
Setelah acara pemakaman Papa Dirga selesai, semua yang menghadiri prosesi pemakaman satu persatu pamit pulang, tapi Laras dan Mama Lasmi terlihat enggan untuk pulang.
"Ma, Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang. Kita harus ikhlas melepas kepergian Papa," ujar Abi.
"Yah, tunggu sebentar ya, Bunda mau baca Surat Yasin dulu," ujar Laras.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita baca Surat Yasin dulu," ujar Abi, begitu juga dengan Mama Lasmi yang ikut mengaji di makam Suaminya.
Setelah selesai membaca Surat Yasin, Laras, Mama Lasmi dan Abi akhirnya pulang menuju kediaman Dirgantara untuk mempersiapkan acara tahlil.
Ketika sampai di kediaman Dirgantara, Laras begitu terkejut karena Bu Ida datang ke kediamannya, tapi bukan hanya Bu Ida saja yang datang, melainkan Mawar juga datang dengan kedok ingin mengucapkan bela sungkawa kepada Laras dan keluarga.
"Nak, Ibu sekeluarga turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Dirga," ucap Bu Ida, dengan memeluk tubuh Laras.
"Terimakasih banyak Bu, Ibu sudah repot-repot datang ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa," ujar Laras.
"Kak, Mawar juga turut berduka cita atas meninggalnya Om Dirga," ujar Mawar dengan berpura-pura menangis.
"Hapus airmata buaya kamu Mawar, apa kamu pikir kami akan percaya jika kamu tulus mengucapkan semua itu? Lagian sejak kapan kamu memanggil Istriku dengan sebutan Kakak? kamu tau kan kalau Istriku bukanlah Kakak kandungmu?" sindir Abi yang merasa geram dengan tingkah Mawar.
"Yah, sudah, tidak enak kalau kita ribut di depan para pelayat," bisik Laras mencoba untuk menenangkan Abi yang terlihat emosi dengan kedatangan Mawar.
"Nak, siapa mereka?" tanya Mama Lasmi yang tidak mengenal Bu Ida dan Mawar.
"Ini Neneknya Daffa Ma, kalau yang satu lagi namanya Mawar, yaitu Adik angkat Laras."
__ADS_1
"Senang bertemu Anda Nyonya," ujar Bu Ida dengan melakukan cipika cipiki kepada Mama Lasmi.
"Mari masuk Bu, Mari masuk juga Nak Mawar, saya juga senang bisa bertemu dengan Ibu dan Nak Mawar. Nak Mawar sama cantiknya ya dengan Larasati. Sudah berapa bulan kandungannya Nak?"
"Sudah jalan enam bulan Tante."
"Ma, jangan pernah tertipu dengan kecantikan fisik yang Mawar miliki, karena wajahnya tidak secantik hatinya, dan dia adalah Mawar berduri," sindir Abi, tapi Laras kembali mencoba menenangkan Abi dengan memeluk tubuhnya.
"Nak, Abi tidak boleh berbicara seperti itu, bagaimanapun juga Nak Mawar adalah Adik angkat Larasati. Semoga nanti persalinannya lancar ya Nak. Nak Mawar tidak perlu sungkan, kita adalah keluarga, panggil saja Tante dengan sebutan Mama" ujar Mama Lasmi yang belum mengetahui siapa Mawar sebenarnya.
"Terimakasih Ma, ternyata Mama baik sekali ya seperti Kak Laras," ujar Mawar dengan tersenyum palsu, dan Mawar sudah memiliki rencana licik untuk masuk ke dalam keluarga Dirgantara dengan cara menjilat Mama Lasmi, karena Mawar yakin jika Laras tidak akan berani mengatakan tentang siapa Mawar sebenarnya kepada Mama Lasmi.
Abi yang sudah tidak tahan dengan sandiwara Mawar, akhirnya kembali melontarkan sindiran untuk membongkar kedok Mawar.
"Iya kamu benar, Mama memang sangat baik seperti istriku, bahkan saking baiknya, dulu istriku sampai merelakan Suaminya untuk Pelakor seperti kamu," sindir Abi, dan Mama Lasmi langsung melepaskan pegangan tangannya kepada Mawar.
Sial, kenapa Abi malah membongkar semuanya, semoga Abi tidak membongkar perselingkuhanku dengan mendiang Om Dirga, batin Mawar yang sudah mulai ketakutan.
