anya untuk memberitahukan kabar meninggalnya Papa Dirga, tapi handphone Anya tidak dapat dihubungi.


"Kenapa nomor Anya tidak dapat dihubungi? apa sekarang dia masih berada di Bali?" gumam Abi.


Saat ini jenazah Papa Dirga sudah dimandikan dan dishalatkan, dan suasana di kediaman Dirgantara ramai oleh para pelayat, bahkan banyak Wartawan yang datang untuk meliput berita meninggalnya salah satu Pengusaha kaya raya di Indonesia tersebut.


Mawar yang kebetulan sedang menonton berita, begitu terkejut ketika mendengar kabar meninggalnya Papa Dirga.


"Apa? tidak mungkin Om Dirga meninggal dunia, padahal baru kemarin kami bersama. Untung saja kemarin dia menolak ku saat aku mengajaknya ber*cinta, kalau sampai dia meninggal saat berhubungan ba*dan denganku, bisa-bisa perselingkuhanku dengannya akan terbongkar," gumam Mawar.


Rahman yang saat ini masih berada di Rumah Sakit, merasa terkejut juga dengan berita meninggalnya Papa Dirga, Rahman tidak percaya karena kemarin Papa Dirga terlihat sehat ketika datang menjenguk Anya dan Rahman.


Innalilahi..Padahal kemarin saat datang ke sini, Papa masih baik-baik saja, ucap Rahman dalam hati.

__ADS_1


Rahman bergegas mematikan Televisi ketika Anya yang saat ini tidur di sampingnya terlihat bangun.


"Mas, habis nonton apa sih? kok wajah Mas sampai pucat begitu?" tanya Anya.


Aku tidak mungkin mengatakan kepada Anya tentang berita meninggalnya Papa Dirga, karena Anya pasti akan merasa syok, dan aku tidak ingin kondisi kesehatan Anya semakin memburuk, batin Rahman.


"Mas, nyalain lagi televisinya, Anya pengen nonton."


"Sayang, televisinya rusak. Anya lihat sendiri kan televisinya gak nyala," ujar Rahman yang sudah menyembunyikan baterai remote televisi.


"Mas, Anya pengen pulang, perasaan Anya gak enak terus, bahkan Anya barusan mimpi Papa meninggal dunia."


"Sayang, kita masih belum bisa pulang sekarang. Kondisi kesehatan Anya masih belum stabil. Anya harus dirawat di sini dulu ya biar cepat sembuh."


"Mas janji ya gak bakalan ninggalin Anya? Anya takut sama semua orang jahat di sini. Mereka selalu saja memberikan suntikan kepada Anya. Padahal Anya kan tidak kenapa-napa."


"Iya sayang, Mas janji. Anya, mereka bukan orang jahat, mereka berusaha menyembuhkan penyakit Anya, dan Anya harus nurut saat mereka memberikan obat."


"Anya hanya akan nurut sama Mas Rahman," ujar Anya yang selalu merasa takut kepada siapa pun kecuali Rahman.


......................


"Pak, Ibu tidak salah dengar kan, jadi Laras adalah Anak orang kaya raya?"


"Iya Bu, Alhamdulillah ternyata Laras masih memiliki keluarga. Laras adalah Anak yang baik, dan setelah bercerai dengan Rahman, Laras akhirnya mendapatkan kebahagiaan juga. Sayangnya Papa kandung Laras keburu meninggal dunia."


"Kalau tau Laras Anak orang kaya, dulu Ibu tidak akan mendukung Rahman untuk berselingkuh dengan Mawar, apalagi Mawar adalah istri sekaligus Menantu durhaka. Ibu masih tidak menyangka ternyata Laras adalah Putri kandung Tuan Dirga, sedangkan Anya Menantu kita hanyalah Anak angkat saja."


"Astagfirullah Bu, kapan Ibu akan berubah? kenapa Ibu selalu menilai seseorang dari materi?"


"Pak, hidup itu butuh uang, membeli segala sesuatu juga harus pake uang, dan Ibu tidak mau menjadi orang munafik yang sok tidak membutuhkan uang."


"Bu, tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, termasuk cinta, kasih sayang dan kebahagiaan, karena uang bukanlah jaminan kebahagiaan."

__ADS_1


"Pak, kalau mau ceramah sana di Masjid, kuping Ibu selalu panas dengar ceramah Bapak."


"Astagfirullah Bu, Bapak hanya tidak ingin Ibu tertipu oleh hiasan dunia yang hanya akan menyesatkan kita," ujar Pak Syarif, tapi Bu Ida malah menutup kedua telinganya


......................


Mawar yang merasa geram karena rencananya untuk memalsukan hasil tes DNA Laras sudah tidak dapat ia lakukan lagi, sampai akhirnya Mawar membanting semua barang yang saat ini berada di hadapannya.


"Kenapa Laras selalu beruntung? Aku tidak rela jika Laras menjadi Anak orang kaya. Lihat saja Laras, aku akan mengambil semua yang kamu miliki," teriak Mawar.


......................


Laras terus mendampingi Mama Lasmi yang baru sadar dari pingsannya.


"Ma, kita harus ikhlas ya, supaya Papa beristirahat dengan tenang," ujar Laras.


"Iya Nak, Mama akan mencoba ikhlas melepaskan kepergian Papa. Mama beruntung karena masih memiliki kalian."


Abi yang tidak bisa menghubungi Anya akhirnya memutuskan untuk segera mengantarkan Jenazah Papa Dirga menuju tempat peristirahatan terakhirnya, tapi Abi meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Mama Lasmi dan Laras.


"Ma, Abi tidak dapat menghubungi Anya. Apa tidak sebaiknya kita segera memakamkan Papa? kasihan Papa kalau kita harus menunggu kedatangan Anya dulu."


"Iya Nak, sebaiknya sekarang kita mengantarkan Papa menuju tempat peristirahatan terakhirnya," ujar Mama Lasmi yang menyetujui usul Abi, begitu juga dengan Laras.


Abi melarang Laras dan Mama Lasmi supaya tidak ikut ke makam, tapi Laras dan Mama Lasmi bersikeras ingin ikut.


"Ma, Bunda, sebaiknya Mama sama Bunda tidak usah ikut ke makam ya, Abi takut kalian tidak akan kuat jika melihat prosesi pemakaman Papa."


"Nak, Mama akan berusaha untuk kuat, Mama ingin mengantar Papa menuju tempat peristirahatan terakhirnya."


"Iya Yah, Bunda juga ingin mengantar Papa."


Akhirnya Abi mengijinkan Laras dan Mama Lasmi untuk ikut, dan Abi terus mendampingi istri dan Mertuanya selama prosesi pemakaman berlangsung, karena Abi takut kalau Laras dan Mama Lasmi sampai kenapa-napa.

__ADS_1


Laras dan Mama Lasmi kembali menangis ketika melihat jenazah dimasukan ke dalam liang lahat, dan keduanya berpelukan untuk saling menguatkan.


Selamat jalan Papa, semoga Tuhan mengampuni semua dosa Papa, dan Papa bisa beristirahat dengan tenang, batin Laras.


__ADS_2