"Mama harus tau kalau Mawar adalah ular berbisa yang sudah tega menyakiti saudaranya sendiri, padahal dari kecil Laras yang sudah membesarkan Mawar dengan keringat serta kerja kerasnya, tapi dia tega merebut Ayahnya Daffa."
"Astagfirullah, Nak, apa benar Mawar seperti itu? kenapa dari tadi Laras tidak mengatakan semuanya kepada Mama? Tau begitu Mama tidak akan sudi menyentuh orang jahat seperti Mawar."
"Ma, itu semua hanya masalalu, dan Laras sudah ikhlas menerima takdir Laras. Mungkin itu adalah jalan supaya Laras bisa bersatu dengan Mas Abi, karena dibalik musibah selalu ada hikmah yang tersembunyi," ujar Laras, sehingga membuat Mama Lasmi merasa bangga.
"Mama bangga sama kamu sayang, Laras memiliki hati yang begitu mulia."
__ADS_1
"Ma, bukan hanya itu kejahatan yang sudah Mawar lakukan, tapi Mawar juga adalah se_" perkataan Abi terhenti karena Laras memotongnya.
"Yah sudah ya, kita tidak boleh terus-terusan membongkar aib seseorang, karena sama saja kita memakan bangkai saudara kita sendiri."
"Tapi Bunda_"
"Yah, Bunda mohon, semua ini Bunda lakukan demi Papa, kasihan mendiang Papa apabila kita membicarakan keburukannya selama hidup," bisik Laras pada telinga Abi, sehingga Abi hanya menghela napas panjang dan menuruti permintaan Laras.
Mama Lasmi yang merasa geram terhadap Mawar pun akhirnya mengusir Mawar dari kediaman Dirgantara.
"Mawar, apa wajah kamu begitu tebal sehingga kamu masih berada di sini? mungkin dulu Laras diam saja saat kamu berbuat jahat kepadanya, tapi sekarang Laras memiliki Ibu dan Suami yang akan selalu melindunginya. Jadi, sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini sebelum kesabaran saya habis !!"
"Bu, sebaiknya sekarang kita pulang dari sini, mereka adalah orang sombong yang tidak menghargai tamu," ujar Mawar kepada Bu Ida, dan Mawar merasa geram karena rencananya lagi-lagi gagal.
"Tapi Ibu masih kangen sama Daffa," ujar Bu Ida yang saat ini sedang menggendong Daffa.
"Ibu tidak usah berpura-pura menyayangi Daffa di depan orang-orang seperti mereka, lagian selama ini Ibu juga tidak pernah peduli sama Daffa, bahkan dulu Ibu mendukung Mawar untuk merebut Mas Rahman dari Laras."
Kenapa sih si Mawar malah membongkar kebusukan ku di depan Laras dan keluarganya, aku kan jadi sia-sia datang ke sini, karena pasti aku tidak akan mendapatkan apa-apa, batin Bu Ida yang rasanya tidak memiliki wajah lagi di depan keluarga Laras.
"Jadi ternyata Anda juga Mertua yang tidak punya hati? saya tidak mengira jika di Dunia ini ada orang jahat seperti kalian berdua. Sebaiknya kalian pergi dari sini, dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian di rumah kami lagi, karena saya tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti Anak saya," ujar Mama Lasmi dengan penuh penekanan.
Bu Ida akhirnya terpaksa ikut Mawar pulang ke Bogor, meski pun saat ini Bu Ida merasa geram kepada Mawar.
"Mawar, kenapa sih kamu pake bilang sama mereka kalau Ibu dulu jahat sama Laras? padahal Ibu kan sudah berubah."
__ADS_1
"Ibu berubah karena tau kalau Laras adalah orang kaya kan? enak saja Ibu ingin di cap baik di depan mereka, sedangkan Ibu membiarkan Mawar dihina oleh mereka. Kalau reputasi Mawar hancur, reputasi Ibu juga harus hancur, dan lebih baik kita hancur bersama-sama."
Dasar Menantu Durhaka, ingin sekali rasanya aku menjambak dan mencakar si Mawar, tapi saat ini aku tidak berdaya, karena aku nebeng di mobil yang dia sewa. Jangan sampai dia melempar aku ke luar dari dalam mobil, batin Bu Ida.